Orasi Ilmiah Drs. Weldi Baharari, M.Pd : Evaluasi Kinerja Widyaiswara Dalam Pembelajaran Diklat Kepemimpinan Tk. III Pola Baru
Artikel Badan Pendidikan dan Latihan(Badan Pendidikan dan Latihan) 29 November 2016 09:47:24 WIB
Bismillahirrahmanirrahim
Yang terhormat
- Bapak Kepala Lembaga Administrasi Negara RI,
- Kepala Badan Diklat Provinsi Sumatera Barat
- Prof Dr.Suparno, M.Pd Pakar Evaluasi Pendidikan Universitas Negeri Padang.
- Pembahas Internal dan Kerabat Kerja Widyaiswara Bandiklat Provinsi Sumatera Barat, Unsur Pimpinan Dan Keluarga Besar Badan Diklat Provinsi Sumatera Barat
- Undangan dan Hadiran yang dimuliakan..
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Mengawali penyampaian orasi ilmiah ini Saya menghimbau seluruh hadirin untuk sama-sama memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan berkah yang telah dilimpahkan kepada kita semua. Dan dengan ridho Nya pula saat ini kita dapat hadir mengikuti acara Orasi ilmiah ini. Semoga Allah SWT selalu memberi kemudahan terhadap semua urusan dan melapangkan jalan kitaagar selalu lurus penuh berkah dan kebahagiaan lahir dan batin di dunia dan diakhirat. Sehingga selamanya kita menjadi Aparatur Sipil Negara yang jujur dan amanah, mulia dimata manusia dan mulia dihadapan sang Khalig, Amien.
Hadirin Yang Terhormat
Atas izin Allah SWT. Hari ini Sayadiberi kesempatan untuk manyampaikan orasi ilmiah untuk memenuhi persyaratan kenaikan dalam jabatan fungsional Widyaiswara, dari WidyaiswaraMadya ke jenjang WidyaiswaraUtama padaBandiklatProvinsi SumateraBarat, yang merupakan jabatan tertinggi dalam karier dan profesi Widyaiswara, sangat Kami syukuri sekaligus merupakaan salah satu kebahagiakan Kami sekeluarga.
Orasi ilmiah ini dengan judul :
EVALUASI KINERJA WIDYAISWARA DALAM PEMBELAJARAN DIKLATPIM III POLA BARU DI BADAN DIKLAT PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2014.
Berkaitan dengan ini Saya mohon perkenaan semua hadiran, lebih dahulu untuk menginformasikan bahwa substansi orasi ini berdasarkan penulisan karya tulis ilmiah sebagai hasil Penelitian yang Saya lakukan. Proses penulisan karya ilmiah yang Saya lakukan melalui tiga pentahapan Tahap Pertamamelakukan Penelitian pendahuluan yang dilakukan mulai bulan April 2016 untuk mendapatkan data awal yang diperlukan yang berkaitan dengan penetapan lokasi Penelitian, mencoba melakukanpenelusuran berbagai referensi yang relevan, serta data berkaitan dengan formasi WidyaiswaraBandiklatProvinsiSumatera Barat yang dijadikan sebagai lokus Penelitian, sehingga dapat diperolah data yang akuratjumlah populasi pejabat fungsional Widyaiswara dan menentukan berapa jumlah dariWidyaiswara yang akan dijadikan responden dalam Penelitian ini.
Tahap Kedua dilakukan pada bulan Maidan Juni 2016, meliputi aktivitas berkaitan dengan kegiatan pengumpulan data dan informasi yang dibutuhkan dalam Penelitian, dengan membagikan instrumen Penelitian yang berfungsi untuk memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan. Penilaian Instrumen menggunakan Skala Likert.Sebelum digunakan instrumen terlebih dulu telah di uji cobakan kepada Widyaiswara padaLembaga Diklat lainnya di Sumatera. Barat Di samping itu instrumen itujuga melalui pengujian dengan menggunakan formulasi realibilitas dan validatas, Selain dan itu Saya juga mengkonsultasikan instrumen yang akan digunakan dalam pengumpulan data dan informasi ini, kepada Pakar pendidikan di Universitas Negeri Padang, Kegiatan berkaitan dengan pengumpulan data dilakukan dengan membagikan daftar pertanyaan (kuesioner) kepada kerabat kerja Widyaiswara yang berpartisipasi dalam pelaksanaan program Diklatpim III tahun 2014. Guna mendapatkan informasi dalam bentuk data kualitatif juga menyiapkan format wawancara. Dengan tujuan agar wawancara dilaksanakan secarajelas dan terarah.Takap Ketiga adalah tahap kegiatan pengolahan dan analisis data dan penyelesaian proses penulisan yang Alhamdulillah pertengahan Minggu pertama Juni 2016 hasil Penelitian dan Naskah Karya Tulis Ilmiah dapat diselesaikan dan telah dilakukan Pra Orasi pada tanggal l3Juni 2016 yang selanjutnya diorasikan pada hari ini.
Hadirin Yang Saya Hormati.
Karya tulis ilmiah tersebut (KTI) disusun selain untuk kepentingan pemenuhan kewajiban orasi ilmiah bagi setiap Widyaiswara guna mencapai jabatan WidyaiswaraAhli Utama sebagai program pengembangan kompetensi Widyaiswara, juga dimaksudkan untuk memberikan sumbangan pemikiran khususnya kepada BandiklatProvinsiSumatera Barat untuk mengungkapkan bagaimana peta kompetensi Widyaiswaradalam melaksanakan proses pembelajaran serta mengembangkan program Diklatpim III, berdasarkan kenyataan empiris yang dapat diketemukan dan hasil Penelitian. Lebih dari itu juga dapat memberikan masukan kepada Pemerintah Daerah dalam merumuskan kebijakan dalam penempatan pegawai dalamjabatan yang berorientasi pada peningkatan kinerja pemerintah daerah, khususnya dalam jabatan fungsional Widyaiswara yang mempunyai peran kunci dalam mengembangkan sumber daya aparatur, baik dalam tataran teknis dan fungsional
Diklat merupakan investasi sumber daya manusia (Human Resources Investmen), guna meningkatkan kompetensi sumber daya aparatur pemerintah dalam bentuk pengetahuan, ketrampilan sikap dan prilaku. Seharusnya dengan adanya Diklat tersebut aparatur pemerintah mampu melaksanakan tugas sesuai dengan standar kompetensi yang telah digariskan.
Simamora (1999:336),mengungkapkanpermasalahan yang bersifat spesifik dapat terjadi pada seorang karyawan baru, yang dalam masa peralihan dari dunia akademis ke dunia kinerja, sehingga bagi mereka diperlukan adanya kegiatan Diklat dalam bentuk orientasi atau pengenalan dunia kerja.
Diklat pada prinsipnya diperlukan oleh setiap aparat dalam meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, sikap dan kinerja secara profesional, agar mereka mampu mengikuti pesatnya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta untuk dapat memenuhi tuntutan masyarakat terhadap pelayanan publik serta pola penyelenggaraan pemerintahan dalam era desentralisasi. Diklatpim III Pola Barudirancang untuk pengisian kompetensi aparatur dalam jabatan eselon III sehingga mereka mampu memberikan pelayanan publik yang dibutuhkan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Pola pelaksanaannya diatur Perkalan Mo 12 Tahun 2013.Kegiatan Diklatpim III Pola Baru, salah satu tugas strategis yang diemban oleh BandiklatProvinsi SumateraBarat dalam peningkatan kualitas sumber daya aparatur, telah dilaksanakan dengan baik, dan penuh dedikasi serta tanggung jawab. Diklatpim III Pola Baru dilaksanakan mengacu pada pedoman penyelenggaraan yang berkaitan dengan tujuan dan sasaran, standar kompetrensi jabatan, struktur kurikulum dan silabus, peserta, sumber daya manusia, metode sarana dan prasarana, pola penyelenggaraan, perencanaan, pembinanaan dan pembiayaan serta evaluasi. Pengelolaan pelaksanaan kegiatan Diklat dari sisi sumber daya manusia mencukupi salah satunya ketersediaan Tenaga Fungsional Widyaiswara sebanyak 29 orang dengan berbagai disiplin ilmu dan pengalaman serta strata pendidikan dariS1, S2 serta S3 sedangkan yang berpartisifasi serta dalam pembelajaran Diklatpim III Pola Baru sebanyak 20 orang, tetapi dari sudut kinerja masih perlu dipertanyakan. Berdasarkan pengamatan yang sering dilakukan penyelenggara kurang mengikuti perkembangan pola dan strategi belajar pada Diklatyang lebih inovatif, sehingga penyelenggara Diklat belum semuanya professional..
Proses pembelajaran Diklatpim III Pola Baru dilakukan dengan pendekatan Andragogy, kondisi emosional peserta yang berbeda dengan pembelajaran pada lembaga pendidikan formal. Butuh adanya motivasi, secara individu berkaitan dengan pengetahuan dan perubahan prilaku serta harapan dalam pengembangan karier dan peningkatan jabatan di masa datang, relevansi dan pengalaman belajar yang diberikan menyesuaikan kebutuhan. Saya menyatakan pembelajaran dalam diri orang dewasa merupakan suatu proses emosional dan intelektual. Mereka akan inten dalam kegiatan pembelajaran, bila kegiatan tersebut memberi nilai tambah terhadap pikiran dan perasaannya, adanya kesediaan untuk saling memberi dan menerima.
Diklat sekaligus merupakan proses evolusi, terhadap perubahan kemampuan orang dewasa yang tidak bisa dipaksakan. Perubahan prilaku tidak terjadi secara cepat tetapi ada usaha untuk mencoba ke arah perbaikan. Belajar bagi orang dewasa dapat merupakan keterpaksaan, apabila rendahnya relevansi dari pengalaman belajar yang ditawarkan dalam bentuk pengembangan kemampuan dan tidak adanya rasa saling memberi dan menerima antara Peserta Diklat dan Widyaiswara.
Merubah diri orang dewasa bukan sesuatu yang mudah, sebab dalam pembelajaran mereka tidak menyukai proses yang didominasi oleh ceramah, perlu penyesuaian gaya belajar individu. Dalam kegiatan Diklatpim III Pola Baru, pengalaman belajar merupakan sumberbelajar individu. Sumber belajar yang paling kaya adalah Peserta dan pengalaman belajar Peserta sendiri, sehingga perlu penataan pengetahuan dan pengayaan dari pengalaman belajar dari pengalaman belajar yang telah dimiliki. Dan segi usia Peserta Diklatpim III Pola Baru (75%) di atas 40 tahun secara psikologis berada dalam fase masa Dewasa Madya hampir setengah Baya (Middle Age).
Dalam fase ini aspek fisik mulai melemah termasuk fungsi panca indera. Fase perkembangan dalam usia ini diungkapkan oleh Hurlock dalam (Syamsu Yusuf, 2004:54) antara lain (1) pemantapan penerapan nilai-nilai dan agama, (2) mencapai tanggung jawab sosial sebagai warga negara, (3), tanggung jawab sebagai orang tua, (4) menerima dan menyesuaikan din dengan perubahan yang terjadi pada aspek fisik (5) mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karier, (6) pemantapan peran sebagai orang dewasa.Berdasarkan laporan hasil pengamatan yang dilakukan pada beberapa kegiatan Diklatpim III Pola Baru yang telah dilaksanakan di BandiklatProvinsiSumatera Barat, diperoleh informasi beberapa orang Peserta, menyatakan ke ikut sertaannyasebagai Peserta Diklat hanya untuk memenuhi persyaratan administrasi untuk jabatan eselon III.
Diklatpim III Pola Baru diharapkan dapat menghasilkan Alumni yang tidak hanya memiliki kompetensi, tetapi juga mampu menunjukkan kinerjanya sebagai Pemimpin perubahan. Jika sebelumnya keluaran peserta Diklat hanya menghasilkan sebuah dokumen kertas kerja, maka dalam Diklat pembaharuan ini, peseta Diklat diminta mampu membuat suatu perubahan nyata. Untuk itu dalam program Diklat yang baru ini, keluaran peserta Diklat tidak serta merta mendapatkan sertifikat kelulusan yang dikenal dengan Certificate of Competence, peserta bisa saja memperoleh Certificate of Attendance yang hanya diberikan sebagai tanda berpartisipasi dalam kegiatan dilkat tersebut. Indikator kategori terakhir ini adalah bisa saja peserta yang bersangkutan tidak menghadiri Diklat sebanyak 100%. Inilah yang membedakannya dengan system penyelenggaraan Diklat pola lama dengan yang baru, misalnya pada Diklatpim 3 dan 4, output yang dihasilkan adalah berupa Kertas Kerja Perorangan (KKP), namun Diklatpim Pola Baru, lebih menekankan pada proyek perubahan apa yang dapat mereka lakukan ditempat kerja mereka selama kurang lebih 60 hari.
Selain itu ada alumni yang telah memiliki sertifikat Diklatpim III konvensional tetapi prilaku kesehariannya belum sesuai dengat kriteria yang harus dimiliki oleh seorang pejabat eselon III. kenyataan yang ditemui dalam pelaksanaan tugasnya di lapangan yakni adanya sebuah tendensi dimana peningkatan profesionalitas dan kinerja seorang PNS seakan berhenti sampai berakhirnya kegiatan Diklatdengan arti kata hasil dan program Diklat belum memperlihatkan perubahan kualitas yang permanen.
Dalam proses pembelajaran ada Peserta yang secara psikologis dirinya seakan tidak menyatu dalam kegiatan Diklat. Ada kesan bahwa materi pembelajaran yang disajikan lebih bersifat teoritis dan utopis, kurang relevan dengan kebutuhan Peserta dalam pelaksanaan tugas sebagai Pegawai Negeri Sipil. Disamping itu beberapa Widyaiswara yang memposisikan dirinya sebagai penguasa dan serba tahu dan memandang peserta di bawah kendalinya, karena merasa sangat menguasai teknologi informasi, pada hal belum mampu menggunakan metode pembelajaran yang tepat, kurang dalam penggunaan media pembelajaran dan kurang mampu memberikan dorogan dan semangat belajar kepada peserta, salah satu penyebabnya rekruitmen Widyaiswara kurang selektif dan hanya mengutamakan kuaitas dan menabaikan aspek prilaku dan keteladanan.
Kurikulum dan Silabus Diklatpim III Pola Baru distandarkan oleh LAN-RI sebagal Instansi Pembina Diklat Aparatur dan diupayakan sesuaikan dengan kebutuhan dan situasi Negara. Hal yang dianggap relevan dengan kebutuhan ternyata masih dipertanyakan oleh Peserta. Masih ditemukan Sebagian Widyaiswara di lingkungan BandiklatProvinsi SumateraBarat dari segi pengalaman dan penguasaan metode pembelajaran dan evaluasi yang digunakan sering tidak sesuai dengan tujuan dan sifat materi yang difasilitasinya. Dalam pemilihan mata Diklat yang akan diampu oleh Widyaiswara cendrung berorientasi pada jumlah jam pembelajaran, karena sekaligus memberikan kontribusi secara ekonomis, belum pada penekanan pemahhaman dan segi keilmuan dan pengalaman (Learning Experience). Pemanfaatan media dan alat bantu pembelajaran dalam bentuk multimedia masih perlu peningkatan.
Berdasarkan data sekunder terungkap, dimana tingkat keberhasilan Peserta Diklatpim III konvenaional dalam bentuk hasil belajar kognitif 40 orang peserta angkatan terakhir Tahun 2013 nilai tertinggi 65 dicapai oleh lima orang peserta, nilai terendah 57 dicapai oleh delapan dengan nilai rata-rata 63, selain itu dalam penyelesaian tugas pribadi peserta ada kebiasaan melakukan duplikasi dan tugas peserta lainnya. Evaluasi penyelenggaraan dilakukan secara sederhana dan tidak mendalam.Hasil pembelajaran Peserta terhadap materi ujian secara komprehensifsering tidak menggembirakan.
Dalam pelaksanaan ujian selama dua hari di mana perangkat soal dan pemeriksaan lembar jawaban peserta dilakukankan oleh Instansi Pembina, ada kecendrungan soal tersebut terlalu berat bagi seorang pejabat eselon III terutama dalam bentuk penyelesaian analisa kasus.
Untuk melihat keberhasilan dan penyelenggaraan kegiatan Diklatpim III Pola Baru, perlu dilakukan Penelitian tehadap kinerja Widyaiswara dalam pembelajaran berkaitan dengan aspek perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran. Evaluasi juga dilakukan terhadap peserta berkaitan dengan tanggapan peserta tentang Program Diklatpim III Pola Baru dengan aspek materi, Widyaiswana dan pelaksanaan kegiatan Diklat, serta hasil capaian hasil belajar Peserta secara kognisi, afeksi dan psikomotorik peserta selama proses pembelajaran.
Berdasarkan fenomena di atas ditemukan permasalahan dalam penyelenggaraan Diklatpim III Pola Baru berkaitan dengan (1) Tidak sama tujuan peserta (2) Kurikulum kurang relevan dengan kebutuhan lapangan/dunia kerja peserta Diklat, (3) Belurn optimalnya pengembangan modul dan bahan ajar, (4) Metode mengajar Widyaiswara kurang bervariasi, (5) Kurangnya Pemanfaatan rnultimedia (6) Pengelolaan Diklat kurang profesional, (7) Penataan ruang belajar terlihat kaku, (8) Kurangnya pembinaan dan pemberian fasilitasi kepada Widyaiswara sebagal langkah pengembangan sikap profesionalitas. Sebagai seorang Widyiswara, Saya akan membatasi ranah Penelitian, yang hariiniSaya publikasikan, yaitu masalah Pembelajaran.
Berdasarkan fenomena diatas dalam hal ini selaku Peneliti merumuskan masalah berkaitan dengan
Kinerja Widyaiswara Dalam Pembelajaran DiklatpimIII Pola Baru Meliputi aspek Perencanaan, Pelaksanaaan dan Evaluasi Pembelajaran serta hasil belajar Kognitif Peserta.Penelitian yang Saya orasikan ini adalah bertujuan mengungkapkan, pengkajian bagaimanan peta kompetensi Widyaiswara dalam pembelajaran.
Hasil Penelitian tentang Kinerja Widyaiswara dalam Pembelajaran pada Diklatpim III Pola Baru, di BandiklanProvinsiSumatera Barat antara lain yang akan bermanfaat sebagai : (1) Masukan bagi BandiklatProvinsi SumateraBarat, dalam melakukan penyempurnaan kurikulum dan silabus Diklatpim III Pola Baru, (2) Rekomendasi kepada Bandiklat untuk memberikan kesempatan kepada Widyaiswara terkait dengan peningkatan kompetensi secara berkelanjutan sesuai dengan perkembangan Iptek, (3) Masukan bagi Instansi Pembina Kediklatandalam memberikan kesempatan kepada Widyaiswara untuk meningkatkan kompetensi dalam pembelajaran sesuai dengan perubahan dunia kerja peserta, (4) Potret diri kinerja Widyaiswara dalam pembelajaran, (5) informasi awal bagi Peneliti selanjutnya.
Hadirin Yang Terhormat:
Kita perlu menyadari tugas yang diemban oleh seorang Widyaiswara, sangat panting dalam meniñgkatkan kualitas sumber daya aparatur, hal itu terkaitan dengan proses pembelajaran.sehingga perlu kiranya kita coba untuk memahami beberapa pendapat para ahli berkaitan dengan Penelitian yang saat ini hasilnya sedang diorasikan, Fremon dkk (1982) menyatakan kinerja adalah proses individu untuk mencapai tujuan yang relevan. Ivanevic dan Donelly (1982) menyatakan kinerja disebut juga prestasi kerja, yaitu hasil yang dicapai yang diinginkan oleh prilakunya. Timpe (1993) kinerja adalah penilaian tingkat kinerja yang dilakukan dengan jelas. Gibson dick (1992) menyatakan kinerja sama dengan prestasi kerja, yaitu hasil yang diinginkan dan suatu pekerjaan. Berdasakan pendapat tersebut disimpulkan kinerja Widyaiswara adalah kemampuan dan hasil kerja Widyaiswara dalam melakukan tugas dan tanggung jawabnya.Keberhasilan dalam proses pembelajaran sangat ditentukan oleh Widyaiswara selaku tenaga pendidik. Ditegaskan oleh Zaini Arifin Achmadi (1990) bagaimanapun baik dan lengkapnya, metode, media dan lengkapnya perangkat kunikulum, namun keberhasilan dalam pembelajaran Diklat tergantung pada kinerja Widyaiswara.
Snellbecker (1974) ciri perubahan sebagai basil proses pembelajaran antara lain (a) terbentuknya tingkah laku yang baru, dalam bentuk kompetensi yang aktual dan potensial, (b) benlaku dalam jangka yang waktu yang relatif lama, (C) itu diperoleh melalui usaha. Pendapat mi sesuai dengan apa yang dinyatakan oleb Salomon, bahwa keberhasilan seseorang dalam proses pembelajaran, dipengaruhi oleh seberapa besar usaha mental yang dilakukan oleh seseorang dalam proses pembelajaran. Hal ini juga terlihat dalam proses pembelajaran Diklatpim III Pola Baru, dimana Peserta merupakan orang dewasa, belajar berdasarkan kebutuhan dan menyukai pembelajaran kalau materi yang diberikan berkaitan dengan kebutuhannya di dunia kerja dan dekat dengan pengalaman belajar yang telah dimiliki sebelumnya.Bloom (1956) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan hasil perubahan prilaku seseorang, yang diperoleh seseorag sebagai dampak belajar, dimana basil belajar dapat diklasifikasikan dalam bentuk tiga ranah atau domain, yaitu kognitif domain, afektif domain dan psikomotor. Dalam kegiatan pembelajaran Diklatpim III Pola Baru. Peserta selaku pebelajar perlu memiliki minat dan motivasi sebab tanpa adanya dukungan Peserta dan keseriusan Peserta dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dan mata Diklat yang diberikan, maka hasil kegiatan pembelajaran tidak efektif.
Diklat merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan kemampuan profesionalisme sumberdaya manusia (Human Resources) dan suatu organisasi, tidak membedakan apakah organisasi itu berorientasi bisnis ataupun organisasi yang bersifat niir laba. Diklat sebagai usaha untuk meningkatkan kinerja karyawan dalam pekerjaan dan jabatan tertentu yang sedang dipegangnya. Diklat mengacu pada perubahan dalam bentuk pengetahuan khusus, keterampilan dan pnilaku. agar lebih efektif perlu melibatkan pengalaman belajar dalam merencanakan aktivitas organisasi (Bemanlin & Russel1999:172)
Selanjutnya Brinkerhoff dkk.(1993) menyatakan untuk dapat terselenggaranya sebuah kegiatan Diklat yang berkualitas, secara minimal harus mampu memenuhi kriteria yang digariskan yaitu:
- Bertujuan untuk meningkatkan kemampuan peserta Diklat.
- Strategi Diklat secara teroi harus benar, sedangkan secara praktis bermanfaat dan dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan sumberdaya yang tersedia secara maksimal.
- Implementasi Diklat hendaknya dapat dikelola secara efesien dan responsiv terhadap masalah-masalah yang mungkin timbul dan terhadap perubahan kondisi.
- Semua keputusan yang diambil harus didasarkan pada pengetahuan atau keterampilan hasil Diklat.
Bernardin & Russel (1993: 170) juga menegaskan secara esensial bahwa suatu program Diklat diharapkan mampu membawa perubahan, baik terhadap organisasi, program ataupun hasil. Perubahan tersebut merupakan proses dari kondisi sekarang yang ditemui mengarah pada kondisi standar yang ingin dicapai, sehingga secara tegas dikatàkan suatu kegiatan Diklat diselenggarakan karena adanya kesenjangan antara kinerja saat sekarang dengan kinenja yang diharapkan pada masa datang.
Kegiatan Diklat diselenggarakan melalui suatu proses yang bersifat integral, melalui tiga tahap kegiatan yang diawali oleh kegiatan analisis kebutuhan Diklat (Needs Assessment) sebagai usaha untuk mendapatkan data dan infonnasi berkaitan dengan apa jenis dan bentuk pelatihan yang diperlukan. Setelah tahap mi dilalui dilanjutkan dengan tahap pengembangan program Diklat (Development) dengan tujuan untuk merancang program Diklat serta penentuan metode yang dibutuhkan untuk mencapai tqjuan yang ingin dicapai dan kegiatan Diklat. Setelah tahap pengembangan akan dilanjutkan dengan tahap evaluasi program Diklat dengan tujuan untuk melakukan pengujian serta memberikan penilaian apakah program-program Diklat yang telah dilaksanakan efektif atau mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Proses pengembangan ini dapat dilihat pada Gambar 2 berikut:
Needs Assesment Development Evaluation
Keberhasilan seseorang dalam melaksanakan tugas bergantung pada kompetensi yang ia miliki. Jika seseorang memiliki kompetensi yang cukup maka ia akan mudah menyelesaikan tugas dengan baik. Mohd Uzier Usman (2005:14) menyatakan kompetensi seorang Widyaisawara merupakan kemampuan dan kewenangan Widyaswara dalam melaksanakan tugas kependidikannya.
Widyaiswara merupakan tenaga kependidikan sesuai dengan yaitu dinyatakan dalam Pasal 13 UUSP/2003, setara dengan pendidikan lainnya seperti Widyaiswara, Dosen, Fasilitator dan lnstruktur serta sebutan lainnya. Istilah Widyaiswara berasal dan bahasa Sanskerta, yaitu dan dua kata Vidhia dan Isvara. Kata vidhia dapat diartikan sebagai pilihan atau yang unggul sedangkan kata Isvara berarti ilmu pengetahuan, sehingga diterjemahkan dalam bahasa Indonesia Widyaiswara merupakan orang-orang pilihan, karena penguasaan ilmu pengetahuan. Dalam pelaksanaan tugasnya, berkaitan dengan peningkatan sumberdaya manusia aparatur, Purwastuti dan Prayitno (2002:28) adalah bertanggung jawab dalam peningkatan kualitas dan kompetensi pegawai negeri sipil, berperan sebagai 1) fasilitator 2) motivator, 3) moderator, 4) inspirator 5) inovator 6) dinamisator 7) Peneliti 8) konsultan Kediklatandiungkapkan oleh (Puswastuti dan Prayitno 2002 :3 1).
Hadirin Yang Terhormat, Dalam Penelitian ini Fokus pembahasan adalah :
a) Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan berasal dan kata design yang dapat diartikan sebagai rancangan atau perencanaan. Ahmad (2004:67) menyatakan perencanaan sebagai suatu peniikiran atau persiapan untuk melaksanakan suatu tugas atau pekeijaan untuk mengambil suatu keputusan terhadap apa yang akan dilaksanakan oleh seseorang untuk mencapai tujuan tertentu sebagaimana yang telah ditetapkan dengan melalul prosedur atau langkah-langkah yang sistematis dan memperhatikan prinsip-prinsip pelaksanaan pekei:jaan atau tugas tersebut.
b) Pelaksanaan Proses Pembelajaran.
Adapun yang menjadi tahap-tahap kegiatan pembelajaran meliputi (a) tahap pembelajaran (b) tahap pembelajaran (c) tahap penilaian dan tindak lanjut. Menurut Cony (1989) pelaksanaan pembelajaran secara sistematis terdiri dari tahap-tahap sebagai berikut (a) menyampaikan tujuan pembelajaran (b) menuliskan pokok bahasan dan materi pembelajaran (c) melakukan pembahasan materi pembelajaran (d) memberikan contoh konknit untuk setiap materi pembelajaran yang dibahas (e) menggunakan media yang sesuai dengan setiap materi pembelajaran untuk penjelasan materi yang disajikan. untuk penjelasan materi yang disajikan.
Ketrampilan Widyaswara dalam berkomunikasi dalam kegiatan proses pembelajaran menurut T.Raka Joni (1984:2) meliputi 4 kompetensi pokok yaitu : (1) Kompetensi Widyaiswara dalam mengembangkan sikap positif dalam proses pembelajaran. (2) Kompetensi Widyaiswara bersikap luwes dan terbuka dalam kegiatan pembelajaran. (3) Kompetensi Widyaiswara untuk tampil dengan semangat serius dalam kegiatan pembelajaran.(4) Kompetensi Widyaiswara untuk mengelola interaksi dalam proses pembelajaran.
KompetensiWidyaiswara untuk dapat menyelenggarakan pembelajaran secara serius dan antusias dalam kegiatan tatap muka terlihat melalui 1) mimik, intonasi dan bahasa tubuh dan penggunaan media dan alat bantu belajar 2). Upaya menstimulasi minat peserta dengan mewujudkan dalam bentuk besarnya semangat pada waktu memulai kegiatan pembelajaran, melibatkan seluruh peserta secara aktif dengan tidak mengabaikan perbedaan individu.
Kompetensi Widyaiswara dalam mengelola proses pembelajaran sebagai bentuk interaksi, dan bagaimana cara 1) mengembangkan hubungan yang sehat dan kondusif proses pembelajaran, 2) membimbing agar interaksi sesama peserta dan Widyaiswara dapat dipertahankan 3) mengambil tindak yang bereaksi secara cepat teiiaadap gangguan dalam proses pembelajaran. Ketiga hal ini merupakan bentuk implementasi dan pendekatan belajar orang dewasa dimana Peserta Diklatidalnya merupakan individu yang telah mencapai tingkat kematangan secara mental dan emosional.
(a) Materi Pembelajaran
Saylor dan Sander (1966) dalam Modul penyusunan Kurikulum dan Silabus Bandiklat Depdagii 2005, mendefiniskan mated pembelajaran atau kontent lebih luas dan tarinci yaitufakta, observasi, klasifikasi, desain dan pemecahan masalah yang telah dihasilkan dalam bentuk pengalaman dan pikiran manusia yang terstruktur dalam bentuk ide-ide, konsep, prinsip-prinsip, kesimpulan, perancanaan dan solusi. Konsep konten tersebut masih terlalu luas, tapi tidak memasukkan unsur keterampilan senta nilai-nilai. Sementara Hymen (1973) mengkonsepsikan konten atau kurikulum sebagal ilmu pengetahuan, dalam bentuk fakta, keterangan, prinsip-prinsipserta definisi, sedangkan ketrampilan dan proses dalam bentuk membaca, menulis, berhitung dan kemampuan gerak serta berfikir kritis.
(b) Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran berdasarkan apa yang diungkapkan oleh (Yasin:2000) adalah cara tersusun dan teratur untuk mencapai tujuan khususnya dalam hal pengetahuan. Bertitik tolak dengan apa yang disebutkan di atas, penerapan metode pembelajaran dalam kegiatan Diklatpim III Pola Baru, harus dilandasi oleh konsep dan prinsip-prinsip pembelajaran, sebab secara hakiki kegiatan Diklat hendaknya dapat memberikan kemudahan bagi peserta untuk berperan aktif dalam proses pembelajaran. Beberapa alternatif berkaitan dengan penerapan metode pembelajaran dapat dilakukan oleh Widyaiswara yang relevan dengan kebutuhan proses pembelajaran yang akan dilaksanakan.
(c) Media Pembelajaran
Media pembelajaran merupakan suatu elemen pendukung lainnya yang juga sangat memegang peranan penting dalam suatu proses pembelajaran. Gagne (dalam Sadiman,1996), mengatakan media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan peserta yang dapat memberikan rangsangan untuk belajar.
Cronbach dan Ely (1971) melakukan pembagian terhadap media atas 9 kategori meliputi (1) benda nyata (2) pembelajaran verbal apakah dilakukan secara lisan atau tulisan (3) grafik dan diagram (4) gambar diam (5) gambar bergerak (6) rekaman suara (7) program apakah berupa buku atau film 8) simulasi dan (9) bermacam permainan atau game.
c) Evaluasi Pembelajaran
Dalam tataran praktek kegiatan pendidikan baikpada jenjang pendidikan formal maupun kegiatan Diklat dalam lingkup peningkatan kemampuan dan pengembangan kualitas sumberdaya manusia aparatur dalam arti peningkatan pengetahuan, keterampilan dan perubahan sikap dan prilaku, tidak dapat dilepaskan dan kegiatan evaluasi. Evaluasi atau penilaian sering dipahami sama dengan pengukuran, sebenarnya antara kedua kegiatan tersebut berbeda. Pengukuran dapat diberi makna sebagai kegiatan üntuk melakukan pengumpulan data atau informasi, sedangkan kegiatan Evaluasi berarti penilaian yang berarti menginterprestasikan atau memberi makna terhadap data yang telah dikumpulkan melalui hasil pengukuran.
(1) Prinsip Dasar Penilaian;
Prinsip-prinsip penilaian tersebut diuraikan dalam kurikulum Nasional 1994, Buku Tiga B antara lain, (a) menyeluruh, (b) berorientasi kepada tujuan (c) berkelanjutanm proses pembelajaran, (d) objektif (e) terbuka, (f) bermakna, (g) berkesesuaian, (h) mendidik, semua prinsip-prinsippenilaian perlu diterapkan oleh Widyaiswara dalam melaksanakan tugas berkaitan dengan pembelajaran.
(2) Tujuan dan Fungsi Penilaian
Kegiatan penilaian dalam program Diklat dapat dilãkukan dalam tiga fase, dapat dilakukan sebelum peserta mengikuti kegiatan pembelajaran dalam bentuk pelaksanaan tes awal atau pretest, Selanjutnya evaluasi juga dapat dilakukan selama proses pembelajaran dan setelah berakhirnya pelaksanaan pembelajaran atas materi yang disajikan sebagai pengalaman belajar yang harus dimiliki oleh peserta.
(3) Prosedur dan Tujuan Penilaian
Sujana (2003 :11) menyatakan untuk melakukan kegiatan penilaian memerlukan tiga langkah yang harus dilakukan secara keseluruhan dalam proses pembelajaran meliputi evaluasi awal, evaluasi pelaksanaan dan evaluasi akhir. Untuk mendapatkan informasi berkaitan dengan efektifitas program Diklat dapat digunakan bermacam instrumen evaluasi dalam bentuk test ataupun non test melalui kuisioner atau dalam bentuk wawancara atau interview. Selanjutnya Stanley (dalam Wayan 1983 :6) menyatakan kegiatan pembelajaran dilakukan berdasarkan prosedur dan teknik tertentu. Dalam melaksanakan penilaian meliputi antara lain 1) Menentukan tujuan program pendidikan. 2) Melakukan pemilihan terhadap alat-alat yang akan digunakan yang relevan. 3) Melaksanakan kegiatan pengukuran. 4) Pemberian skor. 5) Menganalisa dan menafsirkan skor yang diberikan. 6) Memuat catatan yang baik. 7) Menggunakan hasil pengukuran.
Hadiran Yang Dimuliakan
Sebagai jawaban sementara Sayaberasumsi masih belum kompotennya Widyaiswara dalam pembelajaran Diklatpim III Pola Baru, rendahnya hasil belajar kognitiv Peserta Diklatpim III Pola Baru.
Penelitian ini merupakan Penelitian Expost Pacto, mengungkap apa yang telab terjadi dan dilaksanakan berkaitan dengan kemampuan Widyaiswara dalam pembelajaran Diklatpim III Pola Baru, yang dilaksanakan tahun 2014, dengan populasi 20 orang Widyaiswara dan 30 orang Peserta Diklatpim III Pola Baru yang dibatasi dalam priode waktu tahun 2016, selanjutnya hipotesis Penelitian sebagai jawaban. Untuk fokusnya Penelitian perlu adanya kesamaan pemahaman.
Tuckman(1978:79) An operational definition bases on the observable characteristic of that whch is being definet.
Sebagai tindak lanjut apa yang diungkapkan Tuckman di atas untuk memberikan penjelasan terhadap hal-hal yang dikemukakan sebelumnya, Sehingga selaku seorang Peneliti, Dalam Penelitian diberikan definisi operasional dan sasaran dariPenelitian.
- Kinerja Widyaiswara adalah hasil kerja (Performance) Widyaiswara dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik, pengajar dan pelatih.
- Diklatpim III Pola Baru adalah kegiatan Diklat yang dirancang dalam pengisian kompetensi pegawai negeri sipil yang telah menduduki jabatan atau dipersiapkan untuk menduduki jabatan eselon III.
- Pelatihan adalah serangkaian aktivitas yang dirancang untuk meningkatkan keahlian-keahlian, pengetahuan tertentu, ataupun pengalaman.
- Pengembangan adalah usaha untuk mempersiapkan individu untuk memikul tanggungjawab yang berbeda atau yang lebih tinggi dalam organisasi.
- Widyaiswara adalah Pegawai NegeriSipil yang diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diberi tugas, tanggung jawab dan hak penuh untuk melaksanakan Dirjartih, pengembangan dan evaluasi pelaksanaan Diklat pemerintah.
- Bandiklati merupakan singkatan dan nama organisasi yaitu Badan Pendidikan dan Pelatihan ProvinsiSumatera Barat, dengan tugas pokoknya, sebagai lembaga teknis dalam pengembangan sumberdaya aparatur.
Data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen dalam bentuk angket, untuk Widyaiswara ditetapkan 3 variabel,(1) perencanaan, pembelajaran, (2)melaksanakan Pembelajaran, (3)menilai pembelajaran. Sebelum digunakan dilakukan coba kevalidan instrumen secara konstruksi dan kontensi, setiap komponen secara reabilitat dilakukan pengujian dengan formula t hitung> t tabel, untuk reabilitas menggunakan formula Alpha Cronbach, setelab data terkumpul diolah melalui uji statistik menggunakan program statistik SPSS Versi 14.00.
Hadirin Yang Terkormat
Berdasarkan data yang diperoleh dengan teknik deskriptif analisis yang bertujuan untuk melihat kemampuan Widyaiswara dalam merencanakan, melaksanakan dan menilai pembelajaran di BandiklatProvinsi SumateraBarat, sesuai dengan hipotesis penlitian Saya menyimpulkan hal-hal sebagai berikut : dalam.
- Merencanakan pembelajaran Widyaiswara di BandiklatProvinsi SumateraBarat, kategoni BaikSekali meliputi dalam kegiatan pengembangan ilakukan Widyaiswaraadalah mengembangkan Rancang Bangun Pembelajaran Mata Diklat(RBPMD). Komponen RPBMD terdiri rumusan standar kompetensi, kompetensi dasar, Kegiatan Pembelajaran danpengembangan alat evalusi.
- Melaksanakan pembelajaran, Widyaiswara di BandiklatProvinsi SumateraBarat memiliki kompetensi Baik Sekali. Pelaksanaan pembelajaran pada Diklatpim III Pola Baru meliputi, membuka pelajaran dengan cara pemberian kesempatan yang luas kepada peserta untuk mengemukakan pengalaman lapangan, atau memberikan contoh kasus.
- Melaksanakan inti proses belajar mengajar dilakukan oleh Widyaiswara, menggunakan metode mengajar dengan pendekatan Andragogy (participant centered). Pembelajaran ditutup biasanya dilakukan dengan pemberian kesempatan untuk bertanya, dan tidak pernah dengan tes karena tes diadakan di akhir program.
Dalam menilai pembelajaran Widyaiswara di BandiklatProvinsi SumateraBarat juga memiliki kompetensi dalam kategori Baik. Kegiatan menyiapkan perangkat penilaian dilakukan Widyaiswara sekaligus dengan perangkat RPBMD, yang terdiri dan kisi-kisi soal dan item soal yang dilengkapi dengan kunci jawaban. Memeriksa jawaban dan mengolah hasil penilaian dilakukan oleh panitia kecuali materi praktek.
- Penilaian peserta tentang materi dan Widyaiswara adalah Baik, danpenilaian Peserta tentang pelaksanaan kegiatan pembelajaran secara umum juga Baik hal ini terlihat dan kisaran penilaian yang diberikan Peserta adalah sebagian besar antara 60%sampai dengan 90%.
Mencermati temuan Penelitian ini jelaslah bahwa WidyaiswaraBandiklatProvinsi SumateraBarat telah memperlihatkan kinerja Sangat Baik dalam merencanakan dan melaksanakan dan menilai pembelajaran dengan Baik. Meski demikian masih ada sebagian kecil Widyaiswara kurang memperlihatkan kinerja yang lebih baik dalam perencanaan, pelaksanaan evaluasi pembelajaran. Masih adanya kelemahan kinerja sebagian kecil Widyaiswara dalam pembelajaran disebabkan oleh faktor materi pembelajaran belum dikemas menjadi lebih operasional dan mudah untuk dipahami dan diterapkan Peserta di dunia kerjanya.
- Permasalahan ini pada intinya mengindikasikan bahwa Widyaiswara telah mampu merealisasikan tugas pokoknya secara optimal, yang antara lain; 1) mendidik, mengajar dan melatih peserta pelatihan/penataran pada bidang tertentu, 2) menyusun kurikulum, 3).mengadakan evaluasi,4).membimbing peserta pelatihan/penataran, 5).melaksanakan kegiatan ilmiah bagi pengembangan kurikulum dan pengayaan bahan dan sumber belajar, 6).menyusun rencana dan program kegiatan pelatihan/penataran, 7) .melaksanakan kegiatan dan pengembangan program pelatihan,dan 8).membimbing dan membina Widyaiswara dibawahnya.
Keberhasilan seorang peserta dalam mengikuti kegiatan Diklat ditentukan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kemampuan Widyaiswara dalam mengelola pembelajaran baik mulai dan merencanakan, melaksanakan dan menilai pembelajaran. Di samping faktor-faktor lain yang juga ikut mempengaruhi keberhasilan Peserta dalam mengikuti kegiatan Diklat.
Berdasarkan temuan hasilPenelitian tentang kinerjaWidyaiswara dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran secara umum berada dalam kategori Baik Sekali dan menilai pembelajaran dalam kategori Baik, diperoleh indikasi bahwa perlu dipertahankannya kinerja Widyaiswara dalam pembelajaran, yang berkaitan dengan merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran.
Hal ini penting untuk dapat mempertahankan dipertahankannya kinerja Widyaiswara dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran diharapkan mereka mampu melaksanakan tugas-tugasnya secara holistik dengan baik guna peningkatan hasil belajar peserta Diklatpim Pola Baru.
Berdasarkan kesimpulan diatas maka direkomendasikan hal-hal sebagai berikut :
- Kepala BandiklatProvinsi SumateraBarat hendaknya memberikan perhatian yang proporsional kepada Widyaiswara untuk mempertahan kinerjanya mereka. Hal ini dapat dilakukan dengan penciptaan iklim sosial yang kondusifwalau saat ini terasa kurang sehingga Widyaiswara terpacu untuk berkreatifitas, memberikan kesempatan yang luas kepada Widyaiswara untuk mengembangkan diri dengan melanjutkan pendidikan atau mengikuti pelatihan yang relevan dengan keilmuan yang berkaitan dengan kajian yang menjadi pilihan yang akan diampu serta penambahan pengetahuan kependidikan, serta melaksanakan kegiatan-kegiatan Penelitian guna merealisasikan tugas pokoknya secara optimal. Menyikapi keterbatasan kemampuan Widyaiswara tersebut BandiklatProvinsi SumateraBarat hendaklah selalu menjalin kerjasama dengan pihak Instansi Pembina Lembaga DiklatAparatur dan Perguruan Tinggi dan Praktisi Pendidikan lainnya baikWidyaiswara lembaga Diklat lainnya dan Dosen perguruan tinggi di lingkungan LPTK, sehingga upaya meningkatkan kualitas sumber daya aparatur yang merupakan tangung jawab bersama menjadi lebih optimal.
- Widyaiswara hendaknya selalu berupaya meningkatkan kompetensi keilmuannya dan mengembangkan wawasan kependidikan dalam rangka menunjang pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar peserta pelatihan. Diantaranya adalah dengan cara : (1) mengikuti acara seminar, mengikuti pelatihan yang relevan dengan dalam bidang keilmuan dan kependidikan, (2) melaksanakan kegiatan-kegiatan Penelitian yang. dapat mengembangkan kreativitas terutama dalam mengelola pembelajaran. (3) melakukan tindakan klinis dengan melakukan kegiatan class room action research dan (4) melakukan pengamatan terhadap Widyaiswara yang dianggap baik, untuk diambil sebagai contoh dan dikembangkan sesuai dengan kreasi dan inovasi pembelajaran, sehingga dapat menemukan dan sekaligus mengatasi perrnasalahan yang ditemukan dalam pembelajaran, terutama bagi Widyaiswara yang berada dalam satu kelompok kajian.
- Lembaga Administrasi Negara dan Departemen Pendidikan Nasional agar dapat memberikan kemudahan bagi Widyaiswara untuk melanjutkan pendidikan, karena Widyaiswara bukan hanya sebagai perpanjangan usia pensiun tapi adalah jabatan karier dan mengikuti DiklatTeknis dan Fungsional dan Diklat Substantif materi Diklatpim III Pola Baru, serta melaksanakan kegiatan-kegiatan Penelitian sehingga dapat mengembangkan kreativitas yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan kemampuan Widyaiswara terutama dalam mengelola pembelajaran, seperti dengan memberikan Beasiswa yang dengan pengecualian dan ketentuan bea siswa bagi aparatur dalam jabatan lainnya, bersifat khusus serta bantuan finansial untuk mendukung pengadaan fasilitas sumber belajar dan lain sebagalnya.
- Widyaiswara perlu mengoptimalkan penyelenggaraan evaluasi pembelajaran yangdilakukan oleh Widyaiswara dan Bidang penyelenggara Diklatpim III Pola Baru, baikberkaitan dengan materi pembelajaran dan instrumen evaluasi yang digunakanbelum dipahami secara utuh oleh bidang penyelenggara. Peneliti menyarankan agarWidyaiswara sebagai pilar utama keberhasilan Diklatpim III Pola Baru dapat melaksanakanevaluasi pembelajaran terhadap maten yang diujikan dengan menggunakankerangka acuan yang ditetapkan oleh instansi Pembina Diklat aparatur.
- Peneliti Selanjutnya, melihat begitu kompleknya permasalahan yang terdapat diBandiklatProvinsi Sumatera Barat berkaitan dengan Kinerja Widyaaswara danBidang Penyelenggara agar dapat melakukan Penelitian berkaitan denganPenggunaan Media dan Budaya Kerja Aparatur BandiklatProvinsi SumateraBarat.
Namun demikian Saya menyadari bahwa hasil Penelitian ini masih terdapat adanya berbagai kekurangan ataupun keterbatasan terutama dalam penetapan variabel Penelitian, karena variabel-variabel yang mempengaruhi kompetensi Widyaiswara, atau prestasi belajar secara kognitif peserta Diklatpim III Pola Baru juga bukan hanya motivasi,tetapi dimungkinkan terdapat variabel-variabel lainnya seperti lingkungan pembelajaran, karakteristik individu, fasilitas dan pelayanan serta bimbingan, kelembagaan pendidikan dan pelatihan, terbuka peluang dilakukan Penelitian selanjutnya lebihbaik.
Hadirin Yang Terhormal,
Dengan selesainya orasi Sayaini, tidak lupa mengucapkan terima Kepala BandiklatProvinsiSumatera Barat yang memberikan peluang untuk mengembangkan diri, besar sekali dukungan beliau serta kerjasama yang baik seluruh jajarannya, dalam bentuk daya dan informasi yang Saya perlukan, berkaitan dengan selesainya Penelitian ini. Wajar sekali selaku Peneliti mengucapkan terima kasih untuk semuanya, apalagi dukungan moril.
Tidak terlupakan pula ucapan terima kasih kepadaPembahas Karya Tulis Ilmiah Saya pada waktu seminar sehingga layak digunakan sebagai bahan Orasi Ilmiah,yaitu Prof.Dr.Suparno.M.Pd, Drs.H.Arizallidjar.M.M.Si dan Ir.Ismal Basri.M.SiKerabatWidyaiswara dan seluruh elemen BandiklatProvinsiSumatera Barat, baik langsung atau langsung, sehingga proses berjalan lancar, mulai penyusunan proposal Penelitian, Pra orasi hingga pelaksanaan Orasi ilmiah hari ini.
Kepada hadirin dan undangan yang terhormat, Saya sampaikan terima kasih atas kehadiran serta kesabarannya untuk mengikuti orasi ilmiah Sayaini sampai selesai. Buat Ayah dan Bundaku Terkasih Bahar Asna Bahardan Mulyetti.SH Ibu dari Anakku Amelya Retno Pratiwi, Andro Rizqi Prayudha, Andrino Yudha Prakarsa, si bungsu Muhammad Rezaserta seluruh keluarga tercinta, yang selama ini tidak selalu sepenuhnya mendapatkan ruang waktu bersama, karena harus berbagi waktu dan kesempatan untuk kepentingan mengabdi pada profesi Saya sebagai Widyaiswara, sebagai Abdi Negara dan Abdi Masyarakat, dengan setulus hati, Aku mohon dimaafkan dan terima kasih yang sedalam-dalamnya atas segala pengertian dan dukungan moral yang sangat Saya rasakan dalammenjalani pilihan profesi ini
Akhirnya, semoga Allah SWT. senantiasa melimpahkan rakhmat dan hidayah Nya,serta sejahtera dunia maupun diakhirat kelak kepada kita semua. Amien.
Wabillahi Taufiq Wal Hidayah
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Padang, 19 Juli 2016
Drs.WELDI BAHARI.M.Pd
19590425.198703.1.003
DAFTAR PUSTAKA
A.G. Lunandi.(1 987), Pendidikan Orang Dewasa, Jakarta : Gramedia
Ahmad Rohani. (2004. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta : Rineka Grafindo Persada.
A. Qudri Azizi.(1995). Desain Instruksional. Jakarta: Direktorat Jenderal PendidikanTinggi, Departemen Pendidikan clan Kebudayaan
Bernardin dan Russel.( 1998) Human Resource Management. (Second Editions): An Experiential Approach. Singapore: Mc Graw-Hill International
Brinkethoff, R.O dkk (I983, Program Evaluation, Boston, MA : Kluwer-Nijhoff Publishing.
Cochran, WB. (1977) Sampling Techniques: Singapore : Willy and Sons Inc
Departemen Pendidikan Nasional.(2004). Buku III Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah Kejuruan.
Gerlach And Ely D.P. (1980), Teaching And Media, A System Approach. New Yesey Englewood.
Gibson, J.L. Ivancevich, J, M, And Dondlly, J.H.(1989). Organisasi dan Manajemen. Terjemahan H.Sulistyo. Jakarta: Erlangga.
Kementrian Aparatur Negara. (2005). SK Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara, Nomor Per /666/M.Pant/2005 rentang Widyaiswara dan Angka Kreditnya. Jakarta: Ment PAN-RI.
LAN-RI.(2012). Surat Keputusan Kepala LAN-RI Nomor. 12 Pedoman Penyelenggaraan Diklatpim III : Jakarta : LAN — RI.
Moekijad. (1990). Asas-Asas Prilaku Organisasi. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Purwastuti dan Prayitno. (2002). Widyaiswara dan Angka Kreditnya. Jakarta : Bahan Ajar Diklat KeWidyaiswara Tingkat I, LAN-RI.
Romizwosky. (1990), Designing Instructional, London, Kogan Page.
Republik Indonesia. (2001). Peraturan Pemerintah Nomor 101/200, tentang Pendidikan dan Pelatihan PNS dalam Jabatan. Pemerintah Republik Indonesia.
Sardiman. A.M. (2001). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar: Jakarta : PT. Raja Grafrndo Persada.
Schram, Wilbur. (1979). Big Media, Little, ToolAnd Technologyfor Instrucsional. Beverly Hill-California: Sage Publicarion Inc.
Simamora, Jonh. (1997). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : GramediaGrasindo.
Snellbecker, Glenn E. (1974). Learning Theory : Instructional Theo,y And Psychoeducational Design. New York : Ang-Hill inc.
Suharsimi Arikunto.(1996). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
Supomo dan JPG Sianipar. (2002).Desain Instruksional : Bahan Ajar Diklat Kewidyaiswaraan Berjenjang Tingkat Pertama. Jakarta: LAN-RI
Surya Subrata, B. (1999). BeberapaAspekDasar Kependidikan, Jakarta: Rineka Cipta.
Tuckman, Bruce W. (1972). Condition Education Research, New York: Harcout Brace Javanivic Inc.
Usman. Mohd. Uzeir. (2002) Menjadi Guru Profesional. Bandung PT. Remaja Rosdakarya.
RIWAYAT HIDUP ORATOR
|
Nama |
: |
DRS.WELDI BAHARI.M.Pd |
||||
|
Tempat/Tgl Lahir |
: |
Bukittinggi/ 25 April 1959 |
||||
|
Nama Instansi |
: |
Bandiklat Provinsi Sumatera Barat |
||||
|
Jabatan |
: |
Widyaiswara Ahli Madya |
||||
|
Pangkat Dan Golongan |
: |
Pembina Utama Muda/IV.c |
||||
|
|
||||||
|
||||||