Benarkah Pintu Rezeki Hanya 10?

Benarkah Pintu Rezeki Hanya 10?

Artikel () 23 Desember 2017 14:48:16 WIB


Mungkin pembaca pernah ada yang dengar tentang sebuah hadis yang menjelaskan tentang pintu rezeki. Di hadis itu disebutkan bahwa sembilan dari 10 pintu rezeki adalah berdagang. Hadis ini sering dijadikan pegangan bagi orang yang menekuni dunia usaha atau wiraswasta. Bahkan sekolah-sekolah dasar ada yang menjadikan hadis ini sebagai patokan untuk mengajarkan muridnya berdagang atau berwirausaha.

Bunyi hadis tersebut adalah sebagai berikut:  

“Sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada dalam perdagangan.“

“Hendaklah kalian berdagang karena berdagang merupakan sembilan dari sepuluh pintu rezeki.”

Hadis tentang sembilan pintu rezeki yang diperooleh dari berdagang itu adalah hadis lemah. Sementara hadis yang menerangkan keutamaan berdagang justru merupakan hadis sahih, seperti berikut ini:

“Orang yang bertransaksi jual beli masing-masing memilki hak khiyar (membatalkan atau melanjutkan transaksi) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan terbuka, maka keduanya akan mendapatkan keberkahan dalam jual beli, tapi jika keduanya berdusta dan tidak terbuka, maka keberkahan jual beli antara keduanya akan hilang” (Muttafaqun ‘alaih)

“Sebaik-baik pekerjaan adalah pekerjaan seorang pria dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur.” (HR. Ahmad, Al-Bazzar, Ath-Thabrani dan selainnya, dari Ibnu ‘Umar, Rafi’ bin Khudaij, Abu Burdah bin Niyar dan selainnya).

Jika kita coba renungkan lagi, rasanya agak sulit menerima dengan akal bahwa sembilan dari 10 pintu rezeki adalah berdagang. Kenapa demikian? Karena jika kita coba lihat sekolah zaman sekarang, perlakuan terhadap murid ketika terima rapor belajar tidak menjadikan ranking sebagai sebuah prestasi murid. Bahkan guru atau sekolah menyebut bahwa setiap anak adalah luar biasa, atau mereka punya potensi dan keunggulan masing-masing. Maka logikanya, jika setiap anak saja luar biasa dan punya potensi serta keunggulan masing-masing mana mungkin harus menjadikan semua anak atau hampir semua anak di dunia ini menjadi pedagang.

Jika sumber rezeki hanya berdagang, maka orang akan malas menjadi pegawai yang memulai karir dari bawah hingga bisa mencapai posisi puncak. Jika sumber rezeki hanya berdagang, maka berbagai posisi pekerjaan dari petugas kebersihan hingga presiden akan ditinggalkan orang. Kenyataannya justru sebaliknya. Kini lulusan perguruan tinggi berlomba untuk menjadi pegawai negeri sipil. Seolah-olah cuma itu saja peluang untuk mendapatkan rezeki.   Atau mereka harus melamar pekerjaan di perusahaan swasta. Meskipun sebagian juga banyak yang mencoba menjadi pedagang atau wiraswasta.

Yang luput dari perhatian banyak orang adalah kembali merujuk hadis sahih yang menerangkan tentang keutamaan berdagang atau menjaga integritas diri dalam berdagang, seperti yang sudah dituliskan sebelumnya.

Di dalam hadis tersebut didapati karakter yang harus dipenuhi dalam berdagang atau bermuamalah, yaitu jujur dan terbuka. Di mana ada keterangannya bahwa selama pedagang dan pembeli jujur dan terbuka maka akan dapat berkah. Berkah ini adalah pemberian Allah SWT yang sangat berharga nilainya. Setiap rezeki yang berkah akan menjadikan manusia selamat hidupnya.

Sebaliknya, ada karakter dusta dan tidak terbuka yang juga di sebut di hadis sahih tersebut yang mengindikasikan hilangnya keberkahan. Sekaligus menerangkan bahwa sangat dimungkinkan seseorang dalam berdagang atau bermuamalah melakukan dusta dan tidak terbuka kepada klien, nasabah atau pembelinya. Dan ini menyebabkan berkah hilang, meskipun uang didapat.

Sementara di hadis kedua disebutkan tentang pekerjaan seorang lelaki, di mana sebaik-baik pekerjaan adalah dengan tangannya. Ini juga menerangkan bahwa sangat mungkin dan juga sudah banyak terjadi lelaki yang seharusnya menangani pekerjaannya justru dikerjakan oleh orang lain dengan cara membohongo orang lain agar dia bersedia mengerjakan pekerjaan lelaki tersebut, dan juga mungkin dengan mengancam orang lain.

Di kantor-kantor atau tempat lainnya, sudah lazim jika pekerjaan seseorang sering dikerjakan oleh orang lain dengan cara menipu atau membohongi orang lain. Kemudian lelaki yang membohongi orang lain tersebut ketika tiba di rumah tersenyum kepada anak dan istrinya seolah dia baru pulang dari kerja berat. Hal semacam ini selain membohongi diri sendiri, membohongi istri dan anak, juga akan mendatangkan musibah suatu saat kelak. Dan ketika musibah itu datang lelaki tersebut bingung, seolah dirinya tidak pernah melakukan kezaliman selama ini. Bahkan Allah SWT pun ia lawan dengan cara tidak mau meminta ampun. Sungguh suatu kondisi yang justru membawa dampak buruk kepada diri lelaki tersebut dan juga orang dekatnya.

Sementara jika kita melihat bagaimana Rasulullah SAW berniaga dan bermuamalah sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul, integritasnya dalam berdagang disenangi pembeli. Bahkan Khadijah pun terpesona dengan karakter Rasulullah SAW saat itu. Di luar masalah perdagangan, Rasulullah SAW juga dipercaya dalam menjaga barang titipan warga kota Mekah hingga dijuluki Al Amin. Ini menandakan bahwa integritas seorang muslim tidak hanya ketika berdagang, tetapi juga dalam urusan lain sudah sepantasnya ada juga.

Dengan demikian sumber rezeki sesungguhnya didapat dari integritas seseorang dalam berusaha maupun bekerja. Karena sudah dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW. Dan untuk itu, karena setiap murid luar biasa dan punya potensi masing-masing, maka mereka kelak akan mendapatkan rezekinya dari berbagai macam jenis pekerjaan maupun profesi. Ada yang sesuai dengan potensi dirinya, dan ada juga yang sesuai dengan latar pendidikannya. Dan yang terpenting adalah integritas, karena di situ ada keberkahan yang Allah SWT turunkan kepada hambaNya. (efs)   

ilustrasi: freefoto.com