Korea Selatan

Artikel Erwinfs(Erwinfs) 15 Desember 2020 10:05:46 WIB


Situs berita Tempo.co  pada 14 Desember 2020 dalam salah satu rubriknya menurunkan tulisan dengan judul, “Kasus Covid-19 Melonjak, Korea Selatan Tutup Sekolah Mulai Besok”. Melihat terjadinya lonjakan orang yang positif covid, pemerintah Korsel langsung memutuskan untuk menutup sekolah mulai 15/12. Kegiatan pembelajaran akan dilakukan via daring hingga akhir bulan. 

Tempo menjelaskan bahwa saat ini di Korsel dalam kondisi terburuk yang melampaui puncak penyebaran covid pada Februari 2020. Sekolah ditutup karena upaya untuk melakukan pembatasan jarak sosial ternyata gagal. Sehingga kondisi makin memburuk. 

Korsel kemungkinan akan menerapkan pembatasan sosial fase III yang mengindikasikan penutupan Korsel dari kedatangan orang luar. Sesuai aturan yang berlaku di Korsel, pembatasan sosial fase III hanya mengizinkan pekerja sektor esensial bekerja di kantor. Selain itu pertemuan sosial dibatasi hanya 10 orang. 

Kasus baru sebagian besar muncul di Seoul, Incheon dan Provinsi Gyeonggi, dengan total jumlah penduduk sebanyak 25 juta jiwa. Pemerintah Korsel menurunkan tentara, polisi, dan petugas berwenang untuk melakukan penelusuran massif pembawa virus.

Apa yang dilakukan pemerintah Korsel ini patut dijadikan acuan bagi kita bagaimana menghadapi pandemi covid yang masih berlanjut, yang melibatkan sekolah. Pemerintah Korsel memutuskan untuk menutup sekolah guna menekan penyebaran virus. 

Pemerintah Korsel juga terlihat serius dalam melakukan pembatasan sosial dan melibatkan tentara dan polisi untuk melakukan penelusuran masif pembawa virus. 

Jika melihat kondisi di Indonesia, lebih khusus lagi Padang, masalah pembatasan sosial belum jadi fokus utama. Karena sekarang adalah normal baru atau adaptasi kebiasaan baru. Orang bisa bebas untuk bepergian, berkegiatan dan berusaha dan bekerja. Sosialisasi untuk memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak terus digencarkan. 

Namun jika melihat tempat makan, banyak pengunjung masih duduk di kursi yang sudah dilarang duduk. Bahkan satu keluarga atau pertemanan bisa duduk rapat tanpa jaga jarak seolah-olah kondisi ke depan bakal aman. 

Sementara itu tentang penutupan sekolah yang dilakukan di Korsel, di Indonesia belum dilakukan. Karena justru kemungkinan akan dibuka untuk tatap muka mulai awal tahun depan. Meskipun di media sudah ada berita-berita tentang pesantren yang terkena covid, berita ini sepertinya belum bisa dijadikan landasan untuk mengambil kebijakan secara makro. Di daerah tertentu di Indonesia, klaster pesantren ditangani secara pendekatan mikro. 

Namun jika sekolah benar-benar dibuka pada tahun depan, mudah-mudahan pihak sekolah bisa melakukan antisipasi dan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Karena jika protokol ketat kesehatan tidak diterapkan, akan berpotensi terjadi penyebaran. 

Selain itu, jika ada yang terkena dan menular ke banyak siswa, penelusuran dan pelacakan mungkin akan membutuhkan upaya ekstra. Kejadian yang ada di Korsel setidaknya bisa membuka mata dan pikiran kita, bahwa sekolah perlu perhatian khusus. Sehingga jika kelak dibuka, mudah untuk ditutup jika terjadi lonjakan orang yang positif covid. (efs)