Perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi Sumatera Barat September 2020

Ekonomi Desi Marlinda(Badan Penanggulangan Bencana Daerah) 02 Oktober 2020 08:58:43 WIB


September 2020 Kota Padang mengalami deflasi sebesar 0,05 persen dan Kota Bukittinggi mengalami deflasi sebesar 0,01 persen.

IHKmerupakan salah satu indikator ekonomi penting yang dapatmemberikan informasi mengenai perkembangan harga barang/jasa yang dibayar oleh konsumen. Penghitungan IHK ditujukan untuk mengetahui perubahan harga dari sekelompok tetap barang/jasa yang pada umumnya dikonsumsi oleh masyarakat. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menggambarkan tingkat kenaikan (inflasi) atau tingkat penurunan (deflasi) dari barang/jasa yang mempunyai kaitan erat dengan kemampuan daya beli yang dimiliki masyarakat, terutama mereka yang berpenghasilan tetap. Tingkat perubahan IHK (inflasi/deflasi) yang terjadi akan mencerminkan daya beli dari uang yang dipakai masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Semakin tinggi inflasi maka semakin rendah nilai uang dan semakin rendah daya belinya.

• Deflasi di Kota Padang terjadi karena adanya penurunan indeks pada 1 (satu) kelompok pengeluaran yakni kelompok transportasi sebesar 1,32 persen. Deflasi di Kota Bukittinggi terjadi karena penurunan indeks pada 5 (lima) kelompok pengeluaran. Penurunan terbesar terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,13 persen dan diikuti penurunan kelompok kesehatan sebesar 0,10 persen.

• Laju inflasi tahun kalender sampai bulan September 2020 Kota Padang sebesar 0,29 persen dan laju inflasi Kota Bukittinggi sebesar 0,50 persen. Laju year on year Kota Padang (September 2020 terhadap September 2019) mengalami inflasi sebesar 0,10 persen dan laju year on year Kota Bukittinggi juga mengalami inflasi sebesar 0,62 persen.

• Dari 24 (dua puluh empat) kota IHK di Sumatera, sebanyak 13 (tiga belas) kota mengalami inflasi dan 11 (sebelas) kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Gunungsitoli sebesar 1,00 persen dan terendah terjadi di Kota Pekanbaru sebesar 0,01 persen. Deflasi tertinggi terjadi di Kota Banda Aceh dan Kota Tanjung Pinang masing-masing sebesar 0,32 persen dan terendah terjadi di Kota Bukittinggisebesar 0,01 persen. Kota Padang menduduki urutan ke 8 (delapan) dan Kota Bukittinggi menduduki urutan ke 11 (sebelas) dari 11 (sebelas) kota deflasi di Sumatera. Secara nasional, Kota Padang menduduki urutan ke 41 (empat puluh satu) dan Kota Bukittinggi menduduki urutan ke 54 (lima puluh empat) dari 56 (lima puluh enam) kota deflasi di Indonesia. (bps-sumbar)