Pilihan Metode dan Media Dakwah Untuk Mencegah Pemahaman Radikal Ummat di Sumatera Barat

Artikel EKO KURNIAWAN, S.Kom(Diskominfo) 30 Agustus 2017 10:13:51 WIB


Pilihan Metode dan Media Dakwah untuk  Mencegah pemahaman Radikal ummat di Sumatera Barat

Oleh : Wakidul Kohar

Pendahuan

Sejarah pemahaman agama antara harmonisasi dan konflik. Harmonasisiasi dan konflik dalam pemahaman keagamaan, telah muncul   beberapa abad yang lalu. Misalnya saja konflik pemahaman agama tertentu dengan kebijakan penguasa, terutama pada tirani gereja, yang menghukum Galile Galileo, terkait dengan otoritas kelimuan di Gereja, dengan ilmuan tentang Mahatari.

Akar  radikalisme

Akar radikalisme dapat dilihat dari berbagai mainstrem kontekstualisasi teologi komunitas.  Pada abad ke -18 bersamaan dengan  terjadinya konsolidasi kolonialisme Belanda,  noesufisme mengalamai proses polititasi dan radikalisasi. Syekh Abdul al-Shamad al-Palimbani, seoarang ulama tasawuf,  mengembangkan pemikiran keutamaan Jihad melawan penjajah. Juga terdapat  pemberontakkan tarekat Naqsyabandiyah dan qadiriyah di Cilegon, Banten, pada 1889M.

Namun ada bentuk teologi Jihad yang diarahkan bukan saja keluar  umat Islam, outward Oriented, akan tetapi juga diarahkan ke dalam (inward oriented), yaitu kepada kaum muslim sendiri.  Contoh saja, kaum padri, menurut beberapa kajian gerakan padri di ilhami wahabiyah radikal yang  menlancarkan jihad di Menanjung Arabia. Gerakan ini menyerukan jihad terhadap kaum muslim lainya yang dipandang tidak menjalankan Islam secara murni. Namun perjalan waktu merubah paradigma jihad yang keras, menjadi lunak ketika menghadapi muslim lainya, selanjutnya jihad diarahkan kepada kolonial Belanda.

Di daerah Nusantara lain juga terdapat, teologi Jihad radikal, yaitu Syekh Ahmad Rifa’i  dari Kalisalak, Pekalongan, pada abad 19. Ia mengembangkan pemikiran radikal, dan membentuk kelompok santri tarjumah. Ia menolak otoritas penghulu, yakni  pejabat agama yang diangkat oleh belanda untuk mengelola urusan urusan keagamaan kaum muslimin.

Semua kasus di atas secara jelas dapat dikatakan merupakan serangkaian pergeseran atau penyimpangan bagian tertentu masyarakat muslim dari kerangka doktrin teologi Islam yang ada.  Dalam kasus gerakan Padri dan Ahmad Rifa’i, beberapa ilmuan berargumen bahwa teori kedua gerakan ini, lebih mirip dengan teologi dalam perspektif Islam, yaitu teologi Khawarij. Sebagaimana diketahui Khawarij, sebagaimana yang dikemukan oleh Azyumardi Azra, mengabsahkan penggunaan kekerasan dan seruan Jihad  terhadap kaum muslimin lain yang berbeda dalam pandangan dan praktik keislaman mereka. Dalam konteks ini khawarij menyusun kerangka konseptual kenyakinan mereka, dengan indikator pertama, tafkir, yakni mengafirkan orang-orang Islam lain yang mempunyai perbedaan pandangan mereka, kedua hijrah, yakni berimigrasi dari wilayah yang dikuasi oleh muslim lain, ketiga, jihad memaklumkan perang terhadap orang-orang muslim lain yang menolak untuk mengikuti pandangan mereka.

Penutup

Berdasarkan uraian di atas diperlukan solusi  dalam arti pilihan, materi, pendekatan, metode dan media Dakwah, dalam rangka menangkal paham radikalisme :

Permata, pilihan materi. Dari akar teologi radikal maka diperlukan teologi kontektual yang revelan dengan pesan kemanusiaan, pertama teologi modernisme, teologi ini memberikan motivasi untuk kemajuan manusia dan sikap terbuka. Tokohnya adalah Nurcholish Madjid dan Harun Nasution. Kedua, teologi transformatif, paham ini ingin mewujudkan  transformasi masyarakat muslim sehingga mencapai kemajuan. Kemajuan harus dimulai dari arus bawah. Para penggagasnya  di antaranya, M.Dawan Rahardjo dan Mansour Fakih. Ketiga Inklusif, pemahaman yang mengembangkan toleransi antar agama dan budaya, sehingga  dapat hidup berdampingan secara damai (peaceful-co-exixtence), dengan tokohnya Muhti Ali, dan Djohan Effendi.

Kedua, Pendekatan,  dalam arti penyelesaian konflik  berdasarkan pendekatan Qur’ani,  dengan psikologi rahmat Allah. Pendekatnya dengan bersikap lemah lembut, tidak kasar, tidak berhati keras, memaafkan, mendokan, berkomunikasi santun dan bertawakal yang benar kepada Allah.  Disamping itu diperlukan, pendekatan secara sunnah  Nabi yaitu,Pertama, motivasi yang mendorong munculnya penyebaran salam, jangan  mengindikasikan teror, Kedua, memberikan makan, pola hidup memberi, dan mempunyai rasa kepeduliaan, Ketiga, menyambung silaturahim, tetaplah jadi orang yang baik, dan setia pada kebiakan, walau pernah disakiti, dikhianati, karena nilai manusia itu terletak pada etika, tetaplah bertika, kepada orang yang tidak beretika. Keempat, sholat malam, sebagai sarana kedekatan kita kepada Allah.

Ketiga, Metode  dan media. Diperlukan metode hikmah, pengajaran dan mujadlah, dengan penerapan prinsip. Pertama, memberi contoh sebelum berbuat atau mengajak. Sedangkan pilhan media. Media yang dipilih berdasarkan kebutuhan dan konstek yang sesuai, gara semua pilihan media dapat terukur. Bila komunikator agama, mampu dengan media langsung gunakan komunikasi sosilogis dan antropologis untuk menangkan pemikiran radikal.