Kenapa Harus Bercerai, Kasian Dong Anak
Artikel Yal Aziz(Tenaga Artikel) 14 Desember 2018 15:05:17 WIB
BERDASARKAN data Pengadilan Agama (PA) Kota Padang, Sumatra Barat, dalam kurun waktu 2017, tercatat atau terdata angka peceraian 1.823 kasus. Dari angka tersebut, 75 persen atau 1.374 kasus merupakan gugatan cerai istri terhadap suaminya.
Jumlah ASN di Kota Padang relatif cukup banyak. Sebanyak 14 ribu pegawai tercatat di Pemerintah Kota Padang. Namun jumlah ASN dari tenaga guru dan bidan memang lebih banyak, mencapai 8 ribu
Perceraian di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kota Padang lebih didominasi kepada guru dan bidan. Hal ini terjadi karena berbagai faktor. Salah satunya karena ingin hidup lebih layak.
Berbagai alasan pengajuan cerai yang diungkapkan ASN Kota Padang. Salah satunya yakni ingin hidup lebih layak. Dari fakta tersebut, ada pengaruh kepada peningkatan ekonomi dan mengubah situasi kehidupan.
Dari data yang banyak mengajukan perceraian, kebanyakan guru dan bidan. Alasannya diisebabkan karena pasangan mereka tidak mampu menandingi penghasilan pasangannya. Sisi lain, mereka ingin mengangkat taraf hidup lebih baik karena semakin tingginya tekanan ekonomi. Jadi, bisa dikatakan ketimpangan penghasilan inilah yang akhirnya membuat ASN tersebut memilih jalan cerai.
Namun begitu, Pemko Padang tak serta merta mengizinkan perceraian terjadi. Pemko Padang justru terlebih dahulu memediasi ASN tersebut. Caranya dengan memberikan tausyiah kepada ASN yang mengajukan cerai. Setelah ditausyiah umumnya banyak yang ingin berbaikan lagi, namun tak jarang yang kembali mengajukan cerai setelah itu.
Kemudian, ada yang menarik dikaji dari penjelasan Walikota Padang H. Mahyeldi Dt Marajo yang mengakui angka perceraian di Kota Padang cukup tinggi. Persoalan ini, kata walikota mengindikasikan harmonisasi di rumahtangga perlu penguatan. Alasannya dalam rumahtangga dibutuhkan kerjasama yang baik antara istri, suami dan anak-anak. Intinya, sendiri-sendiri tak akan mungkin berhasil, keberhasilan diraih bila bersama.
Kunci keberhasilan dalam rumahtangga bukanlah materi. Akan tetapi berhasilnya rumahtangga ditandai dengan cara menyelesaikan suatu masalah. Intinya, komunikasi yang baik dan efektif.
Bertitik tolak dengan fakta angka perceraian tersebut, tak ada salahnya juga para ASN, terutama para guru dan bidan untuk mereungkan kembali hakikat hidup berumah tangga. Kenapa? Karena kebahagian berumah tangga tak selalu didominasi masalah harta dan tahta.
Dalam masalah perceraian ini, ada baiknya kita ikuti reaksi anak pada perceraian orang tuanya. Adakalnya reaksi anak memunculkan sisi negatif dibandingkan positifnya. Apalagi jika memang kondisi keluarga sebelum perceraian memang tidak baik, tentunya akan berdampak buruk bagi perkembangan psikologis anak.
Apalagi kebutuhan kasih sayang dan kehangatan keluarga adalah hal yang penting untuk perkembangan anak, jika ini tidak di dapatkannya maka saat bernajak dewasa nantinya secara tidak langsung mempengaruhi kepribadiannya. Nah berikut ini ada beberapa dampak perceraian yang sering terjadi terhadap psikologi anak.
Saat perceraian terjadi, ada beberapa hal yang dapat terjadi pada psikologi anak antara lain adalah:1, Rasa tidak aman atau insecurity,2. Perasaan sedih yang mendalam karena kedua orang tu harus berpisah, 3.Rasa kesepian, 4. Merasa kehilangan, 5. Menyendiri dan menyalahkan diri sendiri yang menyebabkan perceraian kedua orang tuanya terjadi.
Perasaan-perasaan tersebutlah yang nantinya dapat menyebabkan perubahan pada kondisi kepribadiannya saat anak menginjak usia dewasa. Mereka akan terus merasa untuk takut gagal, takut menjalin kedekatan dengan orang lain, Sering membayangkan jika orang tuanya dapat bersatu kembali, bahkan hingga lebih senang menyendiri di lingkungan sosialnya. Selain itu, dampak lainnya juga dapat terjadi yaitu anak akan menjadi lebih kasar, bertindak agresif, sering mengamuk, bahkan hingga membenci salah satu ataupun kedua orang tuanya.
Dampak lainnya yang terjadi juga dapat dirasakan pada akademiknya, anak menjadi tidak minat untuk sekolah sehingga prestasi akademik semakin menurun dan jarang bisa berkosentrasi saat menerima pelajaran di sekolah.
Jadi kini, sebelum terjadi perceraian, pikirkan juga masalah psikologis anak dalam menatap masa depan yang banyak rintangan. Anak adalah buah hati atau buah cinta. Jika terjadi masalah dalam rumah tangga, sebaiknya minta petunjuk dari Allah dan jangan dengan tetangga atau sesama teman sama bekerja. Cara mminta petunjuk dengan Allah, shalat istiqarah dan dilengkapi dengan shalat tahajud dan minta petunjuklah kepada Allah. Yang jelas setiap perceraian akan berdampak psikologi kepada anak. Jangan rusak masa depan anak dengan oerceraian. Semoga. (penulis wartawan tabloidbijak.com)