Taushiah Ramadhan Irwan Prayitno 21 Ramadhan 1438H Tajassus dan Tahassus

Taushiah Ramadhan Irwan Prayitno 21 Ramadhan 1438H Tajassus dan Tahassus

Artikel Drs. AKRAL, MM(Diskominfo) 16 Juni 2017 10:16:13 WIB


Apa itu tajassus dan tahassus? Kedua istilah itu mungkin asing bagi kita, tapi seringkali kita melakukannya, baik secara sadar atau tak sadar. Mari kita simak bersama, agar semakin paham keburukannya dan kita senantiasa menghindari perilaku demikian.

Tajassus adalah mencari-cari kesalahan orang lain, terutama yang terus ingin dicari aibnya adalah orang-orang beriman.

Tahassus yang maksudnya adalah menguping untuk mencari-cari kejelekan suatu kaum di mana mereka tidak suka untuk didengar, atau menguping di depan pintu-pintu mereka. Demikian diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Bahaya dari keduanya adalah yang menjadi obyek merupakan orang-orang yang beriman, orang yang Allah berikan perlindungan atasnya, karena mereka mencintai Allah dan Allah pun mencintai mereka. Tentu orang yang mengusiknya dan hendak mengganggu ketenangannya akan mendapat murka Allah

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. Al An'am:82)

Sadar tak sadar, kita kadang ada dorongan untuk mencari bahan gunjingan pada saudara kita, rekan sekerja kita, dan sebagainya. Kalau itu (kejelekan) yang diketahui itu benar, apakah ada faedahnya bagi kita, dan jika salah, tentu akan menjadi fitnah dan buruk sangka. Apa bahayanya, sudah saya jelaskan pada bahasan sebelumnya.

Maka dari itu, hendaknya kita beristighfar saat ada dorongan dari otak dan hati kita untuk menguping, memata-matai dalam rangka mencari kejelekan dari orang lain. Baik hal tersebut untuk kepentingan dan keuntungan pribadi, maupun dorongan yang dihembuskan dari orang lain.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” (Al-Hujurat : 12)

Tafsir Al Jalalain, menaruh curiga atau prasangka buruk yang terlarang adalah prasangka jelek pada orang beriman dan pelaku kebaikan. Adapun makna, janganlah ‘tajassus’ adalah jangan mencari-cari dan mengikuti kesalahan dan ‘aib kaum muslimin.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 

إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”

Nasihat Imam Abu Hatim bin Hibban Al-Busthi berkata dalam sebuah kitabnya yang dikutip oleh Syekh Abdul Muhsin bin Hamd al-‘Abbad al-Badr dalam tulisannya sebagai berikut, ”Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih, dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya.” (Dalam Raudhah al-‘Uqala wa Nuzhah al-Fudhala)

Tanpa usaha mencari kejelekan orang lain untuk kepentingan dan keegoisan pribadi atau kelompok semata, hidup kita akan terasa lebih tenang, lebih ringan, lebih nyaman, baik bagi diri kita sendiri, maupun saat berinteraksi sesama kita. Tak ada rasa was-was, tak ada rasa benci, dendam, ingin menjatuhkan, dan kita bisa membangun kerukunan hidup bermasyarakat dengan lebih baik.

Fenomena tajassus dan tahassus sangat terasa akhir-akhir ini, dan sebaiknya kita semua mulailah bermuhasabah. Bangunan kemasyarakatan akan semakin berlubang dan hancur rusak jika diteruskan. Padahal jika kita semua saling menghargai satu sama lain, kerja-kerja konstruktif membangun peradaban yang lebih baik akan mudah kita capai. Gotong royong, tenggang rasa, dan saling bertaawun (tolong menolong) dan saling menasihati dalam keimanan dan kesabaran.

Wallahu a'lam bishshawaab
(by.fb.IP n Akral)