Menciptakan UKM Tangguh
Artikel () 23 November 2016 14:00:48 WIB
Menciptakan UKM Tangguh
Oleh : Arzil
Usaha kecil dan menengah (UKM) cukup potensial dimasukkan dalam skema paket kebijakan ekonomi. Pada Paket XI yang lalu, UKM sudah masuk dalam sasaran kebijakan pemberian KUR, secara khusus untuk UKM yang berorientasi ekspor.
Namun, UKM pada umumnya mempunyai masalah kapasitas keuangan. Bagi UKM, hambatan biaya adalah masalah utama yang sulit dipecahkan jika hendak berpartisipasi ke pasar ekspor.
Seperti dikemukakan Deputi Direktur Edukasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) RI, Jaliusm bahwa banyak pelaku UKM terutama yang baru terancam gulung tikar akibat sulitnya melakukan pengelolaan keuangan yang berdampak pada pembuatan neraca dan laporan laba/rugi bagi usahanya.
Itu disampaikan Jalius saat menjadi pemateri dalam sosialisasi training of btraners (TOT) dan training of community (TOC) pada pelaku Usaha Menengah dan Kecil Menengah (UMKM), di Kota Padang, Selasa kemarin.
Nasib kurang beruntung bagi pelaku UKM yang dihadapi saat ini, tidak bisa pula dilepaskan dengan berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sejak awal tahun lalu. Malah pelaku UKM mengaku merasa ketar-ketir dengan datangnya MEA itu.
Menghindari terjadinya kolaps sejumlah UKM itu, pemerintah lalu menurunkan Paket kebijakan yang diuntukkan bagi pelaku UKM. Harapan pemerintah, Paket Kebijakan itu bisa menjadi ‘angin segar’ bagi mereka pelaku UKM itu terlebih bagi UKM pemain lama, yang memiliki pengalaman ekspor sebelumnya.
Sebab, Kebijakan ekspor dan investasi semestinya menjadi fokus pemerintah karena kebijakan ini sangat penting, dan dapat menjadi langkah terobosan cepat untuk memulihkan ekonomi.
Salah satu kebijakan yang dirasa cukup tepat digulirkan pemerintah itu adalah dorongan pemberian KUR berorientasi ekspor (KURBE) kepada usaha kecil dan menengah (UKM).
Karena faktor eksternal berat bagi perekonomian Indonesia, maka strategi kebijakan ekonomi tetap harus mengandalkan ekspor dan investasi agar perolehan devisa tetap berjalan dengan baik.
Sejalan dengan perolehan devisa yang memadai, maka daya tahan ekonomi terhadap krisis akan lebih kuat. Salah satu strategi ekspor yang dapat dijalankan adalah pelibatan usaha kecil dan menengah agar dampak penyerapan tenaga kerjanya lebih luas.
Perekonomian global yang sulit pada saat berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2015. Karena kondisi eksternal tersebut, maka ekpor Indonesia jatuh dan berpengaruh terhadap keseluruhan struktur ekonomi – baik industri, fiskal, pendapatan masyarakat, pajak dan sebagainya.
Sementara itu, ekonomi Indonesia masih mengandalkan ekspor bahan mentah sehingga dalam kondisi eksternal buruk, maka ekonomi Indonesia bermasalah berat. Puncak pertumbuhan ekonomi beberapa ta hun yang lalu mencapai tidak kurang dari 6,5%. Tetapi pertumbuhan ekonomi bertahan hanya sekitar 4,8%.
Pada 2016 ekonomi di perki rakan akan tumbuh jauh di atas 5%, se per ti yang ditargetkan dalam APBN. Namun, banyak ekonom dan lembaga ekonomi tidak ya kin akan mencapai pertumbuhan di atas 5%.
Bank Dunia dalam laporan triwulan (Maret 2016) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2016 sebesar 5,1%, tetapi prediksi tersebut tidak tercapai karena masih tumbuh di bawah 5%.
Berarti Pemerintah masih harus bekerja keras dengan memusatkan perhatian pada paket kebijakannya tidak lagi meluas seperti sekarang, tetapi harus fokus pada penguatan ekspor, terutama pada pasar-pasar baru. Memang tidak mudah karena kondisi eksternal masih belum kondusif.
Paling tidak ekspor Indonesia dapat dipertahankan seperti beberapa tahun yang lalu, mendekati US$200 miliar setahun. Perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia seperti dipatok dalam APBN akan dapat dicapai dengan beberapa catatan, antara lain melakukan reformasi di sektor investasi dan memberikan stimulus untuk mengurai masalah beban dan biaya dalam jangka menengah.
Salah satu upaya kebijakan yang penting adalah kebijakan KUR berorientasi ekspor, yang telah diluncurkan pemerintah beberapa waktu yang lalu.
Selayaknya kebijakan pemerintah mengatasi pertumbuhan ekonomi rendah pada saat ini dengan cara mengutamakan ekspor meskipun faktor eksternal cukup berat dan mengundang sebanyak mungkin investasi.
Kebijakan ekspor seperti inilah (termasuk investasi), yang perlu dijalankan karena pada ma sa stagnasi pertumbuhan, tingkat pengangguran lebih tinggi dan meluas. Jika UKM diser ta kan dalam kebijakan ini, maka dampak kesempatan kerja yang tercipta akan lebih meluas. (***)