Taushiah Ramadhan Irwan Prayitno 28 Ramadhan 1438H Istiqomah Dalam Ketaatan
Artikel Drs. AKRAL, MM(Diskominfo) 23 Juni 2017 15:32:09 WIB
Sepanjang bulan Ramadhan, kaum muslimin beribadah dalam sehari semalam, intensitas dan kuantitasnya lebih meningkat dari hari-hari sebelumnya. Ada motivasi yang didasari oleh keimanan untuk menggapai nilai ibadah yang berlipat ganda dari bulan-bulan sebelumnya.
Pada hakikatnya, ibadah di bulan Ramadhan, adalah titik tolak madrasah ketakwaan bagi umat Islam, di mana kita dipacu untuk beribadah lebih dari sebelumnya. Untuk apa? Agar hati dan fisik kita lebih ringan untuk menjalankan ibadah di bulan-bulan berikutnya.
Di bulan Ramadhan, kita terbiasa bangun di sepertiga malam terakhir untuk makan sahur dan qiyamul lail. Seharusnya kita sanggup pula bangun di sepertig malam untuk qiyamul lail atau sahur shaum sunnah di bulan seusai Ramadhan. Kita dilatih untuk istiqomah, konsisten, karena masa latihan kita sudah melakukannya selama 29-30 hari berturut-turut di bulan Ramadhan.
Allah ingin kita menetapkan dan meneguhkan hati kita, agar senantiasa mengingat dan bersemangat dalam beribadah. Allah berfirman tentang keutamaan umatnya yang teguh, konsisten, istiqomah dalam beribadah dan keimanan, dalam Al Qur'an
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu (Q.S. Fushshilat: 30)
Firman Allah subhanahu wa ta’ala,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ, أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al Ahqaf: 13-14)
Akan sia-sia Ramadhan kita, jika seusai Ramadhan, kita kembali malas beribadah dan melanjutkan berbuat maksiat. Tetap terlelap saat adzan subuh dikumandangkan, shalat sunnah dan wajib ditinggalkan. Sehingga kita perlu bertanya pada diri kita sendiri, apakah Ramadhan hanya sekedar bulan menahan lapar dan haus? Apakah Ramadhan hanya bulan untuk menurunkan berat badan? Atau apakah bulan Ramadhan adalah bulan ibadah, sedangkan bulan lainnya bila tak ibadah dan maksiat?
Na'udzubillah, tsumma na'udzubillah min dzalikum.
Eksistensi keimanan, bukanlah hanya sekedar lisan saja, keimanan perlu diresapi dalam qalbu kita, dan diwujudkan dalam perbuatan ma'ruf dan ibadah. Tanpa itu, iman kita tak ada harganya di hadapan Allah dan RasulNya.
Dari Abu ‘Amr atau Abu ‘Amrah Sufyan bin Abdillah, beliau berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِى فِى الإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ – وَفِى حَدِيثِ أَبِى أُسَامَةَ غَيْرَكَ – قَالَ « قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ ».
“Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ajarkanlah kepadaku dalam (agama) islam ini ucapan (yang mencakup semua perkara islam sehingga) aku tidak (perlu lagi) bertanya tentang hal itu kepada orang lain setelahmu [dalam hadits Abu Usamah dikatakan, “selain engkau”]. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Katakanlah: “Aku beriman kepada Allah“, kemudian beristiqamahlah dalam ucapan itu.”
Firman Allah Ta’ala,
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ
“Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Rabbmu adalah Rabb Yang Maha Esa, maka tetaplah istiqomah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.” (QS. Fushshilat: 6)
Ketika kita mulai menurun ibadah kita, Allah sudah membimbing kita seperti yang disebutkan dalam Surah Al Fushshilat di atas, agar kita segera bangkit dari kondisi itu, meningkatkan ibadah kembali, serta memohon ampun kepada Allah, atas sebab kondisi lalai tadi, insyaAllah akan diampuninya.
Lakukanlah amalan sunnah yang sekiranya kita mampu menjalankannya dengan konsisten, hal ini sangat disukai oleh Allah dan RasulNya, sebagaimana disebutkan dalam hadits dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (HR Muslim).
Ayo kita jaga semangat kita sedari sekarang, agar kita menjadi kebanggaan Allah dan RasulNya atas sebab keistiqomahan kita dalam beribadah dan menjaga kualitas keimanan, bukan menjadi hamba yang dimurkaiNya. Amin...
Wallahu a'lam bishshawaab (by.fb.IP n Akral)