KEKAYAAN ANTARA UJIAN DAN KARUNIANYA
Artikel Zakiah(Tenaga Artikel) 14 Maret 2017 11:00:29 WIB
"Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang diantara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan diantara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. Kedua kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu. Dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika ia bercakap-cakap dengan dia, “Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat,“ Dan dia memasuki kebunnya dengan zhalim terhadap dirinya sendiri; Ia berkata, “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya. Dan aku tidak mengira Hari Kiamat itu akan datang, dan sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu. (QS Alfurqon 32-36)
Allah SWT berfirman memberi sebuah perumpamaan, bahwa ada dua pria mukmin dan kafir. Pria yang kafir mempunyai dua buah kebun anggur yang keduanya dikelilingi pohon-pohon kurma dan diantara kedua kebun itu terdapat pula ladang. Kedua buah kebunnya, pohon-pohon kurmanya dan ladangnya semuanya dalam keadaan baik, subur dengan menghasilkan buah-buahan yang penuh, tidak sedikitpun kurang dari semestinya yang dihasilkan.
Berkata pria kafir yang kaya raya dengan ladang dan kedua kebun anggurnya yang subur kepada pria mukmin dengan menyombongkan dan membanggakan kekayaannya itu, “Aku lebih kaya dari engkau, hartaku dan milikku lebih banyak daripada hartamu dan milikmu, dan pengikut-pengikutku adan handai taulanku lebih banyak dan kuat-kuat daripada yang engkau miliki.” Mengenai kebun-kebun anggurnya dan ladangnya yang luas, berkatalah ia, “Sekali-kali aku tidak mengira bahwa ladangku yang luas ini, dan kebun-kebun ku yang penuh dengan pohon-pohon anggur dan kurma yang berbuah lebat dan mendapat air yang tak henti-hentinya di celah-celah pohon itu, sekali-kali tidak akan binasa dan rusak tidak berbuah dan membawa hasil. Dan akupun menyaksikan bahwa hari kiamat itu akan tiba, dan kalaupun ada hari kebangkitan, semua manusia akan kembali kepada Allah, maka niscaya keadaanku dan nasibku akan lebih baik daripada keadaan sekarang ini, karena Tuhanku menyayangiku dan mencintaiku. Kalau tidak demikian tentu aku tidak dikarunia kekayaan yang besar dan kehidupan yang bahagia ini.
Kawannya yang mukmin berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya, “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudia dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu sebagai laki-laki yang sempurna. Tetapi aku percaya bahwa Dialah Allah, Tuhanku. Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu “Masya Allah laa quwwata illa billah”. Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan. Maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku kebun yang lebih baik dari kebunmu ini. Dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan petir dari langit kepada kebunmu, hingga kebun itu menjadi tanah yang licin. Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi (QS Alfurqon 37-41)
Ayat berikutnya adalah firman Allah SWT yang merupakan jawaban pria mukmin kepada kawannya yang kafir. Ia menasehati kawannya dan memperingatkannya bahwa ia tidak patut menyombongkan diri dan membanggakan kekayaannya, karena sebenarnya semua itu adalah karunia dan pemberian Tuhan yang telah menciptakannya dari tanah kemudian dari setetes mani, lalu menjadi manusia laki-laki yang sempurna. Ia berkata menanggapi kata-kata kawannya yang kafir itu, “Apakah engkau mengingkari Tuhan yang menciptakan Adam dari tanah, dan kemudian menciptakan engkau dari setetes air mani dan jadilah engkau sebagai pria yang sempurna bernyawa dan berbentuk indah. Tetapi aku mempunyai pandangan yang berbeda dengan pandanganmu dan sekali-kali tidak akan mengucapkan kata-kata yang telah engkau ucapkan. Aku mengakui dan beriman bahwa Allah adalah Tuhanku yang Maha Esa yang tidak bersekutu dan hanyalah Dia yang patut dan wajib disembah. Sepatutnya engkau bersyukur dan mengucapkan pujian kepada Allah tatkala engkau memasuki kebun dan melihatnya subur, indah dan padat dengan buah-buahan yang lezat dengan sungai-sungai yang mengalir dicelah-celahnya, sepatutnya saat itu engkau mengucapkan “Masya Alllah, laa quwwata illa billah.” Jika engkau melihatku pada saat ini lebih kurang darimu dalam hal harta dan kekayaan dan keturunan maka aku tetap mengharap dari Tuhanku suatu waktu memberiku kebun-kebun yang lebih baik, lebih subur dan lebih banyak menghasilkan daripada kebun dan ladangmu ini. Dan sekali-kali janganlah mengira bahwa keadaanmu yang baik ini akan kekal selama-lamanya dan tidak akan rusak dan binasa. Jika sewaktu-waktu Tuhan mengirimkan azabNya dari langit berupa angin topan, hujan lebat dan petir yang dalam sekejap saja kebun-kebun dan ladang-ladangmu dibinasakan dan menjadi tanah yang licin, atau air sungai yang engkau banggakan itu menjadi surut dihisap tanah, sehingga engkau tidak dapat menemukannya lagi.
Dan harta kekayaannya dibinasakan lalu ia membolak-baikkkan kedua tanggannya (tanda menyesal) terhadap apa yang telah dibelanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata, “Aduhai kiranya kiranya aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku”. Dan tidak ada lagi dia segolongan pun yang akan menolongnya selain Allah, dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya. Disana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Hak. Dia adalah sebaik-baik pemberi pahala dan sebaik-baik pemberi balasan. (QS Al Furqon 42-44)
Allah SWT berfirman, bahwa apa yang diperingatkan kepada pria kafir oleh kawannya yang mukmin telah terjadi dan menimpa dirinya dan harta kekayaannya yang mengira bahwa kekayaannya itu akan kekal, tidak akan habis atau binasa. Allah telah memberikan pelajaran baginya dengan menirimkan angin, petir dan hujan yang membinasakan kebun dan ladang yang selalu dibanggakan menjadi rata dengan tanah.
PELAJARAN DAN FAEDAH DARI KISAH INI
1. Kisah ini menyatakan bahwa tidak boleh seseorang berpihak kepada kehidupan duniawi yang terpedaya olehnya, bahkan seharusnya ia menjadikan taat dan tawakal kepada Allah pada setiap keadaan dan matanya harus jeli melihat kebenaran. Dia harus meyakini bahwa apa-apa yang dibawah kekuasaan Allah lebih benar daripada apa-apa yang dibawah kekuasaannya.
2. Pada kisah ini juga terdapat hikmah, barang siapa yang memberikan sesuatu bukan karena taat kepada Allah dan tidak berinfak dijalan Allah, dia akan diazab karenanya. Karena bisa jadi niatnya tidak pada tempatnya dan perolehan hartanya dari sesuatu yang tidak diketahui kehalalannya.
3. Penyesalan tidak memberi manfaat bila takdir sudah ditimpakan dan kehancuran sudah dilaksanakan.
WALLAHU’ALAM BISHOWAB