Pemberdayaaan Ekonomi Masyarakat Miskin Perkotaan (Urban Poverty) (Perspektif Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat)
Artikel EKO KURNIAWAN, S.Kom(Diskominfo) 10 Februari 2017 13:02:34 WIB
Oleh : Wakidul kohar
Pendahuluan
Realitas menunjukkan bahwa masyarakat yang hidup digaris kemiskinan dapat dipastikan tidak memiliki sarana sebagai salah satu penunjang kesejahteraan dan kebahagiaan. Sarana memang bukan segalanya, namun segalanya memerlukan sarana dalam rangka mencapai kesejahteraaan. Untuk mencapai tujuan kesejahteraan tersebut, maka diperlukan permberdayaan ekomoni bagi masyakat miskin, sehingga mampu mandiri dalam menunjang kesejahteraan hidup.
Masyarakat miskin di Indonesia secara data statistis belum menunjukkan angga yang mengembirakan, dalam arti angka kemiskinan masih merupakan fenomena sosial secara umum. Fenomena ini terdapat pada masyarakat muslim maupun non muslim. Kemiskinan tidak tercipta secara sendiri, namun sangat terkait dengan unsur yang lain yaitu aspek sosial ekonomi.
Konsep tentang kemiskinan memang sangat ekonomik, dalam arti masyarakat yang dikatakan miskin, ketika mereka tidak mampu secara finansial. Namun apapun konsepnya, kemiskinan tetap menjadi masalah bagi Indonesia dan negara miskin lainya. Kondisi inilah Indonesia bersama 189 negara membuat kesepahaman untuk mengubah dunia menjadi lebih ideal.
Walau sebenarnya tidak gampang mendefinisikan kata ‘kemiskinan’. Siapa yang semestinya memberi definisi ‘kemiskinan’ Di tengah sulitnya mendefinisikan kemiskinan, pendapat umum menyatakan bahwa kemiskinan adalah ketidakmampuan atau ketidakberdayaan untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar untuk mencapai kebahagiaan. Meskipun pendapat tersebut sudah diterima secara luas, namun masih sangat sulit dan sangat subjektif sifatnya untuk menentukan kebutuhan dasar manusia dan bagaimana cara memenuhi kebutuhan tersebut. Apakah setelah kebutuhan dasar tersebut terpenuhi, maka dapat dikatakan seseorang telah bahagia atau sejahtera. Akibat multi tafsir tentang kemiskinan tersebut, maka masing masing kelompok atau komunitas akademik dapat menentukan definisi kemiskinan.
Sisi lain adalah tentang dari diskursus kemiskinan adalah masyarakat miskin di perkotaan atau urban poverty, Setidaknya terdapat tiga hal pokok, pertama, bagaimana dan oleh siapa kemiskinan perkotaan didefinisikan, serta bagaimana mengukur tingkat kemiskinan tersebut. Kedua adalah apa perbedaan kemiskinan perkotaan dengan kemiskinan secara umum, apa bedanya dengan kemiskinan di perdesaan. Ketiga bagaimana penanggulangannya.
Dilihat dari sudut pandang geografis dan dari sisi ekonomi, antara tahun 1980an hingga 1990an, peningkatan kemiskinan terjadi secara drastis di wilayah perkotaan. Peningkatan kemiskinan di perkotaan terjadi akibat tingginya angka urbanisasi. Dalam dua dekade mendatang, populasi manusia yang hidup di wilayah perkotaan akan mengambil alih konsentrasi populasi yang selama ini tinggal di wilayah pedesaan. Dengan terjadinya urbanisasi yang demikian pesat, maka angka kemiskinan di perkotaanpun diperkirakan akan mininggkat dengan cepat.
Dalam perspektif historis perdebatan tentang kemiskinan perkotaan berbeda antara dunia barat dan timur. secara sejarah, literature tentang pembangunan memfokuskan pembahasan pada ketidakseimbangan antara wilayah desa yang miskin dengan wilayah perkotaan yang lebih kaya, serta hubungan antara urbanisasi sebaran modal dan kemiskinan.
Bias masalah perkotaan menjadi tema pembicaraan pokok diantara agen pembangunan tahun 1970an dan 1980an. Di banyak negara di dunia ketiga, program pengentasan kemiskinan diarahkan untuk meningkatak kualitas hidup di perdesaan tertinggal. Pertengahan tahun 1980an penyesuaian dilakukan dengan memberikan subsidi bagi penduduk perkotaan dan meningkatkan harga harga untuk meningkatkan produksi di pedesaan. Masyarakat miskin perkotaan juga menjadi fokus kajian di beberara negara Asia, termasuk di Malaysia.
Di kota-kota industri Eropa dan Amerika, mayoritas penduduk (termasuk juga golongan miskin) hidup di perkotaan semenjak awal abad kedua puluh. Konsekuensi dari kodisi ini adalah, kemiskinan perkotaan dan iset mengenai konsep kemiskinan perkotaan telah berlangsung sejak awal abad kedua puluh tersebut. Akibat besarnya peran image perkotaan, definisi kemiskinan perkotaan, sering dianggap tidak sama dengan definisi kemiskinan secara umum.
Prinsip Dakwah Pemberdayan masyarakat
Dalam pandagan Islam bahwa terdapat upaya pengentasan kemiskinan, yang merupakan karakter orang yang bertakwa, yaitu dalam surat Al-Baqarah ; 177:
Kata albirr pada ayat di atas merupakan spirit kesedian setiap orang untuk membantu orang miskin agar hidup layak. Maka kebodohan, kemiskinajn, keterbelakangan, tidak akan disebut baik (albir) dan berkulaitas dalam hidupnya, bila tidak keluar dari lingkaran kemiskinan.
Disamping pandanga Islam terkait dengan pengentasan kemiskinan, terdapat juga prinsip-prinsip pemberdayaan secara akademis. Pemberdayan masyakat mempunyai prinsip-prinsipdi antaranya:
- Membangun relasi pertolongan dengan cara (a) merefkelsikan respon empati(b)menghargai pilihan dan hak klien menentukan nasibnya sendiri (self-determination), (c) menghargai perbedaan dan keunikan individu (d) menekannkan kerjasama.
- Membangun suasana komunikasi dengan cara (a) menghormati martabat dan harga diri klien (b) mempertimbangkan keragaman individu (c) berfokus pada masyarakat yang diperdayakan dan (d) memjaga privasi masyarakat yang diperdayakan.
- Terlibat dalam pemecahan masalah yangmampu (a) memperkuat partispasi masayarakat, (b) menghargai hak hak masyarakat, (c) merangkai tantangan sebagai kesmpatan belajar (d) melibatkan masyarakat dalam membuat keputusan dan evaluasi program.
- Merefeksikan sikap dan nilai profesi pekerjaan sosial melalui (a) ketaatan terhadapkode etik profesi (b) keterlibatan dalam pengembangan profesional, dalam bentuk kegiatanriset dan perumusan kebijakan dan (c) pengapusan segala bentuk diskriminasi dan ketidaksetaraan kesembapan.
Penutup : Pemberdayaan Ekonomi masyarakat Miskin perkotaan
Suatu masyarakat dapat dikatakan berdaya apabila memiliki beberapa indikator, di antaranya, pertama memiliki kemampuan dasar hidup dan perekonomian stabil. Kedua, memiliki kemampuan beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Ketiga, memiliki kemampuan mengahdapi ancaman dari luar. Keempat, memiliki kemampuan berkreasi dan berinovasi dalam mengaktualisasikan diri dan menjaga ko-eksistensinya bersama bangsa dan neagra lain.
Pemberdayaan ekonomi adalah upaya untuk membangun daya masyarakat dengan memotivasi dan membangkitkan kesadaran potensi ekonomi yang dimiliki, serta berupaya untuk mengembangkanya. Jelasnya pemberdayaan ekonomi berarti uapaya membangun kemandirian masyarakat (baik desa ataupun perkotaan) di bidang ekonomi.
Hal lain adalah strategi pemberdayan masyarakat miskin perkotaan di seluruh Kota dan kota Madya di Wilayah Sumatera Barat. Tawaran strategi ini masih bersifat tentatif dan filosofis yang masih memerlukan kajian lanjutan dalam bentuk best pratice. Pemberdayaan ekonomi umat dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Menciptakan suasana yang memungkinkan potensi masyarakat bisa berkembang. Argumen teoritisnya adalah bahwa setiap manusia, dan siap masyarakat, dapat dipastikan memilki potensi yang dapat dikembangkan.
2. Memperkuat potensi ekonomi yang dimiliki masyarakat. Untuk hal itu diperlukan penguatan dan peningkatakn taraf pendidikan, derajat kesehatan, serta terbukanya kesempatan untuk memanfaatkan peluang-peluang ekonomi.
3. Pemberian spirit penguasaan ekonomi pada setiap masyakat, agar ekonomi tidak dikuasai oleh negara asing, atau jelasnya non muslim. Maka diperlukan pelatihan dan bimbingan Islamic Enterprenuership. Perlu perubahan paradigma, bahwa Islam harus mengkomodasi dari setiap kebaikan zaman, sehingga umat secara realitas memiliki kesejahteraan. Sehingga umat Islam dapat menyandang khair al ummah atau Islamic community our the best ummah.