Pesan Moral Idul Adha
Artikel EKO KURNIAWAN, S.Kom(Diskominfo) 04 April 2017 10:43:20 WIB
Pesan Moral Idul Adha
Oleh Yal Aziz
Bulan Dzhulhijjah atau biasa disebut bulan haji oleh masyarakat Indonesia. Karena pada bulan inilah umat Islam melaksanakan rukun Islam yang kelima yakni haji. Ratusan ribu umat Islam dari berbagai penjuru dunia berdatangan ke tanah suci untuk melaksanakan ritual ibadah haji.
Selain ibadah haji, di bulan Dzhulhijjah juga kaum muslimin seluruh dunia merayakan hari raya Idul Adha. Berbeda dengan hari raya Idul Fitri yang jatuh pada tiap 1 Syawal, pada hari raya Idul Adha, selain dilaksanaka shalat ied, juga dilaksanakan penyembelihan hewan kurban. Sehingga sering juga disebut hari raya kurban.
Penyembelihan hewan kurban berupa unta, sapi atau kambing dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulihijjah dan 3 hari tasyrik setelahnya. Syariat yang bermula dari kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan okeh Allah untuk menyembelih putra tersayangnya Nabi Ismail, yang kemudian Allah gantikan dengan seekor domba yang besar itu, memiliki beberapa hikmah.
Tafsir atas keikhlasan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putra kinasihnya, Ismail sebagai kisah hikmah Idul Adha, kiranya relevan dengan ayat-ayat qauniyah di langit keindonesiaan kita dewasa ini. Pesan tentang hakikat kurban untuk membangun sikap mengikh-laskan segi-segi kehidupan yang berpotensi untuk kita cintai sebagai ”milik”, berhadapan dengan kenyataan keseharian kita. Yakni berseliwerannya kasus penyelewengan kekuasaan dengan segala bentuknya!
Keteguhan hati Ibrahim menggambarkan konsistensi akan keamanahan. Dalam konteks keindonesiaan masa kini, Ismail bisa kita metaforakan sebagai simbol kepemilikan, sesuatu yang sangat kita cintai. Kecintaan yang kuat berpotensi untuk memalingkan dari sikap mengingat Allah. Sesuatu yang kita cintai itu -- atau ”Ismail-Ismail” kita -- bisa saja berupa harta, uang, kekuasaan, atau jabatan yang mampu memalingkan keistikamahan, menjauhkan kita dari amanah.
Akal terkadang tidak mau tunduk kepada pemahaman keamanahan. Logika yang dikembangkan sering lebih memilih untuk memanfaatkan peluang. Dalam praktik penyelenggaraan negara dan pemerintahan, kita jelas membutuhkan sosok-sosok pemimpin dengan keteguhan seperti Ibrahim. Tetapi pemimpin yang meng-Ibrahim itu masih menjadi oase yang ternyata hanya fatamorgana. Seolah-olah berpihak kepada rakyat, namun kita terbanting oleh kenyataan.
Banyak pemegang kekuasaan yang menyuarakan perang melawan korupsi. Bahkan ada yang mengusulkan jenis hukuman, misalnya potong jari tangan, untuk menciptakan efek jera bagi koruptor. Namun jangankan menjaga marwah amanah kepemimpinannya, pernyataan itu begitu saja termentahkan oleh realitas pejabat publik tersebut tertangkap tangan menerima suap yang terkait dengan kewenangannya. Kondisi-kondisi antiamanah seperti inilah yang terus tersaji.
Konsistensi Ibrahim sebagai pesan moral Idul Adha, di hadapan kondisi kita sekarang, ibarat paradoks tentang pengorbanan. Hakikat berkorban adalah mengikhlaskan sesuatu yang kita cintai, namun praktik politik-kekuasaan lebih didominasi oleh atmosfer ”mengorbankan”. Mereka yang secara amanah seharusnya merelakan sikap dan tindakannya untuk berpihak kepada rakyat, justru mengorbankan kepentingan-kepentingan itu untuk memenuhi hajat kekuasaannya.
Jika bersungguh-sungguh menegakkan amanah, menjadi pemimpin adalah sikap pengorbanan. Namun sikap itulah yang belum menjelma sebagai pancaran internalisasi kepemimpinan kita. Kita terjerat fenomena pengedepanan posisi sebagai kesempatan untuk mengeksplorasi sebanyak mungkin raihan materi. Dan, betapa banyak ayat qauniyah yang menjelaskan secara gamblang, sikap antiamanah itu telah memerosokkan begitu banyak mereka yang tidak amanah. (penulis waratwan tabloidbijak.com)