Taushiah Ramadhan Irwan Prayitno 15 Ramadhan 1438H Etos Kerja

Taushiah Ramadhan Irwan Prayitno 15 Ramadhan 1438H Etos Kerja

Artikel Drs. AKRAL, MM(Diskominfo) 12 Juni 2017 21:30:21 WIB


Rasulullah Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam, manusia yang sudah Allah beri kemuliaan untuk menjadi suri tauladan bagi manusia sesudahnya, telah memberikan kita contoh bagaimana menjadi makhluk yang disiplin, pandai membagi waktu, tak suka bermalas-malasan, untuk menggapai apa yang beliau inginkan. Sebelum masa kenabiannya, beliau adalah penggembala ternak yang amanah, pedagang yang jujur dan sukses. Semua amanah beliau kerjakan dengan sungguh-sungguh.

Beliau tidak mengurangi rasa hormat terhadap amanah yang diberikan, walaupun pemberi amanah pekerjaan adalah kerabatnya sendiri, maupun orang lain yang bukan keluarganya. Berkat dari etos kerja yang luar biasa, serta diiringi kejujuran, yang beliau dapat adalah kesuksesan.

Allah akan mengiringi orang-orang yang bekerja berjuang dengan sungguh-sungguh, dengan jalan keluar dan petunjuk

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. Al Ankabut: 69)

Dengan bekerja sungguh-sungguh, semua permasalahan yang dihadapi dalam pekerjaan atau perjuangannya, Allah akan tunjukkan jalan keluarnya. Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha seorang hambaNya. Tinggal kita, maukah kita untuk berikhtiar mencari jalan keluar yang sebenarnya sudah Allah sediakan tersebut? Jika kita menghadapi kesulitan, kita menyerah atau menunda-nunda dalam mencari solusinya, sesungguhnya kita sudah mengalami kerugian. Sedangkan orang yang memanfaatkan waktunya dengan baik, disiplin, bersegera mencari solusi atas pekerjaan yang dihadapinya, akan mendapat keuntungan.

إن المنى رأس أموال المفاليس
“Sekedar berangan-angan (tanpa realisasi) itu adalah dasar dari harta orang-orang yang bangkrut.” (Madarij As-Salikin, Ibnul Qayyim, 1: 456)

Al Hasan Al Bashri berkata, “Hati-hati dengan sikap menunda-nunda. Engkau sekarang berada di hari ini dan bukan berada di hari besok. Jika besok tiba, engkau berada di hari tersebut dan sekarang engkau masih berada di hari ini. Jika besok tidak menghampirimu, maka janganlah engkau sesali atas apa yang luput darimu di hari ini.” (Dinukil dari Ma’alim fii Thariq Tholab Al-‘Ilmi, Dr. ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin ‘Abdillah As Sadhaan, 30, Darul Qabis)

Allah Ta’ala berfirman,

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Q.S. Al ‘Ashr: 1-3).

Dari firman Allah tersebut, adalah sebuah petunjuk kita untuk saling tolong menolong, saling menasehati, saling memberi saran dalam menyelesaikan sesuatu amalan/ pekerjaan. Manusia adalah makhluk sosial, berinteraksi dengan orang lain juga bagian dari kebutuhan hidupnya, termasuk dalam hal menyelesaikan tugas masing-masing individu. 

Dalam bekerja, setiap muslim dituntut untuk tawazun, seimbang dalam aspek kehidupannya. Urusan dunia dan akhiratnya harus seimbang, waktu bekerja, ibadah, istirahat, olahraga, makan dan minum, serta urusan lainnya harus seimbang. Ini bagian dari etos kerja yang benar, bukan bekerja membabi buta, tak mengenal batasan fisik dan ruhani.

Allah sudah gariskan dalam Surah Al Jumuah

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (Q.S. Al Jumuah: 10)

وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا ۚ قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ ۚ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: "Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan", dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki. (Q.S. Al Jumuah: 11)

Demikianlah Allah mengajarkan kepada kita contoh keseimbangan. Dalam ayat ke-10, kita diminta segera menuju aktivitas pekerjaan kita masing-masing yang terhampar di muka bumi ini, setelah kita melaksanakan kewajiban ibadah kita kepada Allah. Kita diminta bekerja dengan tetap mengingat Allah, menaruh Allah dalam setiap aktitas duniawi kita, agar kita selalu dalam koridor perintahNya dan menjauhi laranganNya sehingga kita benar-benar menjadi orang yang beruntung.

Dan pada ayat ke-11, Allah ingatkan kita yang sedang melaksanakan aktivitas duniawi kita untuk bersegera menuju panggilan Allah, panggilan ibadah, jika sudah waktunya. Tidak perlu khawatir akan rugi, karena yang memanggil kita adalah Allah, Yang Maha Pemberi Rezeki.

Wallahu a'lam bishshawaab
(by. fb.IP n Akral)