Resolusi Akademik Perguruan Tinggi di Sumatera Barat

Artikel EKO KURNIAWAN, S.Kom(Diskominfo) 27 Februari 2017 10:01:33 WIB


Resolusi Akademik Perguruan Tinggi di Sumatera Barat

Oleh : Wakidul Kohar

Kata resolusi Akademik, seakan mengajak segenap civitas akademika mengadakan pemberontakan pemikiran dalam rangka perbaikan. Pemikiran ini sebelumnya sudah dilakukan oleh lembaga pendidikan tinggi dengan mengelar berbagai pemikiran kurikuklum dan bagaimnama pengajaran KBK di dunia pendidikan. Makalah ini mencoba untuk memberikan sumbahan resolusi akademika dari sebuah peradigma teaching oriented menuju pendidikan  how to learn kepada mahasiswa.

Pertanyaan yang harus dijawab oleh segenap mahasiwa yang hadir saat ini adalah di setiap perguruan tinggi :

  1. Untuk apa mereka masuk keperguruan tinggi tertentu, kenapa tidak yang lain?
  2. Kesuksesan apa yang mereka bayangkan setelah tamat dari perguruan tinggi tersebut ?
  3. Apa yang membuat merasa rugi bila tidak terdaftar di  perguruan tinggi tersebut sebagai mahasiwa
  4. Setelah tamat bermanfaatkah bagi masyarakat atau menjadi beban masyarakat?

Selanjutanya persoalan  dalam peningkatan mutu pembelajaran di perguruan tinggi, tidak bisa dilepaskan dari wacana  peran Dosen, penyelengara, pengelola dan mahasiswa.  Namun peran dosen dan mahasiswa agaknya  dua elemen terpenting di perguruan tinggi, bagaikan satu koin dengan dua sisi yang tak pernah terceraikan. Jelasnya selain peran mahasiwa dalam proses pembelajaran, permasalahan umum bagi para dosen dengan perannya dalam arti adalah penanggung jawab materi perkuliahan,  peningkatan pengembangan dirinya harus menjadi perhatian yang serius.  Ia dipandang sebagai perancang dan penggagas kurikulum.

  Persoalan dunia akamik di Perguruan Tinggi Sumatera Barat

Dalam   proses belajar mengajar dengan melihat kondisi mahasiwa saat ini disebabkan oleh kondisi para dosen yang belum optimal dalam pengembang diri. Dalam artikata para dosen belum maksimal dalam melakukan inovasi, termasuk mempersiapkan materi perkuliahan  serta metode pengajaran yang bervariasi.  Dalam pengamatan sementara para dosen  mempunyai beberapa kendala dalam pengembangan dirinya. Hal itu disebabkan oleh beberapa  faktor:

  1. . Mengajar dianggap sebagai satu rutinitas dalam kehidupan yang sudah bersifat mekanistis, tidak ada tantangan yang memerlukan pikiran tambahan. Sebagai kegiatn rutin, tujuan dan materi pengajaran selalu berada di dalam saku dosen yang haram diketahui oleh mahasiswa. Kenyataan  ini terutama disebabkan faktor malas. Teacher –oriented  dalam proses perkuliahan  lebih menekan dan berorientasi pada peran aktiv dosen.  Implikasi dari hal ini adalah mahasiswa kurang terlibat dalam proses pembelajaran.  Da’i yang mempesoana adalah ciri khas yang selalu tampil dalam lokal kuliah. Sehingga bila telah selesai mengajar maka yang akan berkata lelah bukanlah mahasiswa tetapi dosen yang bersangkutan.  Kelemahannya dan permasalahan selama ini karena mahasiswa dipandang dan diperlakukan sebagai objek dalam proses belajar mengajar. Ini adalah masalah kultural bangsa ini.  Kenyataan yang ada mahasiswa selalu disuapi yang barang kali dipengaruhi tradisi menyuapi di usia balita. Padahal proses pendidikkan dan pengajaranya yang baik bukanlah proses menyuapi melainkan mengajarkan kepada mahasiswa untuk memancing dengan kemampuan sendiri.

2).Tidak ada sistem yang ketat yakni tidak ada perintah dan kewajiban dari atasan baik jurusan dan Dekanat serta sangsi  yang jelas bagi dosen  malas dan dosen teladan , yang ada adalah wacana tentang perintah  dan saran dari atasan. 

Stategi resolusi akademik

Berdasarkan persoalan di  atas  sangat perlu dicarikan  rencana pemecahan masalah dalam bentuk tindakan  alternatif  yaitu bagaimana cara meningkatkan mutu pengembangan diri para dosen-dosen tersebut. Hal itu perlu dilakukan dalam pengembangan diri yang menyangkut dalam  mempersiapkan materai pengajaran, mempersipkan strategi dan teknik pembelajaran serta gairah ilmiah. Rencana pemecahan masalah dengan  pemilihan strategi dan  langkah-langkah strategi pelaksanaan program dapat diuraikan sebagai berikut :

1). Perlu mengupayakan workshop atau training quantum learning dan quantum teaching untuk para dosen dalam konstek pendidikan Islam, dengan tujuan agar learning spirit tumbuh subur di kalangan dosen dan  terhindar dari isolasi profesi dalam mencerdaskan  mahasiswa.

  1. Perlu training CTSD ( Central teaching staf Development)  pada tingkat dasar dan menengah  sehingga terbiasa menyediakan waktu, tenaga dan pikiran untuk mempersiapkan secara tertulis materi pengajaran, meng-update dan mengevaluasi tiap semester, serta melihat kembali materi tersebut saat mengajar.
  2. Menumbuh kembangkan pemahaman terhadap pengertian dosen dan mahasiswa  dan membina sikap  kasih sayang pada mahasiswa, antusias dan ikhlas mendengar dan menjawab pertanyaan, menjauhkan sikap emosional dan feodal seperti cepat marah dan tersinggung karena pertanyaan mahasiswa disalah artikan sebagai mengurangi wibawa, merasa paling pintar dan benar sendiri yang merupakan warisan kolonal.
  3. Merubah paradigma  dan strategi pengajaran yang masih terkesan model pembelajaran anak- anak dengan paradigama pembelajaran orang dewasa, adult education, yaitu dengan  memperlakukan mahasiswa sebagai subjek dan mitra belajar, bukan objek.  Menekankan belajar mandiri kemampuan membaca, dialog dan seminar
  4. Dosen hendaknya tampil sebagai role model, bagi kehidupan sosial akademis mahasiswa di dalam dan di luar kampus. Dalam konteks ini dosen harus memberi contoh komitmen dan dinamika diri dalam kegiatan-kegaiatn akademis dan sosial keagamaan seperti membaca, berdiskusi, meneliti dan menulis, trampil dalam seminar diskusi, serta membina umat untuk social control dalam arti amar ma’ruf nahi mungkar.