Menengok Pariwisata Indonesia 2017
Artikel () 31 Januari 2018 10:01:50 WIB
Koran Sindo edisi 2 Februari 2018 di halaman 17 memuat berita dengan judul “Kunjungan Wisman Tumbuh 22%”. Di berita ini dipaparkan data-data mengenai pariwisata Indonesia tahun 2017. Di antaranya adalah wisatawan mancanegara (wisman) dengan jumlah paling besar berasal dari negara Singapura, Malaysia, Australia, China, dan India pada Desember 2016 dan 2017.
Sebelum masuk ke bahasan berikutnya, perlu juga disampaikan di sini bahwa pemerintah menargetkan jumlah wisman tahun 2017 sebesar 15 juta orang. Namun yang tercapai sebesar 14,04 juta orang. Meskipun tidak mencapai target yang ditetapkan pemerintah, jika dibandingkan dengan tahun 2016 dengan jumlah 11,52 juta orang, kenaikan pada 2017 patut diapresiasi.
Menteri Pariwisata Arief Yahya menjelaskan bahwa tidak tercapainya target pada tahun 2017 adalah akibat adanya perisitiwa Gunung Agung di Bali yang meletus sehingga mengurangi jumlah kunjungan wisman. Arief pernah menyebut bahwa akibat erupsi Gunung Agung akan mengurangi 1-1,3 juta wisman untuk tahun 2017.
Kembali ke paragraf pertama, maka saya paparkan data yang dikeluarkan Koran Sindo. Jumlah wisman dari Singapura pada bulan Desember sebesar 179.060 (2016) dan 202.969 (2017). Malaysia sebesar 147.565 (2016) dan 154.650 (2017). Australia sebanyak 105.176 (2016) dan 87.907 (2017). China sebanyak 116.961 (2016) dan 74.968 (2017). Dan India sebanyak 44.120 (2016) dan 53.628 (2017).
Jika dibuat persentasenya untuk 2016 dan 2017 sesuai data di paragraf sebelumnya, Singapura 16,08% (2016) dan 17,70% (2017). Malaysia 13,25% (2016) dan 13,48% (2017). Australia 9,45% (2016) dan 7,66% (2017). China 10,51% (2016) dan 6,54% (2017). India 3,96% (2016) dan 4,68% (2017). Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) angka kunjungan wisman pada Desember 2017 sebesar 1,15 juta dan Desember 2016 sebesar 1,11 juta. Ada kenaikan sebesar 3,03%. Jika angka Desember 2017 dibandingkan dengan November 2017 ada kenaikan 8%. Menurut BPS, Batam adalah tempat terjadinya kenaikan angka kunjungan Wisman melalui bandara. Namun jumlahnya itu hanya setengah dari angka kunjungan wisman ke Bali.
Jika melihat data wisman yang datang ke Indonesia rentang 2014-2017 menunjukkan tren positif. Angkanya 9.435.411 (2014), 10.230.775 (2015), 11.519.275 (2016), 14.039.799 (2017). Dari 2016 ke 2017 pertumbuhannya sebesar 22%. Ini adalah sebuah prestasi yang patut diapresiasi.
Menurut Arief Yahya, Indonesia masuk dalam Top 20 fastest growing dalam hal pariwisata. Di Asean Indonesia ada di urutan dua, dengan Vietnam di urutan pertama.
Berdasarkan berbagai informasi itu, maka jika dikaitkan dengan Sumbar, saya melihat perkembangan pariwisata nasional yang positif juga berimbas ke Sumbar. Data BPS menunjukkan bahwa tahun 2017 terjadi kenaikan kunjungan wisman sebesar 13,34% dengan angka 49.686 (2016) menjadi 56.313 orang (2017). Angka tersebut untuk kedatangan dari Teluk Bayur dan BIM. Jika penerbangan langsung Singapura – Padang jadi teralisasi tahun 2018 ini maka potensi wisman yang datang akan lebih meningkat lagi. Untuk wisman yang ke Sumbar, 80 persen didominasi asal Malaysia. Sedangkan wisatawan nusantara (wisnus) yang datang ke Sumbar mengalami kenaikan 7% di 2017 dari 7,3 juta orang (2016) menjadi 7,8 juta orang (2017). Menurut Kepala DInas Pariwisata Sumbar, kenaikan kunjungan wisatawan juga dipicu perbaikan sejumlah objek wisata. Sehingga berbagai perbaikan objek wisata tersebut memberi kontribusi terhadap meningkatnya kunjungan wisatawan.
Satu hal yang mungkin sangat penting dalam rangka meningkatkan sektor pariwisata adalah tercipatnya keamanan dan kenyamanan di samping infrastruktur yang memadai. Dan di sini terlihat peran penting masyarakat untuk mendukung perkembangan sektor pariwisata dengan memberikan kenyamanan kepada wisatawan yang datang. (efs)
Referensi:
Koran Sindo, 2 Februari 2018
Bisnis Indonesia Online, 2 Februari 2018
ilustrasi: freefoto.com