Taushiah Ramadhan Irwan Prayitno 18 Ramadhan 1438H Ilmu Mengangkat Derajat Manusia

Taushiah Ramadhan Irwan Prayitno 18 Ramadhan 1438H Ilmu Mengangkat Derajat Manusia

Artikel Drs. AKRAL, MM(Diskominfo) 14 Juni 2017 11:28:47 WIB


Falsafah Minang sejak dahulu kala mengatakan, "alam takambang jadi guru", ini memberi isyarat bagi masyarakat Minang untuk mengenal alam sekitarnya, dan mempelajari ayat-ayat kauniyyah yang Allah turunkan di hadapan kita, maupun yang tersembunyi di alam.

Rasulullah pun sudah mengatakan untuk menuntut ilmu, untuk menyingkap rahasia kehidupan untuk dunia dan akhirat.

مَنْ أَرَا دَالدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِا لْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَالْاآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ

”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akherat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”. (HR. Turmudzi)

Jadi, apapun orientasi kehidupan yang sedang kita kerjakan, apakah itu urusan duniawi maupun ukhrawi, sangat penting bagi kita untuk mendalami ilmu pengetahuan yang menuntun kita dalam mengerjakannya. Dengan ilmu, hidup ini akan lebih mudah. Dengan ilmu, hidup ini akan lebih sukses. Dengan ilmu, hidup ini akan lebih tenang dan menyenangkan.

Contoh jika kita memiliki motor yang rusak, siapakah yang bisa memperbaikinya dengan mudah, yang mengerti mesin motor atau yang tidak? Orang yang spesialis teknik mesin atau hanya hobi merawat motor? Akan beda antara yang hobi dan memiliki dasar ilmunya. Orang yang hobi memperbaiki motor, mungkin bisa memperbaiki motor yang rusak, tapi itu hanya bisa berdasarkan pengalaman sebelumnya, jika dia tidak pernah memperbaiki kasus tersebut, dia tidak bisa. Tapi bagi orang yang spesialisasinya teknik mesin atau otomotif, bahkan dari suara starter pun, dia mengerti gejala-gejala kerusakan mesin tersebut, dengan melihat kekentalan oli pun dia mengerti oli tersebut baik atau tidak, dan sebagainya.

Menuntut ilmu memang bukanlah perkara mudah dan sesaat. Ini adalah sebuah proses berkelanjutan, yang tidak putus hingga Allah memanggil kita dan memungkasi umur kita. Sampai-sampai, proses menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh pun, disebut juga sebagai jihad yang ganjarannya surga, karena faktor manfaat yang akan dihasilkan dari ilmu tersebut.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Barangsiapa yang menempuh suatu perjalanan dalam rangka untuk menuntut ilmu maka Allah akan mudahkan baginya jalan ke surga. Tidaklah berkumpul suatu kaum disalah satu masjid diantara masjid-masjid Allah, mereka membaca Kitabullah serta saling mempelajarinya kecuali akan turun kepada mereka ketenangan  dan rahmat serta diliputi oleh para malaikat. Allah menyebut-nyebut mereka dihadapan para malaikat.” (Riwayat Muslim)

Dalam menuntut ilmu terdapat berbagai adab yang perlu kita ketahui. Dalam bukunya berjudul Adab dan akhlak, Syaikh Yazid bin Abdul Qadir Jawas menyebutkan beberapa jenis adab dalam menuntut ilmu, yang perlu diperhatikan agar ilmu yang kita pelajari menjadi manfaat serta meraih ridha dari Allah Yang Maha Memiliki Ilmu, antara lain
1. Mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu
Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menuntut ilmu syar’i yang semestinya ia lakukan untuk mencari wajah Allah dengan ikhlas, namun ia tidak melakukannya melainkan untuk mencari keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mendapat harumnya aroma surga pada hari kiamat.” (HR. Ahmad)

2. Rajin berdoa kepada Allah Ta’ala, memohon ilmu yang bermanfaat

3. Bersungguh-sungguh dalam belajar dan selalu merasa haus ilmu
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam barsabda, “ Dua orang yang rakus yang tidak pernah kenyang: yaitu (1) orang yang rakus terhdap ilmu dan tidak pernah kenyang dengannya dan (2) orang yang rakus terhadap dunia dan tidak pernah kenyang dengannya.” (HR. Al-Baihaqi)

4. Menjauhkan diri dari dosa dan maksiat dengan bertaqwa kepada Allah Ta’ala
Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata,
شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي
“Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa  ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Tholibin, 2: 190).

5. Tidak boleh sombong dan tidak boleh malu dalam menuntut ilmu
Imam Mujahid mengatakan,

لاَ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْىٍ وَلاَ مُسْتَكْبِرٌ

“Dua orang yang tidak belajar ilmu: orang pemalu dan orang yang sombong” (HR. Bukhari secara muallaq)

6. Mendengarkan baik-baik pelajaran yang disampaikan ustadz, syaikh atau guru

7. Diam ketika pelajaran disampaikan
Allah Ta’ala berfirman, “dan apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raaf: 204)

8. Berusaha memahami ilmu syar’i yang disampaikan

9. Menghafalkan ilmu syar’i yang disampaikan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Semoga Allah memberikan cahaya kepada wajah orang yang mendengar perkataanku, kemudian ia memahaminya, menghafalkannya, dan menyampaikannya. Banyak orang yang membawa fiqih kepada orang yang lebih faham daripadanya…” (HR. At-Tirmidzi).

10. Mengikat ilmu atau pelajaran dengan tulisan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ikatlah ilmu dengan tulisan” (HR. Ibnu ‘Abdil Barr)

Menulis catatan tentang ilmu yang sedang dipelajari, atau menghasilkan karya tulis, sudah diisyaratkan oleh Rasulullah sebagai wadah mengikat ilmu dalam otak kita.

11. Mengamalkan ilmu syar’i yang telah dipelajari
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan seorang alim yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, kemudian ia melupakan dirinya (tidak mengamalkan ilmunya) adalah seperti lampu (lilin) yang menerangi manusia, namun membakar dirinya sendiri.” (HR Ath-Thabrani)

12., Berusaha mendakwahkan/ mengajarkan ilmu

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al Mujadilah: 11)

Maka, dengan kita berusaha memasuki majelis-majelis keilmuan, berusaha dengan ikhlas sungguh-sungguh untuk mempelajari, mengkaji, mengamalkan, dan mendakwahkan kembali tersebut, Allah sudah berikan garansi ketinggian derajat mereka. Semoga Allah mudahkan ikhtiar kita untuk menggapainya. Amin ya Rabbal 'alaamin.

Wallahu a'lam bishshawaab
(by.IP.fb.n Akral)