Daya Beli melemah atau Keinginan Menyimpan Tinggi?
Artikel () 28 November 2017 17:38:30 WIB
Harian Bisnis Indonesia edisi 24/11/17 pada halaman 14 memuat berita berjudul “Belanja Masyarakat: Ketika Investasi Lebih Dipilih”. Di berita ini dijelaskan tentang hasil survei Schroders Global Investor Study yang menyatakan bahwa 21 persen masyarakat Indonesia memilih menggunakan disposable income mereka di tahun mendatang untuk investasi.
Disposable income adalah pendapatan individu yang siapa digunakan untuk membeli barang dan jasa konsumsi, dan selebihnya ditabung atau diinvestasikan. Jika melihat hasil survei untuk Indonesia dalam penggunaan disposable income di tahun 2018 selain yang sudah disebut di atas, 21 persen masyarakat akan berinvestasi di properti atau membeli properti untuk investasi, 19 persen berinvestasi di bisnis sendiri, 14 persen investasi untuk pensiun, 12 persen menyimpan di rekening tabungan, 4 persen membelanjakan untuk kemewahan, 4 persen memberikan kepada badan amal, 3 persen melunasi hutang dan 2 persen menyimpan uang tunai di rumah.
Jika dibandingkan dengan hasil survey untuk Asia, hasilnya adalah sebagai berikut. 32 persen investasi pada pasar saham, obligasi komoditas, 16 persen simpan di rekening tabungan bank, 13 persen investasi di properti atau membeli properti, 9 persen investasi untuk pensiun, 8 persen investasi di bisnis sendiri, 7 persen membelanjakan kemewahan, 5 persen melunasi hutang, 3 persen menyimpan uang tunai di rumah, 3 persen memberikan uang untuk badan amal, 3 persen dan lain-lain.
Kemudian jika dibandingkan dengan hasil survey global, hasilnya adalah sebagai berikut: 23 persen investasi pada pasar saham, obligasi komoditas, 16 persen simpan di rekening tabungan bank, 13 persen investasi di properti atau membeli properti, 11 persen membelanjakan kemewahan, 10 persen investasi untuk pensiun, 9 persen melunasi hutang, 8 persen investasi di bisnis sendiri, 4 persen menyimpan uang tunai di rumah, 4 persen memberikan kepada badan amal, 3 persen dan lain lain.
Dari paparan hasil survei tersebut bisa dilihat bahwa saat ini kecenderungan orang di Indonesia untuk menginvestasikan uangnya cukup tinggi. Jika melihat hasil survey indonesia, total mencapai 89 persen berkeinginan mengelola uangnya untuk investasi atau disimpan, bukan dikonsumsi. Sisanya sebesar 4 persen mempergunakan untuk kemewahan, 4 persen memberikan kepada badan amal, dan 3 persen melunasi hutang.
Sementara jika dibandingkan dengan hasil survey untuk Asia, total 84 persen berkeiniginan mengelola uangnya untuk investasi atau disimpan. Jika dibandingkan antara orang Indonesia dengan orang Asia dan masyarakat global, orang Indonesia lebih banyak yang menginginkan mengelola uangnya untuk diinvestasikan atau disimpan yaitu 89 persen (Indonesia) dibanding 84 persen (Asia) dan 74 persen (Global).
Hal ini mungkin bisa menjelaskan mengapa dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik yaitu kisaran 5 persen ternyata daya beli melemah. Ternyata lebih banyak orang yang ingin menggunakan uangnya untuk investasi atau disimpan, bukan untuk konsumsi.
Selain itu juga bisa dilihat bahwa hanya 4 persen orang Indonesia yang ingin menggunakan disposable income nya untuk kemewahan. Hal ini menjelaskan bahwa meskipun dalam kehidupan riil terlihat seolah-olah orang Indonesia banyak yang hobi bermewah-mewah ternyata dalam hasil survey jumlahnya cuma sedikit, bukan mayoritas. Bahkan sebanding jumlahnya dengan orang yang ingin memberikan uangnya kepada badan amal (4 persen).
Di sisi lain, budaya konsumtif yang sudah terlanjur dianggap berkembang di masyarakat, ternyata jika melihat hasil survey tidaklah demikian, orang tetap ingin menggunakan uangnya untuk sesuatu yang penting, prioritas dan bermakna. Saat ini jumlah kelas menengah di Indonesia kian bertambah, yang artinya semakin banyak penduduk yang memiliki rasionalitas dalam penggunaan uang. Hal ini positif. Jika kita lihat lagi hasil survey, 14 persen menggunakan uangnya untuk pensiun. Dan ini juga angka tertinggi dibanding Asia (9 persen) dan Global (10 persen). Ini sebuah indikator menarik yang menjelaskan bahwa ternyata orang Indonesia memiliki antisipasi menghadapi usia pensiun.
Mungkin ada yang mempertanyakan apakah survey ini memang menggambarkan riil kondisi masyarakat Indonesia. Dengan berbasis berita yang saya baca di Bisnis Indonesia edisi 24 November 2017 nampaknya bisa dijadikan bahan telaahan yang lebih mendalam lagi. Karena dari semua hasil survey baik Indonesia, Asia, maupun global terlihat adanya opsi investasi pada pasar saham dan obligasi komoditas. Sedangkan masyarakat Indonesia sepertinya masih belum familiar dengan hal ini. Terlebih lagi survey dilakukan oleh Schroders Global Investor Study yang menjelaskan bahwa kemungkinan survey ini dilakukan dalam lingkup yang terbatas.
Namun demikian hasil survey ini tetap memperlihatkan gambaran bahwa para pemilik uang masih rasional menggunakan dananya. Memang ada yang menggunakan untuk kemewahan, namun bukan mayoritas. Dan karena yang disurvey ini kemungkinan adalah mereka yang memiliki kemampuan konsumsi/belanja/membeli cukup baik, maka sangat mungkin jika melemahnya daya beli dilakukan oleh para pemiliki uang tersebut yang memilih opsi lain karena dipandang lebih prioritas atau bermanfaat untuk ke depannya. (efs)
Referensi: Bisnis Indonesia 24 November 2017
ilustrasi: freefoto.com