DAHSYATNYA REUNI 212

Artikel Zakiah(Tenaga Artikel) 11 Desember 2018 08:02:36 WIB


DAHSYATNYA REUNI 212 TAHUN 2018 DI MONAS JAKARTA
Kalau kita bisa melihat reuni 212 dengan pikiran positif, atau di dalam hati kita tidak ada penyakit, maka kita akan setuju bahwa reuni ini :
*  Ajang wisata religi bagi umat Islam.
* Ajang latihan kedisiplinan, disiplin waktu, menjaga kebersihan, kerjasama, bersedekah, 
    sopan santun, menghormati pemeluk  agama  lain dsb.
* Ajang menjaga keistiqomahan pada Allah, agama dan prinsip yang dipegang. , tidak 
   mudah terhasut baik oleh saudara seagama,maupun pihak lain. 
* Ajang sumbangan umat Islam untuk perekonomian negara. Tiket kereta, bus,     
   pesawat laris. Pedagang kaki lima jualannya ludes. 
* Ajang melatih kesantunan. Orang pesta di gereja aman, umat nasrani ikut hadir aman. 
Yg bikin rusuh di waktu lalu itu malah provokator dari luar. Jadi tak ada alasan untuk takut pada kegiatan-kegiatan umat Islam yang mendapat izin resmi. Karena umat Islam itu taat aturan, tidak curang, santun, agama Islam mengajarkan semua kebaikan itu. 
Yang cemas, yang takut,  itu orang yang berpenyakit di hatinya.
Kemarin ada yang bilang kalau yang berkumpul di monas hari ini dibayar 100 ribu per orang. Lalu kemudian berubah tuduhannya menjadi 2 juta per orang karena melihat "profil" peserta yang bermobil bahkan menginap di hotel. Benarkah?  
Saya jadi teringat kisah Ustman bin Affan yang lebih memilih perdagangan dengan Allah daripada perdagangan dengan manusia. Orang yang memiliki orientasi akhirat, dia tidak akan silau terhadap dunia meski dunia membayarnya berkali lipat. Karena Allah tujuannya dan Allah lah yang membayarnya puluhan bahkan ratusan kali lipat.
Kembali pada kisah Ustman bin Affan ra, saat itu pada masa Khalifah Abu Bakar As-Siddiq ra, kaum Muslimin dilanda kemarau dahsyat. Mereka mendatangi Khalifah Abu Bakar dan berkata, "Wahai khalifah Rasulullah, langit tidak menurunkan hujan dan bumi kering tidak menumbuhkan tanaman, dan orang meramalkan datangnya bencana, maka apa yang harus kita lakukan?” 
Abu Bakar ra. menjawab : "Pergilah dan sabarlah. Aku berharap sebelum tiba malam hari Allah akan meringankan kesulitan kalian".
Pada petang harinya dari Syam ada sebuah kafilah dengan seribu unta mengangkut gandum, minyak dan kismis. Unta itu lalu berhenti di depan rumah Ustman, lalu mereka menurunkan muatannya. Tidak lama kemudian pedagang datang menemui Ustman, si pedagang kaya, dengan maksud ingin membeli barang itu. 
Lalu Ustman berkata kepada mereka : "Dengan segala senang hati. Berapa banyak keuntungan yang akan kalian berikan?” 
Mereka jawab : "Dua kali lipat" 
Ustman menjawab : "Wah sayang, Sudah ada penawaran lebih".
Pedagang itu kemudian menawarkan empat sampai lima kali lipat, tetapi Ustman menolak dengan alasan sudah ada penawar yang akan memberi lebih banyak. 
Pedagang menjadi bingung lalu berkata lagi pada Ustman : "Wahai Ustman, di Madinah tidak ada pedagang selain kami, dan tidak ada yang mendahului kami dalam penawaran. Siapa yang berani memberi lebih?" Ustman menjawab : ”Allah SWT memberi kepadaku 10 kali lipat, apakah kalian dapat memberi lebih dari itu?" 
Mereka serentak menjawab : "Tidak!" 
Ustman berkata lagi : "Aku menjadikan Allah sebagai saksi bahwa seluruh yang dibawa kafilah itu adalah sedekah kerana Allah, untuk fakir miskin daripada kaum muslimin".
Petang hari itu juga Ustman ra. membagi-bagikan seluruh makanan yang dibawa unta tadi kepada setiap fakir dan miskin. Mereka semua mendapat bagian yang cukup untuk keperluan keluarganya masing-masing dalam jangka waktu yang lama. 
Jadi, siapa yang mampu membayar kaum muslimin yang berikhtiar membela kehormatan agamanya?
Saudara, penyakit kaum muslimin sejak dulu adalah "persatuan". Sekalinya bersatu insyaallah tidak ada kekuatan yang mampu mengalahkan meskipun jumlahnya tidaklah banyak. Itulah sebabnya kekuatan barat, kafirun dan munafiqun selalu berusaha agar kaum muslimin dan bangsa muslim agar mereka bercerai berai dan bertikai diantaranya.
Gubernur DKI Jakarta, Anis Baswedan, menuliskan pengamatannya dalam sebuah narasi yakni:
Sebuah gelombang pembawa rezeki bagi yang kecil. Sejak semalam, kehadiran begitu banyaknya orang di kawasan monas ini telah mengirimkan rezeki ke ruang-ruang keluarga amat sederhana, ekonomi mikro di Ibukota.
Ribuan pedagang makanan, minuman dan dagangan sederhana lainnya mendapatkan berkah dari kegiatan sejak semalam hingga pagi ini di sepanjang area luar pagar Kawasan Monas.
Mengharukan melihatnya. Saat mereka yang datang dari berbagai kota, yang jauh hitungan kilometernya dari Ibukota, membeli makanan, minuman atau dagangan lalu mengatakan, “uang kembaliannya dipegang saja.” 
Si penjual tersenyum, mengepal lembaran uangnya ke dada lalu mengucapkan alhamdulillah. Itulah tranksasi dalam ikhlas, itulah suasana penuh berkah. Mata siapa tak membasah menyaksikan orang tak saling kenal tapi saling mengasihi, saling membantu.
Ya, di tempat ini, mereka tak cuma bertransaksi ekonomi, tak hitung-hitungan lagi, semua seakan ingin menambah tabungan pahala, dan menghidupkan persaudaraan.
Tuduhan Makar? 
Sekitar 10 juta orang berjarak beberapa meter dari istana. Istana kesayangan kita masih berdiri, rumput aja dijaga apalagi istana kebanggaan.
Tuduhan Bendera Tauhid?
Berkibar bersama sangsaka merah putih, persis seperti jaman perjuangan. Simbol Nasionalisme adalah bagian dari keimanan.
Tuduhan Intoleran?
Tak ada ujaran kebencian sedikitpun dari orasi terhadap keyakinan saudaranya yang berbeda.
Tuduhan Anti NKRI?
Naikkan volume anda dengar lagu apa yang dinyanyikan dengan penuh cinta. Jikapun saat ini tiba-tiba  ada yg menyerang Indonesia. Mereka inilah yang ada paling depan membela tanah airnya, karena yang hadir disini pun ga takut dengan dunia.
Tidak pernah ada seorang pun atau organisasi apapun yang mampu melakukan hal yang sama dimanapun, karena memang bukan itu alasan mereka berkumpul.
Berlomba bersedekah. Berlomba menafkahkan uangnya untuk ummat. Berlomba patungan untuk logistik konsumsi, bis, tiket pesawat dll.
Orang terkaya di Indonesia bersatu sekalipun dia keluarkan semua hartanya ga akan mampu menandingi kemampuan ukhuwah ini.
Masya Allah, aliran rezeki dari begitu banyak orang hadir di Monas minggu pagi tanggal 2 Desember 2018 ini telah bermuara di rakyat kecil, pedagang kecil, di ruang sempit rumah tangga mereka. Semoga ini semua mengantarkan pada kesejahteraan, kemajuan dan kebahagian dalam ridho Allah SWT.
Subhanallah... acara reuni 212 ini bukan hanya memberikan aura positif.. Tapi juga membuka pintu rejeki, membuka pintu sedekah, dan semoga membuka pintu pahala bagi semua. Semoga kegiatan yang penuh berkah ini akan membuka cakrawala baru bagi negeri tercinta ini. Semoga kedamaian akan terus terjadi hingga bumi ini selesai melaksanakan tugasnya. Damailah Indonesiaku. Damailah Negeriku. Jayalah bangsaku... Jayalah agamaku. Islam rahmatan lil'alamiin..