Pembiayaan Syariah 2018

Pembiayaan Syariah 2018

Artikel () 14 Desember 2018 17:42:12 WIB


Harian Bisnis Indonesia edisi 14 Desember 2018 dalam salah satu halamannya menulis berita dengan judul, “Tahun Berat Pembiayaan Syariah”. Di berita tersebut dijelaskan bahwa sepanjang 2018 industri pembiayaan Syariah mengalami kelesuan. OJK dan pelaku usaha pembiayaan Syariah mengamini beratnya tahun 2018 ini bagi pembiayaan Syariah. 

Dan ternyata, kelesuan yang terjadi pada 2018 sudah dialami pada 2017. Pada 2017 terjadi penurunan pembiayaan Syariah sebesar 9% dengan nominal 28,75 triliun rupiah. Angka di tahun sebelumnya adalah 31,37 triliun rupiah. 

Industri pembiyaan Syariah sempat mengalami kondisi yang baik ketika uang muka pembiayaan kendaraan bermotor untuk pembiayaan Syariah nilainya lebih kecil dari yang konvensional. Namun setahun kemudian kebijakan tersebut dicabut kembali oleh OJK. Sehingga kinerja pembiayaan Syariah juga turut mengalami imbasnya. 

Jika melihat kondisi tahun ini, penyaluran pembiayaan Syariah per September 2018 bernilai 21,75 triliun rupiah. Padahal di tahun lalu di periode yang sama angkanya ada di 31,99 triliun rupiah. Secara persentase turun sebesar 32,01%. Dan diduga untuk tahun ini sulit untuk mencapai angka 30 triliun rupiah. 

Membesarkan sebuah perusahaan pembiayaan Syariah memang tidak mudah. Dan menentukan model bisnis atau skema bisnis yang sesuai juga perlu kecermatan. Berbeda dengan perusahaan konvensional. Sebagai contoh, adira finance Syariah pada tahun lalu menyalurkan pembiayaan sebesar 5,47 triliun rupiah. Dan tahun ini turun menjadi 1,47 triliun rupiah. Terjadi penurunan sebesar 73,12%. 

Di Indonesia, ada 190 perusahaan pembiayaan, di mana 40 di antaranya memiliki unit Syariah. Bisnis Indonesia menyebut bahwa butuh waktu lama untuk mencari model bisnis yang cocok, pasar yang te[at, sehingga bisa bertumbuh. 

Dari uraian ini bisa dilihat bahwa animo masyarakat terhadap pembiayaan Syariah masih tidak sebesar pembiayaan konvensional. Dan perusahaan pembiayaan Syariah ternyata mesti mencari model bisnis yang cocok serta pasar yang tepat. Edukasi tentang pembiayaan Syariah perlu ditingkatkan lagi. 

Namun di luar masalah animo masyarakat,  boleh jadi ekonomi masyarakat memang sedang lesu atau mengalami penurunan daya beli, meskipun inflasi terkendali. 

Dan sebuah pertanyaan, apakah di wilayah yang masyarakatnya tetap memegang adat budaya dan agama permintaan pembiayaan Syariah berkorelasi positif? Sayangnya saya belum mendapatkan informasi atau data terkait. 

Referensi: Bisnis Indonesia, 14 Desember 2018

ilustrasi: freefoto.com