Taushiah Ramadhan Irwan Prayitno 16 Ramadhan 1438H Kekuatan Sedekah

Taushiah Ramadhan Irwan Prayitno 16 Ramadhan 1438H Kekuatan Sedekah

Artikel Drs. AKRAL, MM(Diskominfo) 13 Juni 2017 10:08:06 WIB


Sedekah dalam ajaran Islam, adalah suatu hal yang unik jika ditilik secara matematika duniawi. Dalam Islam, kita selalu diingatkan bahwa sedekah adalah penambah rezeki, bukanlah pengurang rezeki. Hal ini karena bagi yang bersedekah, Allah langsung yang memberi garansinya, bahwa rezekinya akan diganti, bahkan ditambah. Kita sebagai makhluk Allah yang beriman, tentu harus yakin betul dengan janji serta garansi Allah ini, sehingga kita mampu menguatkan tekad kita untuk bersedekah dengan ikhlas.

Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman

قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ ۚ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)". Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya. (Q.S. Saba': 39)

Dalam ayat di atas, Allah memberi sinyal terhadap dua jenis manusia, yaitu bagi siapa saja yang dilapangkan rezekinya, dan bagi yang disempitkan rezekinya. Dan bagi dua kelompok manusia tersebut, Allah berikan garansi yang sama bagi orang-orang yang mau menafkahkan apa saja yang dimilikinya, untuk diberikan ganti yang setimpal. Kedua kondisi tadi adalah merupakan ujian bagi manusia, apakah kita kufur atau syukur terhadap nikmat yang telah Allah karuniakan.

Saya banyak menyaksikan orang yang berdagang, sekaligus ringan dalam bersedekah, dari tahun ke tahun, bisnis beliau semakin berkembang, cabangnya terus bertambah, sedekahnya pun terus ditambahkan oleh beliau, dan begitu seterusnya Allah lapangkan rezekinya. Beliau telah menebus garansi dari Allah, seperti yang tersebut dalam firman Allah berikut

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al Baqarah: 261)

Dan contoh sebaliknya juga pernah saya saksikan, orang yang berdagang tetapi curang terhadap konsumennya, kualitas barangnya kurang bagus, dan ditambah pula beliau jarang bersedekah. Kotak infak yang dititipkan oleh lembaga pengelola zakat di tempat usahanya, sering terlihat kosong, padahal bisa saja konsumennya yang bersedekah di kotak infak tersebut, minimal si pemilik usaha yang mengisinya. Usaha beliau tidak ada perkembangan dari tahun ke tahun, keluarganya sakit-sakitan, sehingga mengurangi harta kekayaannya, hutang dimana-mana. Na'udzubillah min dzalik. itu karena Allah sempitkan rezekinya, tidak barakah hartanya.

Kita harus ingat bahwa Allah lah Yang Maha Pemberi dan Pengatur Rezeki. Jadi, kita tidak perlu khawatir dengan sedikitnya harta yang kita miliki, lalu tak bersedekah. Justru dengan adanya janji Allah itu, kita niatkan dengan ikhlas menyisihkan sedikit dari harta yang sedikit itu, untuk bersedekah. Balasan Allah bisa dalam bentuk yang bermacam-macam. Nikmat kesehatan, dijauhkan dari berbagai penyakit dan kesusahan sesudahnya, diringankan urusan pekerjaannya, dijauhkan dari celaka dan malapetaka, dibantu orang lain dalam banyak perkara adalah juga bagian dari rezeki Allah, yang mungkin jika ada yang sanggup memvaluasinya dalam bentuk harta, akan melebihi dari apa yang sudah disedekahkan.

Misalkan anda hanya memiliki uang 500.000, sudah terpikir uang itu untuk membayar biaya kuliah anak, itupun masih kurang. Pada suatu saat, anda bersua anak yatim yang kelaparan, anda belikan dia makanan yang cukup, bisa saja Allah gantikan sedekah membeli makanan itu yang barangkali hanya senilai 50.000, dengan pemberitahuan dari tempat kuliah anak, bahwa anak anda mendapatkan beasiswa. Itu juga bentuk ganti untung dari Allah atas sedekah yang kita keluarkan.

Rasulullah pun memberikan kabar gembira bagi umat Islam yang ikhlas bersedekah, dengan ganjaran naungan Allah di yaumil akhir nanti, sebagaimana beliau sampaikan dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tujuh golongan orang yang akan diberi naungan oleh Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan dari-Nya. 

1. Seorang pemimpin yang adil. 
2. Seorang pemuda yang tumbuh dalam [ketaatan] beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla. 
3. Seorang lelaki yang hatinya bergantung di masjid-masjid. 
4. Dua orang lelaki yang saling mencintai karena Allah, mereka berdua bertemu dan berpisah karena-Nya. 
5. Seorang lelaki yang diajak oleh seorang perempuan yang memiliki kedudukan dan kecantikan lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’. 
6. Seorang lelaki yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.
7. Dan seorang lelaki yang mengingat Allah dalam kesendirian lalu mengalirlah air matanya.

Dan juga disebutkan dalam hadits lain, dari Mu’awiyah bin Haidah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya sedekah secara rahasia bisa meredam murka Rabb [Allah] tabaroka wa ta’ala.” (HR. ath-Thabrani).

Begitu besar berkah yang kita peroleh dari sedekah, sehingga tak perlu ada keraguan dan kekikiran dari diri kita, untuk melaksanakannya. Ganjaran yang tak akan kita dapatkan, selain dari Allah Yang Maha Adil.

Wallahu a'lam bishshawaab
(by.fb.IP n Akral)