Membenahi Destinasi Wisata Halal Jelang HPN 2018
Artikel EKO KURNIAWAN, S.Kom(Diskominfo) 26 April 2017 11:09:31 WIB
Membenahi Destinasi Wisata Halal Jelang HPN 2018
Oleh : Yal Aziz
Kota Padang, dipercaya menjadi ajang pelaksanaan Hari Pers Nasional, 9 Februari 2018 mendatang. Sebagai tuan rumah, mau tidak mau, suka atau tak suka, Kota Padang harus membenahi berbagai objek wisatanya. Tujuannya, agar para jurnalis dari berbagai provinsi di tanah air bisa menikmati kunjungan di berbagai objek wisata di Sumatera Barat, khususnya Kota Padang.
Yang jelas, semua problem pengembangan wisata halal di Sumatera Barat haruslah sedari sekarang dikaji dan dibahas. Tujuannya, bagaimana Sumatera Barat dapat menentukan special uniqueness dan superior branding wisata halal yang dimiliki dengan tepat sehingga menjadi pilihan utama (top choice) bagi para jurnalis dan pengusaha media ketika datang ke berbagai objek wisata di Sumbar.
Keberanian Gubernur Sumatera Barat menawarkan diri sebagai tuan rumah penyelenggarakan Hari Pers Nasional, merupakan kebijakan yang berlian. Kenapa? Karena HPN 2018 yang dihelat di Kota Padang, tak hanya akan dihadiri presiden, tapi juga akan dibanjiri para wartawan dan pemilik media dari berbagai provinsi di nusantara.
Kini tinggal, bagaimana masyarakat dan pelaku wisata memanfaatkan pelauang HPN 2018 ini, tak hanya untuk kepentingan bisnis semata, tapi juga sebagai ajang promosi wisata halal yang bernuansa religius dan adat.
Kalau kita menganalisa apa yang diungkap Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit, yang menyebutkan, hingga Juni 2017, wisatawan mengunjungi provinsi Sumatera Barat, diperkirakan, 5,890 juta, meruapakan fakta yang cukup membanggakan.
Bahkan saat ini, kata Wagub Sumbar, peringkat Sumatera Barat sebagai daerah tujuan wisatawan mancanegara berdasarkan pintu masuk melalui BIM berada pada peringkat 9 dari 19 pintu masuk bandara di Indonesia. Peningkatan jumlah kunjungan wisatawan yang datang ke Sumbar juga didukung oleh event-event yang diadakan, baik tingkat nasional maupun internasional.
Kemudian, Nasrul Abit meminta semua pihak untuk terus berupaya untuk meningkatkan kualitas tempat wisata dengan menambah sarana dan prasarana yang mendukung serta mengembangkan potensi wisata yang belum tereksplorasi. Bahkan, persoalan pemalak yang biasa meresahkan para wisatawan di beberapa objek wisata sudah jauh berkurang, dan kemacetan juga sudah tidak separah tahun-tahun sebelumnya.
Begitu juga dengan problem sadar wisata. Kini, seperti tarif atau harga yang tidak jelas dan cenderung tinggi bagi pengunjung atau para pendatang, baik restoran dan rumah makan harga mancakiak, sudah ada perbaikan dengan kesadaran masyarakat.
Kemudian, semua problem wisata yang merupakan tantangan dalam upaya mengembangkan wisata halal di Sumatera Barat, sudah pula mulai teratasi. Kini, bagaimana Sumatera Barat dapat menentukan special uniqueness dan superior branding wisata halal yang dimiliki dengan tepat sehingga menjadi pilihan utama (top choice) bagi wisatawan domestik dan manca negara dalam menetapkan destinasi wisata.
Sebagaimana kita ketahui, perkembangan yang terjadi di dunia parawisata dalam bentuk wisata halal (halal tourism) pada hakekatnya merupakan respon dari pemenuhan kebutuhan wisatawan dan konsumen yang mengikutsertakan faktor agama dalam perilaku mereka, sehingga menetapkan destinasi wisata. Kenapa? Karena wisatawan ingin memaksimalkan leisure (kesenangan dan kenyamanan) dalam traveling yang dilakukan namun leisure mereka tetap berada dalam koridor keyakini yang dianut (agama).
Khusus bagi wisatawan yang beragama Islam pilihan destinasinya tetap memperhatikan dan menempatkan aspek syariah sebagai pertimbangan utama. Para wisatawan muslim sangat sensitif pada produk dan service yang bernuansa syariah. Kebijakan pemeritah yang mempertimbangkan persoalan syariah, beberapa tahun belakangan, telah menjadikan pasar wisata halal menjadi tren market dan bahkan memiliki kecenderungan peran total expenditure yang besar dan telah pula mendorong investasi besar pada sektor wisata halal.
Perkembangan pengelolaan wisata halal dengan mempedomani Adat Basandi Syarak dan Syarak Basandi Kitabullah, jelas akan menciptakan sebuah pasar tersendiri dalam dunia parawisata Sumatera Barat, serta akan wisata menjadi kompetitif. Kenapa? Karena pelaku atau penyedia jasa wisata halal dituntut untuk menciptakan inovasi, nilai lebih (superior), special branding dan uniqueness sebagai faktor sukses merebut, eksis di pasar dan memperluas pasar (huge market).
Khusus untuk Sumatera Barat, destinasi wisata halal harus menempatkan nilai agama sebagai basis pengelola dan layanan wisata. Kemudian, nilai relegius tersebut harus pula didukung dengan nilai adat dan budaya ddengan mempopulerkan Adat Basandi Syarak dan Syarak Basandi Kitabullah. (*)