RAUN KE KAYU TANAM
Artikel Drs. AKRAL, MM(Diskominfo) 12 Juni 2017 09:58:33 WIB
oleh: Drs. Akral. MM

Ingat masa-masa remaja dulu ketika SMA, bersama teman-teman setiap bulan Ramadhan, sepulang sekolah kami selalu naik Kereta Api (KA) dari stasiun Lubuk Alung ke stasiun KA Kayu Tanam dan kembali ke stasiun KA Lubuk Alung, yang sering kami sebut dengan istilah "Raun ke Kayu Tanam". Biasanya Raun ke Kayu Tanam ini kami lakukan setelah jam pelajaran di sekolah selesai dan langsung pulang ke rumah, ganti baju, siap shalat dzuhur, rame-rame dengan teman sebaya menuju stasiun.

Kami menaiki gerbong KA yang berwarna hitam yang biasa digunakan membawa batu bara yang ditarik dengan lokomotif diesel dari Sawahlunto ke stasiun KA Padang Panjang, dari Padang Panjang diteruskan ke stasiun KA Kayu Tanam, dari stasiun Kayu Tanam diteruskan dengan lokomotif diesel ke Padang. Di Padang ada dua Stopel Batubara di Teluk Bayur dan di Indarung, yang ke Indarung untuk bahan bakar pabrik Semen Padang. Gerbong dari Padang ke Kayu Tanam selalu kosong, karena lokomotif istirahat di stasiun Lubuk Alung maka rombongan kami langsung naik gerbong yang akan dibawa ke Kayu Tanam ini. Gerbong kosong ini dichange (diganti) dengan gerbong yang bermuatan Batubara di Kayu Tanam, biasanya rangkaian gerbong cukup banyak bahkan bisa mencapai 20 buah rangkaian, diatas tumpukan Batubara inilah biasanya kami duduk.
Hal ini kami lakukan sembari menunggu waktu berbuka puasa, kalau sekarang mirip dengan "ngabuburit" begitu, tapi ngabuburit biasanya ada makanan ringan (taqjil). Dengan Raun ke Kayu Tanam waktu puasa tidak terasa lama. Apalagi jadwal keberangkatan KA sangat rapi dan tepat waktu, biasanya selalu berangkat dari stasiun Lubuk Alung pukul 14.00 wib dengan jarak tempuh lebih kurang 40 menit dan proses istirahat di stasiun Kayu Tanam 30 menit, maka pukul 17.00 wib kami bisa sampai di stasiun Lubuk Alung kembali, sehingga sampai dirumah pukul 17.30 langsung mandi salat Asyar dan waktu berbuka tidak terlalu lama ditunggu.
Singkat cerita, pengalaman beberapa tahun yang lalu ini, saya ulang kembali Sabtu 10 Juni 2017 kemaren dengan menaiki KA di stasiun Lubuk Alung pukul 14.00 wib ke stasiun KA Kayu Tanam dan kembali ke stasiun Lubuk Alun pukul 16.00 wib, namun kemaren aku naik KA yang sangat berbeda dengan KA di tahun 80 an dulu yang hanya gerbong tanpa atap, apabila panas ya kepanasan dan apabila hujan ya berbasah basah. Sekarang aku naik KA dengan gerbong semi executive, dengan tempat duduk yang bagus dilengkapi penyejuk ruangan alias AC, ya dengan sedikit merogoh kantong Rp 7000 PP Lubuk Alung-Kayu Tanam-Lubuk Alung. Di sepanjang jalan KA kelihatan hamparan sawah dan ladang masyarakat yang sangat luas, sesayub-sayub mata memandang sawah dan ladang masyarakat ini seakan-akan bertemu dengan kaki gugusan Bukit Barisan, apalagi hari itu cuaca sangat cerah membuat keindahan pemandangan menjadi lebih nyata dan bersih.
Sambil menikmati pemandangan yang indah ini, teringat bagiku seorang sahabatku yang berprofesi sebagai dokter spesialis bedah tulang (ortopedi) namanya Dr. Hermansyah Koto, dimana tahun lalu beliau mendapat penugasan ke Jepang dan menyempatkan diri mengunjungi salah satu daerah tujuan wisata dengan naik KA di negeri Sakura ini yaitu "Sagano Romantic Train" di daerah Arashyama Kyoto Jepang. Foto KA yang beliau naiki dan daerah tujuan wisata itu sempat difosting di media sosial (FB) nya, pemandangan alamnya mirip dengan Lembah Anai di Negeri kita, beliau sedikit berkomentar di FB nya "saya bermimpi kapan hal ini bisa terwujud di negeri saya, bahkan lokasinya mirip dengan Lembah Anai yang ada diantara Kota Padang dan Padang Panjang" demikian komentar beliau.
Postingan dan komentar Dr. Hermansyah Koto ini sempat aku buat tulisan sederhana di Portal resmi Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dengan judul "Mimpi Seorang Anak Bangsa" yang menceritakan pengalaman Dr. Hermansyah Koto ini. Saya fosting pukul 11.00 wib. Ternyata dalam waktu hanya satu jam sudah dibaca 350 kali, dan pukul 16.00 wib dichek kembali sudah dibaca 700 kali lebih, ini adalah kunjungan yang luar biasa.
Adalagi komentar Dr. Hermansyah Koto terhadap hasil rapat Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno tanggal 11 April 2016 yang lalu dengan PT. KAI dan Balai Perkeretaapian Kemenhub RI yang dihadiri oleh beberapa Bupati dan Walikota se Sumbar yang membahas tentang Rencana Menghidupkan Kembali Jalur Kereta Api di Sumbar, yang sempat dimuat disalah satu media online dan beberapa media cetak di Kota Padang, Dr. Hermansyah Koto kembali memberikan komentar melalui medsosnya tentang kemiripan Sagano Romantic Train di Arashyama Kyoto Jepang dengan Lembah Anai, yang mana Lembah Anai jauh lebih indah dari pada Sagano ini. Dr. Hermansyah Koto juga mengusulkan agar Gubernur Sumatera Barat mengunjungi Kyoto Jepang tentang Daerah tujuan Wisata yang beraroma Kereta Api. Dr. Hermansyah Koto juga mengusulkan kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menyewa Ahli yang menciptakan Sagano Romantic Train ini sebagai Konsultan untuk mengembangkan Lembah Anai sebagai Pusat Wisata Alam yang Bernuansa Kereta Api.
Apa yang diusulkan Dr. Hermansyah Koto dipostingan FB nya sangat bagus sekali, apalagi keindahan alam dan ke "asri" an lokasi yang kita miliki lebih baik dari pada Sagano Romantic Train ditambah lagi dengan keasrian daerah di sepanjang jalan menuju Lembah Anai ini terdapat hamparan sawah dan ladang yang sangat luas, pemandangan seperti ini sangat langka di Sumbar terutama sekali yang dilalui oleh jalur KA, dan satu-satunya yang ada hanya dari Lubuk Alung ke Kayu Tanam saja, sedangkan dari Kayu Tanam ke Padang Panjang kita akan memasuki hutan lindung yang lebat dengan suhu pegunungan yang fresh (segar) serta view yang juga hebat, alangkah indahnya kalau perjalan ini dilanjutkan ke stasiun Padang Panjang. Aku kembali ingat dengan Dr. Hermansyah Koto ketika jalur KA Lubuk Alung ke Kayu Tanam mulai dioperasionalkan beberapa bulan yang lalu, beliau menghubungi aku melalui Handphonenya, beliau mengatakan "SUDAH HAMPIR TERWUJUD IMPIANKU, SEKARANG KERETA API PENUMPANG SUDAH SAMPAI KE KAYU TANAM, MUNGKIN TIDAK LAMA LAGI AKAN SAMPAI KE PADANG PANJANG, TENTU SAGANO ROMANTIC TRAIN AKAN HADIR DI NEGERI KITA DAN MIMPI SEORANG ANAK BANGSA AKAN TERWUJUD" demikian kira-kira kalimatnya waktu itu, Aku hanya bisa menjawab "kita tunggu saja Pak dokter.
Kita juga heran, kenapa para pelaku pariwisata dan pengambil kebijakan serta stakeholder lainnya tidak pernah memikirkan ataupun mem follow up gagasan Dr. Hermansyah Koto ini, apakah "mungkin" mereka jarang membuka dan membaca Portal Sumbarprov.go.id, atau mereka "mungkin" enggan karena yang memunculkan ide hanyalah seorang dokter yang tidak punya power dalam kekuasaan. Mungkin juga Pemerintah Prov. Sumbar sudah punya Grand Designe yang lebih baik tentang Destinasi Wisata berbasis Kereta Api.
Inilah kira-kira isi lamunan aku selama "Raun ke Kayu Tanam" yang menempuh perjalan dengan KA dari Kubuk Alung ke Kayu Tanam dan kembali ke Lubuk Alung. Namun masih ada sesuatu yang terlintas di pikiran aku saat itu adalah "pada suatu waktu aku akan ajak Dr. Hermansyah Koto naik KA dari Lubuk Alung ke Kayu Tanam", karena beliau sering berkunjung ke luar Sumbar dan bahkan sering pula ke luar Indonesia, baik dinas maupun melancong dengan biaya pribadinya. Semoga pengalaman beliau dapat menimbulkan ide-ide baru yang positif yang dapat pula bermanfaat dalam rangka pengembangan pariwisata di Sumbar, dan semoga pula Dr. Hermansyah Koto membaca tulisan ini, dan aku ucapkan "selamat menunaikan ibadah puasa pak dokter dan sehat selalu. Amin.... (by. Akral)