Pentingnya Buar Air Kecil yang Baik

Pentingnya Buar Air Kecil yang Baik

Artikel () 20 Mei 2017 08:51:05 WIB


Sebuah hadits menyatakan sebagai berikut yang artinya: “Kebanyakan orang disiksa di alam kubur adalah karena air kencing. Jadi, bersihkanlah diri kalian dari air kencing.” (HR. Hakim)

Bagi manusia yang masih hidup di dunia, dan belum terbayang bagaimana alam kubur, mungkin menganggap enteng masalah buang air kecil (BAK, kencing). Namun ternyata sebelum mendapat siksaan di akhirat yaitu setelah terjadinya hari kiamat, mereka yang BAK sembarangan akan mendapat siksa kubur.

Dan ternyata BAK sembarangan termasuk ke dalam dosa besar. Ini seperti disebut dalam sebuah hadits yang artinya, “Mereka berdua disiksa. Mereka menganggap bahwa itu bukan perkara besar, namun sesungguhnya itu perkara besar. Orang yang pertama disiksa karena tidak menutupi diri ketika kencing. Adapun orang yang kedua disiksa karena suka mengadu domba.” (HR Bukhari No. 216 dan Muslim No. 292).

Seperti kita ketahui, betapa sering kita jumpai toilet umum maupun toilet di kantor/lembaga/instansi ada yang berbau tidak sedap. Terutama toilet laki-laki.

Hadits yang lain berbunyi sebagai berikut yang artinya, “Dari Jabir, dari Rasulullah SAW, bahwasanya beliau melarang kencing di air yang tergenang.” (HR. Muslim No. 281)

BAK di air tergenang akan menyebabkan munculnya bau pesing dan menimbulkan penyakit. Selain itu BAK di air tergenang berarti memberikan keburukan kepada orang lain. Dalam hal ini sebuah hadits menyatakan sebagai berikut yang artinya, “Tidak boleh memulai memberi dampak buruk (mudarat) pada orang lain, begitu pula membalasnya.” (HR Ibnu Majah No. 2340).

Beberapa hadits yang sudah saya paparkan menerangkan bagaimana Islam turut mengatur adab buang air kecil agar tidak memberi dampak negatif kepada makhluk hidup lain. Lalu, bagaimana caranya agar kita sebagai muslim terhindar dari siksa kubur akibat BAK? Di antaranya adalah berusaha mencari tempat yang tidak terlihat orang banyak untuk BAK ketika tidak ditemui toilet atau yang sejenisnya.

Kemudian berusaha semaksimal mungkin menyiram dengan air bersih sebanyak-banyaknya tempat di mana kita melakukan BAK, sehingga tidak terlihat lagi urine atau air kencing dan juga hilangnya bau pesing akibat disiram air yang banyak. Jika ini dilakukan dengan benar oleh mereka yang melakukan BAK, maka insya Allah tidak akan ada lagi bau pesing atau bau lainnya yang ada di toilet.

Selain itu, ada hikmah yang bisa diambil dari kegiatan BAK yang benar ini dalam kehidupan. Seperti kita ketahui, urine atau air kencing yang keluar akan bisa hilang jika disiram air yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah urine. Jika jumlah air bersihnya tidak cukup atau bahkan lebih sedikir dari jumlah urine, maka sudah bisa diduga akan muncul bau pesing atau bau lainnya yang tidak sedap dan mengganggu lingkungan sekitar.

Jika urine diibaratkan dosa-dosa yang kita hasilkan dari kegiatan sehari-hari maka air bersih yang menyiramnya adalah perbuatan baik atau amal saleh yang kita hasilkan dalam kehidupan kita. Ternyata kita butuh banyak amal saleh untuk menutupi dosa-dosa kita. Jika kita tidak memperoduksi amal saleh maka hidup kita akan merugi.

Dan untuk memproduksi amal saleh itu, mudah dan simpel, serta bisa dilakukan terus menerus. Misalnya mengucapkan shalawat, istighfar, membuang duri dari jalan, menyingkirkan batu dari jalan, berbaik sangka kepada orang, shalat dhuha, shalat witir, menolong orang, mendoakan orang, dan berbagai kegiatan lainnya. Kuncinya adalah memiliki kemauan.

Jika amal saleh yang kita produksi bisa lebih banyak dari dosa yang kita perbuat, insya Allah hidup kita akan mendapatkan kenyamanan. Memang agak tidak masuk akal jika kita merasa amal saleh lebih banyak dari dosa. Seolah-olah kita bisa menghitungnya. Namun hal semacam ini akan bisa dirasakan oleh masing-masing kita jika kita hidup selalu berusaha untuk mematuhi perintahNya dan mencontoh NabiNya, ia akan muncul sendiri dengan hadirnya perasaan yang nyaman dan hati lapang.

Menutup tulisan ini, saya mengutip ayat dari surat As Sajadah yang menerangkan bahwa jika kita hidup sesuai dengan aturan Allah SWT maka akan ada kenikmatan di dunia yang tidak diketahui manusia, di samping kenikmatan di akhirat.

“Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa-apa-apa rezeki yang Kami berikan. Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As Sajadah:15-17). (efs)

Ilustrasi: freefoto.com