Melemahnya Animo dan Kemampuan Memiliki Rumah

Melemahnya Animo dan Kemampuan Memiliki Rumah

Artikel () 14 April 2017 20:51:40 WIB


Bisnis Indonesia edisi 12 April 2017 memberitakan tentang melemahnya atau menurunnya tingkat okupansi ruang perkantoran di Jakarta, terutama di CBD (Center Business District). Colliers Internasional Indonesia menganggap hal ini menyebabkan pengembang enggan dan tidak memiliki gairah membangun gedung perkantoran baru.

Menurut Bisnis Indonesia, booming okupansi ruang perkantoran di Jakarta terjadi pada tahun 2010-2013. Pada tahun 2014 akibat adanya pemilihan presiden secara langsung turut melemahkan okupansi. Dan ternyata ekonomi setelah pilpres juga kurang menggembirakan sehingga berakibat kepada menurunnya okupansi ruang perkantoran di Jakarta.

Menurut hasil riset Colliers terbaru untuk wilayah Jakarta, hanya 79.581 meter persegi ruang perkantoran sewa yang mampu diserap pasar. Sisanya 232.532 meter persegi lainnya masih kosong. Dengan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persenan ternyata belum mampu mendorong naiknya okupansi ruang perkantoran sewa di Jakarta.

Lalu bagaimana dengan sektor properti lainnya, yaitu perumahan. Menurut data dari Bank Indonesia (BI) berdasar uang beredar per Februari 2017 KPR (Kredit Permilikan Rumah) dan KPA (Kredit Pemilikan Apartemen) tumbuh melambat dibanding tahun sebelumnya. Pada tahun 2017 ini angkanya sebesar 7,4 persen. Sedangkan tahun lalu pertumbuhannya sebesar 8,3 persen.

Namun demikian, ternyata dengan adanya KPR bersubsidi dengan bunga 5 persen mampu menjaga permintaan KPR tetap tumbuh. Karena KPR ini permintaannya tinggi. Sementara itu bank-bank sendiri ternyata sudah melakukan upaya antisipasi menghadapi kelesuan permintaan. Yaitu dengan menurunkan bunga/margin seperti yang dilakukan di antaranya oleh BCA, CIMB Niaga, Bank Mandiri, Bank Permata, BRI dan BNI.

BNI Syariah mencoba melakukan terobosan/inovasi di sektor KPR ini yaitu dengan membangun sendiri rumah dan kemudian dijual kepada konsumen. OJK (Otoritas Jasa Keuangan) telah menyetujui pola pembiayaan baru ini. Pembiayaan ini dinamai Griya Swakarya. BNI Syariah mengklaim model pembiayaan ini akan lebih murah dibanding KPR. Karena pemiliknya BNI Syariah sendiri dan bukan Developer sehingga margin pun dan biaya lainnya bisa berkurang. Sehingga konsumen hanya akan membayar harga pokok ditambah margin pembiayaan bank. Sedangkan margin pembiayaan developer bisa dihilangkan.

Meskipun baru sebatas proyek percontohan dengan lokasi di Bogor, BNI Syariah sudah mengeluarkan dana 50 miliar rupiah untuk proyek ini. Ke depannya BNI Syariah akan bekerjasama dengan pengembang. Pengembang akan lebih tenang karena dana pembangunan rumah langsung disediakan BNI Syariah sehingga pengerjaannya bisa lebih cepat.

BNI Syariah sendiri untuk Griya Swakarya ini menyasar kelas menengah atas (harga rumah 500 juta ke atas)   dan kelas menengah bawah (harga rumah 500 juta rupiah ke bawah). Jika dikaitkan dengan program sejuta rumah yang dicanangkan oleh Kementerian PUPR, apa yang dilakukan BNI Syariah ini turut membantu program pemerintah. Pada tahun 2016 telah dibangun 805.109 unit rumah. Rinciannya 569.382 rumah bersubsidi untuk masyarakat kelas bawah atau berpenghasilan rendah, dan 235.787 unit rumah non subsidi.

Di tengah lesunya KPR ternyata tetap ada terobosan yang dilakukan oleh bank. Satu di antaranya adalah Bank Muamalat Indonesia (BMI) yang menerapkan KPR angsuran super ringan yang punya fasilitas bebas biaya pelunasan sebagian. KPR ini juga mengedepankan transparansi dan kepastian. KPR BMI ini diklaim oleh Direktur Konsumen dan Ritel BMI Purnomo laris manis dan membuat pembiayaan KPR BMI melonjak drastis.

Bank lain sepertinya juga sudah melakukan terobosan yang dilakukan BMI dengan cara yang berbeda. Hal ini mengingat selalu ada cara yang dilakukan di tengah kondisi ekonomi Indonesia yang masih butuh pertumbuhan ekonomi lebih baik lagi. Dan mungkin terobosan yang dilakukan oleh salah satu calon kepala daerah di pulau Jawa yang membuat uang muka nol persen untuk pembelian rumah menjadi perhatian masyarakat yang menginginkan memiliki rumah. (efs)

 

Referensi: Bisnis Indonesia, 12 April 2017

Ilustrasi: freefoto.com