Kecelakaan Lalu Lintas

Artikel Erwinfs(Erwinfs) 15 Desember 2020 10:06:50 WIB


15 November ternyata diperingati sebagai Hari Mengenang Korban Kecelakaan Lalu Lintas Sedunia. Kecelakaan lalu lintas memang merupakan peristiwa yang terjadi hampir setiap hari, atau mungkin bahkan setiap hari. Dalam tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals, SDGs) ditargetkan pada 2020 bisa menurunkan jumlah korban kecelakaan lalu lintas hingga setengahnya. Tapi ternyata tidak tercapai. 

Setengah dari jumlah yang mana? Yaitu dari Global Status Report on Road Safety 2018 (Majalah Tempo edisi 16-22 November 2020). Dalam laporan tersebut, jumlah kematian akibat kecelakaan lalu lintas sebesar 1,35 juta jiwa per tahun. Pengendara mobil yang mengalami kecelakaan lalu lintas berjumlah 392.904 jiwa. Korban dari pengendara motor berjumlah 379.356 jiwa. Korban dari pejalan kaki berjumlah 311.614 jiwa. Dan korban dari pesepeda berjumlah 40.646 jiwa.  

Besarnya jumlah korban kecelakaan lalu lintas ini mengindikasikan bahwa mereka yang membawa kendaraan di jalan raya belum bisa berlalu lintas secara benar. Hari ini kita bisa saksikan sendiri bagaimana perilaku kendaraan bermotor yang seenaknya saja melintas tanpa etika dan juga menabrak aturan. 

Jika melihat bahwa jumlah korban dari pengendara mobil yang paling banyak, maka terlihat bahwa pengendara mobil masih banyak yang melanggar lampu lalu lintas, tidak mau menyalakan lampu sein ketika berbelok, dan sering tancap gas tanpa melakukan antisipasi. 

Sebagai contoh, di jalan tol kecepatan tertinggi sudah ditentukan. Ada yang 80 km/jam dan 100 km/jam. Jika kecepatan di atas 100 km/jam, potensi untuk celaka sangat besar. Seringkali terjadi tabrakan beruntun akibat kecepatan tinggi lalu rem mendadak. Sementara itu, perilaku di jalan dalam kota, mobil dipacu dengan kecepatan tinggi sehingga bisa saja menabrak yang ada di depannya. Atau bisa juga “adu kambing”. Perilaku buruk seperti ini masih tetap ada akibat tidak tahu berlalu lintas dan mau menang sendiri. 

Sementara itu, perilaku pengendara motor di jalanan juga semakin mengerikan. Melawan arus sudah biasa. Berani tidak memakai helm. Mengendarai motor dengan kencang. Tidak menyalakan lampu sein ketika berbelok. Mengambil jalur kanan tapi jalannya pelan. Dan perilaku buruk lainnya yang menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintas. 

Sementara itu pejalan kaki mungkin nasibnya paling buruk. Tertabrak motor atau mobil yang melaju kencang. Tapi bisa juga karena tidak menggunakan trotoar untuk berjalan kaki dan tidak menggunakan zebra cross untuk menyeberang. Saya sering melihat pejalan kaki menyeberang di perempatan dengan berjalan di tengah perempatan, bukan di zebra cross. Ini sangat berbahaya, tetapi tidak dihiraukan. 

Gagalnya SDGs menurunkan angka kecelakaan lalu lintas hingga setengah dari laporan tahun 2018 mengindikasikan bahwa perilaku berlalu lintas cenderung semakin buruk. Namun ini bukan berarti tidak ada yang berlalu lintas dengan baik. Yang berlalu lintas dengan baik, tertib, taat aturan masih sangat banyak. Akan tetapi yang berperilaku buruk di jalan dalam berlalu lintas juga banyak dan semakin bertambah. (efs)