Enam Juta Gulden

Artikel Erwinfs(Erwinfs) 24 Agustus 2020 09:54:33 WIB


Harian Radar Jogja edisi 15 Agustus 2020 di halaman depannya memuat headline dengan judul, “Enam juta gulden untuk republik”. Di atas judul tersebut tertulis, “75 tahun kemerdekaan Republik Indonesia: Patriotisme Sultan HB IX”. 

 

Tulisan tersebut menceritakan sebuah kisah lama yang belum tersampaikan ke publik. Di mana Sultan Hamengku Buwono IX memberikan uang pribadinya yang ada di bank sebesar 6 juta gulden kepada republik melalui Sukarno. 

 

Saat itu uang kas negara sedang kosong, sehingga uang yang diberikan Sultan akan digunakan untuk keperluan negara. Hal ini tidak diketahui oleh publik pada saat itu. Dan baru terungkap sekarang. 

 

Mengapa baru diketahui sekarang? Karena ternyata Sultan tidak ingin ada balas budi, dan juga tidak ingin diketahui oleh publik. Fakta ini baru terungkap di tahun 1997oleh Jusuf Ronodipuro. Dan saya pun baru mengetahui hal ini sekarang, setelah membaca koran Radar Jogja. 

 

Satu pelajaran penting yang bisa diambil oleh kita yang hidup saat ini adalah, bahwa ternyata ada dan mungkin banyak orang yang tulus dan ikhlas memberikan hartanya dan juga nyawanya untuk kemerdekaan RI. Mereka tidak gembar-gembor, bahkan tidak mengharapkan balasan. 

 

Mungkin karena banyaknya orang seperti inilah, Tuhan pun memberikan jalan keluar berupa kemerdekaan. Meskipun setelah itu Belanda menjajah kembali, namun berkat rahmatNya jualah Indonesia mendapatkan pengakuan kedaulatan dari Belanda. 

 

Sudah sepantasnya, kita yang hidup saat ini berperan positif mengisi kemerdekaan sehingga peran kita ini turut meningkatkan kualitas kehidupan bangsa. Karena tidak sedikit juga, masyarakat yang justru mengisi kemerdekaan dengan hal-hal negatif seperti narkoba, tawuran, seks bebas, yang justru menghancurkan bangsa.   

 

Jika para pahlawan dan pejuang serta seluruh masyarakat di masa merebut dan mempertahankan kemerdekaan bersedia mengorbankan harta dan jiwanya, maka sudah sepantasnya kita pun mengorbankan harta dan jiwa dalam mengisi kemerdekaan. 

 

Bukan berarti meberikan semua harta kepada negara atau bertaruh nyawa. Tetapi harta yang kita punya bisa juga turut membayar pajak, bersedekah maupun kontribusi positif lainnya. Selain itu, keberadaan kita bisa mengajak masyarakat untuk berperan positif, melakukan hal-hal positif di kehidupan, sehingga kehidupan makin berkualitas. 

 

Semoga kisah Sultan Hamengkubuwono yang rendah hati dan tidak ingin diketahui orang lain dan juga tidak mengharapkan balasan ini bisa memotivasi kita dan juga para generasi muda untuk semakin mencintai NKRI sepenuh hati. Sehingga kehidupan kebangsaan kita juga semakin baik dan berkualitas. (Erwin FS)