Taushiah Ramadhan Irwan Prayitno 19 Ramadhan 1438H Meruginya Berprasangka Buruk

Taushiah Ramadhan Irwan Prayitno 19 Ramadhan 1438H Meruginya Berprasangka Buruk

Artikel Drs. AKRAL, MM(Diskominfo) 15 Juni 2017 10:38:17 WIB


Dalam bermuamalah, berinteraksi sesama manusia seringkali hati kita tergoda untuk menaruh rasa curiga, dugaan, prasangka kepada pasangan kita, teman, dan sebagainya. Sebagian besar dilakukan tanpa kita memiliki informasi yang akurat tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Prasangka buruk sangat berbahaya, karena tidak hanya terjadi pada orang yang tidak saling kenal, tapi sering terjadi antar suami-istri yang sudah menikah puluhan tahun, sesama kawan baik. sesama orang-orang yang shalih sekalipun. Hati kita harus sering berlatih untuk mengatasinya, karena tentu kita sendiripun takkan suka dicurigai, disangkakan yang buruk oleh orang lain.

Buruknya perumpamaan prasangka telah Allah sebutkan dalam firmanNya

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al Hujurat: 12)

Terhadap Surah Al Hujurat ayat 12 tersebut, Amirul Mukminin Umar bin Khathab radhiyallahu 'anhu berkata, “Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ
“Waspadalah dengan buruk sangka karena buruk sangka adalah sejelek-jeleknya perkataan dusta.” (HR. Bukhari no. 5143 dan Muslim no. 2563)

Dalam dunia psikologi pun, selalu kita diajarkan untuk mengupayakan prasangka positif, prasangka baik. Dengan selalu berprasangka baik pada orang lain, kita lepas dari beban yang tak perlu kita sandang, memikirkan keburukan orang lain tidak ada faedahnya sama sekali bagi kehidupan kita. Malah dengan negative thinking, hati kita menjadi cemas, was was, waspada, rasa takut muncul, dan lain-lain, yang bahayanya pada diri kita pun bisa mengganggu kekhusyukan shalat kita. Kerugian yang terlalu besar, untuk urusan yang tidak penting. Na'udzubillahi min dzalik

Seorang ilmuwan Jepang, Dr. Masaru Emoto dalam penelitiannya yang sangat terkenal tentang keajaiban air, membuktikan bahwa stigma negatif yang masuk dalam diri kita, dapat mengubah bentuk sel-sel tubuh kita menjadi tak beraturan, cepat rusak, rapuh atas serangan bibit penyakit. Perlu kita ketahui, 70% tubuh kita mengandung air, yang juga terdapat dalam komponen terkecil tubuh kita, yaitu sel. Maka banyaklah kasus orang yang suka bersuudzan, mengucapkan perkataan yang buruk, jarang berdoa, menjadi sosok yang mudah diserang penyakit, dalam kata lain, penyakitan, mudah stres, penuh kegalauan dan sebagainya.

Ada kisah di kalangan tabi'in (para pengikut Rasulullah, setelah Rasulullah wafat, murid dari Sahabat Nabi), Sufyan bin Husain yang berkata, “Aku pernah menyebutkan kejelekan seseorang di hadapan Iyas bin Mu’awiyyah. Beliaupun memandangi wajahku seraya berkata, “Apakah kamu pernah ikut memerangi bangsa Romawi?” Aku menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya lagi, “Kalau memerangi bangsa Sind, Hind (India) atau Turki?” Aku juga menjawab, “Tidak”. Beliau berkata, “Apakah layak, bangsa Romawi, Sind, Hind dan Turki selamat dari kejelekanmu sementara saudaramu yang muslim tidak selamat dari kejelekanmu?” Setelah kejadian itu, aku tidak pernah mengulangi lagi berbuat seperti itu”.

Iyas bin Muawiyah adalah tabiin yang terkenal cerdas dan bijaksana di masa itu, dan semua orang menghormatinya karena sikapnya tersebut.

Kisah di atas contoh bagaimana kita harus berintrospeksi saat kita hendak menggunjing atau berprasangka buruk pada orang lain, apalagi orang tersebut adalah orang yang kita kenal baik budi pekertinya. Termasuk di antaranya pasangan hidup kita, antara suami dan istri, hendaknya selalu berusaha menghindari sikap prasangka, karena ini adalah penyebab yang besar dalam kasus perceraian. Rasa cemburu adalah fitrah, tapi kalau diteruskan dalam bentuk curiga, suudzan, dan menuduh pasangan kita, sesuatu yang tidak ia lakukan, maka tak ada kenyamanan dalam rumah tangga.

Tips dari saya untuk mengatasi berburuk sangka pada orang lain antara lain
1. Sibukkan diri kita pada hal-hal positif, bekerja, zikr beribadah, belajar. Dengan sibuknya waktu dan pikiran kita, tak sempat lagi otak kita mengolah buruk sangka

2. Ingat-ingatlah sifat baik, akhlak dari orang di sekeliling kita, buang keburukan-keburukan ringan yang nampak pada diri orang itu.

3. Selalu pekakan diri kita, apa yang mau kita dapat dari suudzan, apakah kita akan lebih bahagia di akhirat dengan prasangka itu, atau sebaliknya. Ayat-ayat Allah yang mengancam perilaku suudzan sudah jelas, harus dipahami.

4. Tanamkan pada diri kita, bahwa kita juga tak suka mendapat prasangka buruk dari orang lain, jadi kita takkan lakukan itu pada orang lain pula

Wallahu a'lam bishshawaab
(by.IP.fb n Akral)