Uang, Kebahagiaan dan Sedekah
Artikel () 18 November 2017 18:05:00 WIB
Sebuah tulisan dari J Seno Aditya Utama di Tabloid Kontan edisi 30 Oktober – 5 November 2017 yang berjudul “Uang dan Kebahagiaan: Budaya Memberi” menarik perhatian saya. Dalam tulisan ini Seno menyampaikan bagaimana peran uang dalam hidup dan beberapa temuan peneliti terkait uang. Dan lebih menarik lagi ketika uang dihubungkan dengan kebahagiaan.
Seno mengutip hasil riset sebagai berikut:
- Ada hubungan antara tingkat pendapatan dan kepuasan hidup, namun rendah (Diener & Biswas-Diener, 2002).
- Pendapatan yang tinggi berhubungan dengan kepuasan hati yang baik merupakan ilusi. (Kahneman, 2006).
- Menggunakan uang untuk kepentingan kesejahteraan orang lain adalah satu di antara beragam cara agar uang mendatangkan kebahagiaan (prosocial spending). Bentuknya beragam seperti memberi uang pada acara keagamaan, membayari teman makn siang, memberi uang pada peminta-minta, memberikan uang lewat lembaga sosial (Dunn dkk, 2014).
- Memberi mendatangkan kebahagiaan karena dengan memberi maka kebutuhan kita terpenuhi.Kebutuhan dasar manusia adalah keterhubungan dengan orang lain (relatedness), kompetensi diri (competence) dan kebebasan menentukan pilihan (autonomy) (Dunn dkk, 2014).
- Penelitian di 136 negara, pengeluaran prososial berhubungan erat dengan kebahagiaan, terlepas dari tingkat pendapatan, dukungan sosial, persepsi kebebasan maupun persepsi tentang korupsi. (Akin dkk, 2013).
Selain itu Seno juga mengutip laporan World Happines Index 2017 yang dilakukan di 155 negara. Di sini disebutkan bahwa Norwegia ada di peringkat 1 dan Indonesia ada di urutan ke-81.
Seno menjelaskan bahwa survei World Happines Index ini menjadikan generosity atau derma uang sebagai salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kebahagiaan.
Dan menurut hasil survey World Giving Index 2017 Indonesia ada di kategori tinggi. Ada di urutan kedua (60%) setelah Myanmar (65%). Survey ini mengungkap tiga faktor perilaku memberi yaitu menolong orang asing, derma uang dan menggunakan waktu sebagai sukarelawan. Temuan survey tersebut juga memperlihatkan bahwa lima tertinggi yang ada di urutan index tersebut ternyata bukan negara maju, yaitu Myanmar, Indonesia, Malta, Islandia, dan Thailand. Tahun sebelumnya Indonesia tidak memasuki lima besar, tetapi 10 besar (lima tahun). Namun tahun 2017 ini mempelihatkan perubahan yang drastis.
Melihat apa yang dipaparkan oleh Seno, maka hal ini (derma, kebahagiaan) sudah diajarkan dalam Islam. Dalam konteks kekinian, sosok yang mengajak orang untuk bersedekah adalah Yusu Mansur. Yusuf Mansur lebih banyak bicara tentang ajakan sedekah dan memaparkan dampak sedekah yang sudah dirasakan banyak orang. Dan dari ceramah Yusuf Mansur tersebut sudah banyak orang yang melakukan sedekah dan dibalas sedekahnya itu dengan balasan yang jauh lebih baik.
Para motivator yang juga pebisnis/pedagang juga menganggap bahwa sedekah sangat bermanfaat kepada usaha seseorang dan kondisi seseorang. Mereka gencar menyampaikan manfaat sedekah atau berbagi karena percaya dengan janji Allah SWT dan Rasulullah SAW.
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan memperlipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepadaNyalah kamu dikembalikan.” (QS. Al Baqarah: 245).
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (QS Al. Baqarah: 261).
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (QS. Al Hadid: 18).
“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi)
“Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim)
Dan masih ada lagi dalil yang berupa ayat Alquran dan Hadis yang belum saya cantumkan di sini. Intinya, dengan sedekah Allah akan membalas berlipat ganda. Sedekah dapat menghapus dosa. Sedekah juga tidak mengurangi harta.
Dengan bukti-bukti yang sudah dikisahkan oleh para pelaku sedekah dan juga hasil riset dan survei yang saya paparkan di paragraf sebelumnya, nampak bahwa uang, bahagia dan sedekah memiliki hubungan erat.
Dalam ajaran Islam, uang atau rezeki adalah pemberian Allah SWT. Dan dalam salah satu ayat yang saya kutip di atas Allah SWT lah yang menyempitkan dan melapangkan rezeki seseorang. Dan ajaibnya, orang yang uangnya disedekahkan selama ini tidak ada yang mengeluh bangkrut. Memang ada waktu yang harus dilewati karena kapan balasan dari sedekah itu didapat hanya Allah SWT saja yang tahu.
Adanya kebiasaan orang Indonesia yang senang berderma atau bersedekah adalah sebuah pertanda baik bahwa bangsa ini masih punya modal sosial untuk hidup sebagai bangsa dan untuk tetap menjaga persatuan. Karena derma yang diberi tidak pandang suku, agama, ras dan asal usul.
Uang memang penting untuk hidup. Bahagia juga merupakan kebutuhan. Dan sedekah atau derma adalah jalan untuk meningkatkan kebahagiaan. Sebuah siklus kebahagiaan ternyata akan terus memberi dampak positif. Punya uang, berderma/sedekah, lalu merasakan kebahagiaan, dan juga mendapat balasan berlipat ganda. Lalu sedekah lagi, bahagia, mendapat balasan lagi. Lingkaran kebahagiaan yang seharusnya menjadi miliki semua orang. Sehingga mereka jauh dari lingkaran setan penderitaan, lingkaran kemiskinan, lingkaran kejahatan. (efs)
Referensi: Tabloid Kontan, 30 Oktober – 5 November 2017
Ilustrasi: freefoto.com