Kurang Piknik atau Senang Piknik?

Kurang Piknik atau Senang Piknik?

Artikel () 14 Desember 2017 11:37:36 WIB


Saya yakin pembaca tulisan ini pasti pernah minimal sekali mendengar atau melihat orang mengatakan “kurang piknik”. Ungkapan ini adalah sebuah pernyataan menyindir orang-orang yang terlalu serius bekerja atau sangat serius mencampuri urusan orang lain. Dan bisa juga digunakan untuk kepentingan lainnya. Baik maknanya positif maupun makna negatif .

Dan tiba-tiba saja masalah piknik ini menjadi perhatian sebagian orang oleh karena konsumsi untuk leisure seperti jalan-jalan dan menginap di hotel cukup tinggi, di saat daya beli dianggap melemah. Memang saat ini ada pula hotel atau industri pariwisata yang terganggu. Yaitu mereka yang ada di Bali. Meletusnya Gunung Agung ternyata telah menimbulkan kerugian cukup besar. Menurut SS Kurniawan, Bandara I Gusti Ngurah Rai tutup 3 hari ketika terjadi erupsi Gunung Agung. SS Kurniawan mengutip data dari PHRI Bali, jumlah kunjungan rata-rata wisatawan asing 18.000 orang per hari. Dan wisatawan domestik 9.000 orang per hari. Kerugian pihak hotel dan tempat oleh-oleh ditaksir 243 miliar rupiah sehari.

SS Kurniawan mengutip data BPS bahwa pada kuartal III 2017 konsumsi hotel dan restoran  tumbuh 5,52 persen dibandingkan dengan kuartal III 2016 yang berjumlah 5,01 persen. SS Kurniawan menyatakan bahwa kontribusi hotel dan restoran terhadap konsumsi rumah tangga baru sekitar 14 sampoai 15 persen, dan berpotensi naik ke depannya.

Sementara itu kementerian pariwisata menargetkan kunjungan wisatawan dalam negeri sebesar 265 juta orang dengan total pengeluaran 264 triliun rupiah di tahun 2017. Realisasi tahun 2016, ada 264,34 juta orang wisatawan domestik yang melakukan wisata dengan pengeluaran 241,67 triliun rupiah.

Pada tahun 2015 kementerian pariwisata menargetkan 191,25 triliun rupiah pengeluaran wisatawan domestik. Dan ternyata realisasinya 224,65 tirilun rupiah. Menurut SS Kurniawan, sektor pariwisata bisa menjadi pertumbuhan ekonomi baru dan bisa dimanfaatkan untuk mengantisipasi lemahnya daya beli.  

Karena memang adanya pergeseran pola konsumsi dari non leisure ke leisure ini terjadi seiring dengan bertambahnya generasi milenial yang sudah memiliki pola konsumsi berbeda dengan generasi sebelumnya. Namun juga kemungkinan karena bertambah banyaknya jumlah penduduk kelas menengah yang penghasilannya cukup memenuhi syarat untuk melakukan perjalanan wisata.

Kini sektor pariwisata memang sedang digiatkan oleh pemerintah, termasuk juga pemerintah provinsi Sumatera Barat. Karena ternyata dampak positifnya cukup besar kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karena yang dihadapi dalam pariwisata ini adalah orang orang yang menginginkan leisure maka mereka yang bisa melayani wisatawan yang ingin meikmati leisure lah yang bisa mengalami peningkatan kesejahteraan.

Selain itu, paradigma leisure atau kesenangan yang selama ini kerap dicap negatif harus diubah oleh masyarakat. Karena sudah dianggap sebagai sebuah kegiatan positif yang akan bisa menjadi mesin petumbuhan ekonomi. Dan sudah terbukti di banyak negara. Bahkan negara yang mayoritas berpenduduk agama tertentu sudah berusaha menyiapkan suasana leisure bagi wisatawan muslim yang datang ke negaranya. Dari tempat sholat, makanan halal, tempat chas ponsel, penginapan, dan lainnya. Sudah barang tentu Sumbar dan juga Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim perlu mempersiapkan diri untuk menyediakan suasana leisure bagi wisatawan yang datang, termasuk wisatawan muslim.

Jika wisatawan ingin menikmati leisure adalah sebuah kondisi yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi secara makro dan menaikkan kesejahteraan masyarakat secara mikro, maka sudah sepantasnya budaya masyarakat berubah menjadi budaya yang menghargai leisure dengan tetap memperhatikan tata tertib dan budaya setempat.

Dengan demikian, semakin sedikit orang-orang yang merasa dirinya kurang piknik dan semakin banyak orang yang dirinya sering piknik. Manfaat piknik pun sudah diulas dari berbagai sudt pandang. Oleh karena itu menjadikan “sering piknik” sebagai budaya baru merupakan budaya yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi semakin baik dan memberi banyak manfaaat kepada masyarakat. (efs)

Referensi: SS Kurniawan, Mesin Konsumsi, Tabloid Mingguan Kontan, 4-10 Desember 2017

ilustrasi: freefoto.com