TdS, Sukses Promosi Wisata Gagal dalam Prestasi Olahraga

Artikel EKO KURNIAWAN, S.Kom(Diskominfo) 14 Maret 2017 11:04:02 WIB


TdS, Sukses Promosi Wisata Gagal dalam Prestasi Olahraga

Oleh: Noa Rang Kuranji

Setiap menyaksikan iven Tour de Singkarak (TdS) yang setiap tahun selalu digelar di Sumatera Barat (Sumbar) sejak 2009 silam, masyarakat memang disuguhkan atraksi pembalap-pembalap hebat dari luar negeri dan beberapa pembalap nasional.

Tapi sayang, iven ini belum mampu dimanfaatkan para pembalap Sumbar untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya sehingga bisa bersaing dengan para pembalap asing yang telah memiliki prestasi dunia tersebut. Seperti para pembalap asal Iran yang sudah tujuh kali meraih juara dari delapan kali penyelenggaraan TdS tersebut. Siapakah yang salah? Lalu, dimana kelemahannya?

Ya, Tour de singkarak adalah Event resmi balap sepeda kelas Internasional. Kompetisi sepeda ini terlaksana berkat kerja sama Persatuan Balap sepeda internasional (union cycliste international), Kementrian pariwisata, Dinas pariwisata daerah, serta Amaury Sport Organisation yang menjadi penyelenggara Tour de France di Perancis.

Kejuaraan pertama diadakan pada tahun 2009 dan menempuh lintasan sepanjang 464,7 km. Titik start di kota padang, melintasi kota bukittinggi, sawahlunto, danau kembar, dan finish di Dermaga Danau Singkarak.

Gengsi balap sepeda ini semakin ditingkatkan. Terbukti dengan persiapan yang semakin matang. pada tahun awal, dengan jumlah 4 etape menempuh jarak 464,7 km. Kemudian jarak tersebut terus ditambah, jumlah kota yang dilalui pun juga bertambah. Pada Tour de Singkarak 2016, jarak tempuh mencapai 1.100 km, dan melewati hampir seluruh kabupaten/kota di Sumatera Barat.

Untuk musim balapan 2017, berhubung jadwal rutinnya bertepatan dengan bulan puasa (bulan Juni), maka TdS kali ini terpaksa diundur dan resmi digelar dari 18 – 26 November 2017 mendatang. Seluruh kabupaten dan kota sudah menyatakan kesiapannya untuk menyambut para rider TdS 2017 tersebut.

Sesuai dengan namanya, Singkarak yang merupakan danau terbesar di Sumatera Barat menjadi bagian dari jalur lintasan Tour de Singkarak. Selain itu, beberapa kawasan wisata lain juga menjadi bagian dari jalur lintasan, termasuk Lembah Harau, Danau Maninjau, Kelok 44, Danau Di atas, dan Danau Dibawah.

Tour de Singkarak diselenggarakan untuk pertama kali oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia pada tahun 2009. Dipandang sukses dari segi peyelenggaraan, menjadikan ajang balap sepeda ini sebagai salah satu kejuaraan balap sepeda resmi Persatuan Balap Sepeda Internasional di kelas 2.2 Asia Tour.

Sehingga selain didukung oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia, Tour de Singkarak juga diperkuat dengan dukungan APBD provinsi dan kabupaten atau kota yang daerahnya dilalui oleh peserta. Hal ini disebabkan setiap daerah yang menjadi bagian dari tahapan perlombaan balap sepeda Tour de Singkarak mempunyai peran cukup besar dalam mengenalkan daerahnya. Sehingga jumlah kabupaten dan kota yang menjadi jalur lintasan Tour de Singkarak dari tahun ke tahun mengalami peningkatan.

Dalam tiga kali penyelenggaraan Tour de Singkarak, Kota Padang selalu menjadi titik start pelombaan dengan titik finish di dermaga danau Singkarak. Namun pada Tour de Singkarak 2012, titik start lomba dipindahkan ke Kota Sawahlunto. Sedangkan titik finish dipindahkan ke Kota Padang sebagai ibu kota Sumatera Barat. Tahun ini, titik start dilaksanakan di Kabupaten Tanah Datar dan finish di Kota Bukittinggi.

Berdasarkan data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sumbar menyebutkan, penyelenggaraan Tour de Singkarak dinilai telah dapat meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Sumatera Barat. Bahkan pada tahun 2011 naik hingga 13,2% atau di atas kenaikan pariwisata nasional 8,9%. Pada tahun 2010, wisatawan mancanegara yang menginap di hotel berbintang di Sumatera Barat sebanyak 332.515 orang, dan tahun 2011 meningkat menjadi 413.180 orang atau naik sekitar 24,3%.

Dari segi koordinasi dan sinergitas, Tour de Singkarak juga dinilai sebagai event promosi pariwisata terbaik dari 41 event tetap yang digelar Kemenparekraf. Sinergitas itu terlihat dari kekompakan para pimpinan daerah dalam mendukung kegiatan tersebut; gubernur berikut para wali kota dan bupati selalu menghadiri langsung rapat koordinasi.

Tapi bagaimana dari sisi prestasi olahraganya? Terus-terang, sampai kini belum memperlihatkan hasil yang menggembirakan. Masyarakat Sumbar hanya disuguhkan tontonan sesaat ketika menyaksikan para pembalap asing berpacu di jalan raya. Tak satu pun pembalap Sumbar yang berhasil naik podium setelah sampai di garis finish. Ini sungguh memprihatinkan kita semua.

Kerinduan masyarakat Sumbar akan lahirnya sosok pembalap tangguh pengganti Nurhayati yang sempat berjaya dan mengharumkan nama Ranah Minang di kancah nasional bahkan Asia Tenggara pada tahun 80-an kembali muncul setiap menyaksikan iven TdS tersebut. Walaupun akhirnya sang legenda tersebut memutuskan hijrah ke Jawa Tengah karena tak mendapatkan pekerjaan yang layak di daerah ini.

Yang lalu biarlah berlalu, mari kita buka lembaran baru. Begitulah kira-kira ungkapan yang pas untuk menghibur hati masyarakat yang sangat ingin muncul kembali pembalap tangguh di era otonomi daerah saat ini.

Pemerintah Provinsi Sumbar bersama pemerintah kabupaten/kota, termasuk KONI Sumbar dan pengurus ISSI (Ikatan Sport Sepeda Indonesia) Sumbar harus bersatu dan menyamakan visi guna melahirkan pembalap-pembalap handal tersebut.

Caranya memang tidak semudah membalikan telapak tangan. Tapi setidaknya, harus ada upaya ke arah itu. Seperti mengirim sejumlah pembalap potensial Sumbar berlatih ke luar negeri untuk menimba ilmu. Targetnya, mereka harus juara PON, setelah itu Sea Games, Asean Games dan terakhir juara Olimpiade kalau bisa.

Nah, kalau mereka sudah memiliki prestasi di iven-iven resmi tersebut, tentu kita tidak akan gamang lagi menyaksikan para pembalap Sumbar itu berlaga di ajang TdS. Jangan kita cepat merasa bangga karena telah sukses dari sisi promosi wisata namun gagal dari sisi pembinaan prestasi olahraga. Semoga menjadi bahan renungan kita bersama.

Selamat mencoba. Merdeka! (*)