Kemampuan Membaca Orang Dewasa
Artikel () 27 Oktober 2016 10:28:14 WIB
Victoria Fanggidae dalam tulisannya di Kompas edisi 2 September 2016 yang berjudul “Sinyal Tanda Bahaya IPM Indonesia” mengutip data OECD tahun 2016 menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara dengan rasio orang dewasa berkemampuan membaca terburuk dari 34 negara OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) dan mitra OECD yang disurvei.
Victoria mengutip hasil dari PIAAC (Programme for the International Assessment of Adult Competencies) terbaru. Tes dilakukan terhadap mereka yang berumur 15-65 tahun. Survei PIAAC ini hanya dilakukan di Jakarta. Jika dilakukan di seluruh provinsi maka hasil yang didapat kemungkinan akan lebih rendah lagi. Ini mengingat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi DKI Jakarta termasuk yang tertinggi di Indonesia. Namun untuk sementara masalah ini diabaikan dulu karena belum tentu benar pula jika dilihat di masing-masing provinsi.
OECD membagi nilai ke dalam enam level yaitu <1, level 1-5. Kebanyakan hasil tes untuk orang Indonesia berada di level <1 di mana terjemahannya adalah: “hanya mampu membaca teks singkat tentang topik yang sudah akrab untuk menemukan satu bagian informasi spesifik. Untuk menyelesaikan tugas itu, hanya pengetahuan kosakata dasar yang diperlukan dan pembaca tidak perlu memahami struktur kalimat atau paragraf”.
Kemampuan literasi, numerasi, dan memecahkan masalah semuanya berada pada nilai rendah. Kompetensi yang dibutuhkan orang dewasa untuk bekerja tersebut berada di peringkat paling bawah.
Iqro’
Jauh hari sebelum adanya Indeks Pembangunan Manusia (IPM), umat Islam sudah mendapatkan perintah membaca pada wahyu yang pertama kali diturunkan Malaikat Jibril a.s kepada Nabi Muhammad SAW. Perintah membaca ini memperlihatkan betapa pentingnya umat Islam dalam menjalani kehidupan mereka harus memperbanyak membaca agar ilmu dan pengetahuan semakin banyak di dapat.
Pada jaman Khulafaur Rasyidin, program atau kebijakan Khalifah untuk mengamalkan pesan Iqro’ ini sudah terlihat. Misalnya saja penyusunan Mushaf Al Quran yang sebelumnya terpencar dan tidak ada yang membukukan. Kemudian penterjemahan buku-buku berbahasa Yunani ke dalam bahasa Arab dalam rangka transfer ilmu dan pengetahuan juga dilakukan.
Berkembangnya Islam identik dengan berkembangnya ilmu dan pengetahuan. Perpustakaan dan universitas banyak didirikan, diiringi dengan budaya membaca yang amat tinggi. Berbagai karya monumental juga menjadi bagian dari bacaan terbaik di dunia saat ini seperti Muqadimah karya Ibnu Khaldun dan berbagai karya lain di bidang ilmu lainnya seperti kedokteran, fisika, biologi, dan lainnya. Demikian pula karya para ulama perawi hadits. Intinya, pesan Iqro’ telah dijalankan dengan baik oleh umat Islam pada waktu itu.
Dan kini budaya membaca tersebut sudah kian melemah. Berbagai sebab bisa dianalisa. Namun jangankan untuk membaca buku-buku bagus, membaca Al Quran dan juga artinya juga mengalami degradasi. Beberapa waktu lalu, berita mengenai Surat Al Maidah ayat 51 ramai diperbincangkan. Momentum ini juga menjadi evaluasi bahwa budaya atau kemampuan membaca kandungan Al Quran melalui terjemahannya pun belum dikuasai oleh mayoritas umat Islam. Sehingga mudah menjadi bahan permainan pihak tertentu. Tentu hal seperti ini sangat disayangkan.
Media Sosial
Dalam bermedia sosial, juga nampak bahwa kemampuan membaca orang dewasa masih belum baik. Hal ini bisa dilihat dari maraknya penyebaran berita dengan sumber tidak jelas yang dilakukan secara massif. Di aplikasi pesan instan seperti Whats App pun berseliweran informasi dan berita yang tidak jelas sumbernya maupun kebenarannya.
Karena sifatnya yang instan, media sosial maupun aplikasi pesan instan akhirnya dengan instan pula orang berbagi berita dan informasi yang tidak benar. Mungkin sudah saatnya dibutuhkan kecerdasan bermedia sosial karena penyebaran berita ini pada ujungnya akan berdampak kepada masalah ketahanan nasional, dan dalam skala kecil kepada ketahanan keluarga.
Betapa banyak orang yang dikategorikan dewasa, tetapi dari segi umur rentan dengan penipuan sehingga menjadi korban penculikan maupun kejahatan lainnya.
Penutup
Meskipun sudah ada program wajib belajar yang dibiayai oleh negara, masih belum mencukupi untuk membentuk budaya membaca yang sehat, terutama bagi orang dewasa. Di samping itu, pesan moral dalam ajaran agama seperti agama Islam sudah seharusnya menjadi perhatian para orang dewasa, terutama mereka yang sudah berkeluarga. Jika melihat sejarah, terutama ketika masih dalam masa penjajahan, perlawanan dari bangsa Indonesia yang dilakukan oleh umat Islam sangat signifikan dan dilatarbelakangi oleh kemampuan membaca maupun mendengar dari guru maupun ustadz yang mengajarkan Islam.
Saat ini bahkan ilmu dan pengetahuan tentang ajaran Islam semakin dibutuhkan. Ini bisa dilihat dari sebagian kalangan menengah yang menyadari bahwa masih sangat sedikit ilmu dan pengetahuan mereka tentang Islam, padahal Islam penuh dengan ilmu dan pengetahuan yang sangat berguna untuk menjalani kehidupan.
Beberapa guru, ustadz, akademisi sudah banyak yang menyampaikan betapa Islam merupakan sumber datangnya kebahagiaan, datangnya rezeki, dan lain-lain. Hanya butuh pengamalan, kemauan, disertai kesadaran sehingga dalam kehidupan bisa memiliki kemampuan membaca seperti yang disyaratkan di atas sehingga terjadi peningkatan kualitas diri dan mampu terhindar dari upaya pihak lain melakukan penipuan yang menyebabkan seseorang atau banyak orang sangat mudah dibohongi dengan informasi maupun berita yang tidak benar. (efs)
Foto: freefoto.com