Taushiah Ramadhan Irwan Prayitno 22 Ramadhan 1438H Bangga Dengan Dosa
Artikel Drs. AKRAL, MM(Diskominfo) 17 Juni 2017 15:23:33 WIB
Ikhwahfillah, Allah telah anugerahkan kepada hati dan akal, yang keduanya bisa digunakan untuk menyelami perintah Allah dan laranganNya. Manusia pada hakikatnya mengetahui hal yang diperbuatnya adalah perbuatan yang melanggar laranganNya atau tidak. Tapi sebagian kita bersikap jujur pada hati nuraninya yang membisikkan bahwa hal tersebut melanggar perintah Allah, dan ada juga yang hendak menipu dirinya sendiri, dengan mengabaikan bisikan hati nuraninya.
Allah berfirman dalam Al Qur'an
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya (Q.S. Asy Syams: 8)
Pada hati yang belum Allah matikan dari ilham Allah sebenarnya selalu ada pertanda saat kita melakukan perbuatan dosa, bisa berupa getaran hati, keragu-raguan, rasa cemas, takut dilihat orang, takut ketahuan, keringat dingin karena rasa bersalah dan lain sebagainya.
Jika kita merasakan hal tersebut, bersyukurlah bahwa Allah belum mematikan hati kita dari menerima hikmah dan bimbingan ilahiyyah. Dengarkanlah getaran dan bisikan tersebut, dan beristigfar dan jauhilah perbuatan tersebut.
Tapi ada pula yang merasakan getaran nuraninya tapi mengabaikannya, bahkan ada yang sudah tidak lagi merasakannya, saking sudah seringnya ia melakukan perbuatan tersebut. Semakin ia meninggalkan peringatan dari nuraninya, semakin matilah hatinya dan semakin tenggelam dalam perbuatan dosa. Na'udzubillah min dzalikum.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ أَمَّتِي مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنَ الْمَجَانَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْه
“Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang melakukan dosa terang-terangan, dan sungguh termasuk kegilaan, jika seseorang berbuat dosa pada malam hari, kemudian ia masuk waktu pagi dalam keadaan Allah menutupi dosanya, lalu ia sendiri mengatakan: Wahai fulan tadi malam aku berbuat dosa ini dan itu. Padahal ia tidur malam dalam keadaan Rabbnya menutupi aibnya, dan ia masuk waktu pagi seraya menyingkap tutupan Allah darinya.” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)
Pada hadits tersebut, kita melihat contoh orang yang malah dengan terang-terangan membuka aib perbuatan dosanya. Orang tersebut, seakan ingin meremehkan, mencemooh, dan menghina Allah dan RasulNya. Padahal Allah sudah menutup aibnya, tapi dia sendirilah yang membukanya. Orang yang seperti ini, yang membangga-banggakan perbuatan dosanya, tidaklah akan mendapatkan ampunan dari Allah, kecuali ia telah benar-benar meninggalkan perbuatan dosa dengan tuntas.
Contoh yang sangat sederhana, misalnya saat kita di kantor, dan terbiasa datang bekerja terlambat, bermalasan dan atasan tidak memberi peringatan, sehingga dia malah berbangga pada rekan-rekannya bahwa atasannya pun tak berani sama dia, dan ia terus mengulangi ketidakdisiplinannya itu.
Atau contoh lain, seorang istri yang dirumah berani membentak suaminya, dan ia banggakan perbuatannya itu pada kawan-kawan arisannya, misalnya, bahwa dia tak bisa diatur suami, suaminya takut padanya, dan dia bangga pada kondisi itu. Ini hal yang banyak terjadi ditengah masyarakat, dan contoh-contoh lainnya.
Bagi orang lain, yang mengetahui perbuatan dosanya, jika sekiranya tak menjadi bencana bagi umat lainnya, disunnahkan oleh Rasulullah untuk tidak mengungkapnya kepada orang lain. Kecuali, jika perbuatan tersebut akan menjadi perbuatan berulang yang mudharat bagi orang banyak.
Rasulullah shallallahu alaihi was sallam:
مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ.
Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya. (HR. Al-Bukhari no. 2442 dan Muslim no. 2580 dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, serta Muslim no. 2699 dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu)
Jadi, bagi setiap muslim yang melakukan perbuatan dosa atau terdorong untuk melakukannya, ketahuilah bahwa Allah dan orang-orang beriman lah yang menutup aibnya, dan hendaklah ia menghentikan perbuatan tercela tersebut. Karena jika masih dilakukan dan dilakukan lagi, maka pasti aib perbuatan dosa tersebut akan dibukakan. Na'udzubillah tsumma na'udzubillah min dzalikum.
Wallahu a'lam bishshawaab
(by.fb.IP n Akral)