Harbolnas

Artikel Erwinfs(Erwinfs) 14 Desember 2020 09:07:06 WIB


Hari belanja online nasional (Harbolnas) jatuh pada 12 Desember 2020. Setiap tanggal 12 Desember atau 12-12 diperingati sebagai harbolnas. Tapi untuk harbolnas tahun ini memang beda. Karena terjadi di masa pandemi Covid-19, di mana daya beli masyarakat melemah. Pertumbuhan ekonomi juga mengalami kontraksi atau negatif.

Namun harbolnas tetap menjadi incaran mereka yang suka atau hobi belanja online. Meskipun ada risiko yang harus dihadapi. Keuntungan belanja di harbolnas adalah adanya diskon atau potongan harga yang cukup besar atau menarik. Selain itu gratis ongkos kirim, serta mendapatkan cash back.

Namun belanja di harbolnas tanpa persiapan atau perencanaan akan menyebabkan konsumen membeli barang yang tidak dibutuhkannya. Risiko kena tipu juga tetap ada. Dan ini sudah ada yang mengalami, bahkan diadukan ke lembaga seperti YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia). Maka untuk mengikuti ajang seperti harbolnas, konsumen harus mencatat apa saja yang akan dibeli, dan melakukan antisipasi jika terjadi penipuan.  

Permainan harga juga pernah terjadi. Konsumen harus memastikan ketika sudah sampai di tahap akhir pembelian, pastikan barang yang dibeli beserta harganya. Jangan sampai karena percaya begitu saja dengan harga yang diperlihatkan, transaksi langsung bablas hingga pembayaran. Jangan-jangan yang harganya murah adalah komplimen dari barang yang dijual, bukan barang itu sendiri yang murah. Ini sudah pernah terjadi.

Ada juga konsumen yang tertipu dengan harga mahal. Dikiranya harga barang yang mahal mencerminkan kualitas barang. Karena ada ungkapan, ada rupa ada harga. Yaitu barang yang bagus harganya pun bagus. Ternyata setelah dikirim barang yang dibeli, bukan merupakan barang bagus. Tetapi barang keluaran lama dan banyak cacat. 

Yang juga cukup menyedihkan, sudah membeli barang tetapi tidak dikirim. Selain itu, ada juga barang yang diterima tidak sesuai dengan barang yang diperlihatkan di tempat menjual (market place). 

Belanja online bisa menjadikan seseorang kecanduan jika transaksi yang dilakukan selalu lancar. Barang yang dikirim sesuai dengan pesanan dan kualitasnya bagus. Namun ada juga orang yang lebih memilih belanja offline atau mendatangi tokonya. Dengan mendatangi toko konsumen bisa melihat dan memegang barang yang mau dibeli. Konsumen sudah terhindar dari upaya penipuan karena bisa melihat langsung barang yang dijual. 

Namun demikian, belanja di toko juga tidak bisa menjamin 100 persen akan mendapatkan barang bagus dengan harga bagus. Karena ketika dibandingkan barang yang sama di toko online ternyata harganya jauh lebih murah. 

Pilihan ada di tangan konsumen untuk berbelanja. Yang terpenting adalah, berbelanja sesuai kebutuhan. Terutama di masa pandemi seperti saat ini. Ekonomi memang harus bergerak supaya terjadi pertumbuhan ekonomi. Dan salah satunya adalah dengan terjadinya transaksi jual-beli. 

Namun di sisi lain, masyarakat yang daya belinya masih lemah perlu membuat prioritas pengeluaran dan kebutuhan. Sehingga masih tetap bisa bertahan di masa yang sulit. (efs)