Waspada Hujan Lebat

Artikel () 22 Oktober 2020 10:46:29 WIB


Harian Kompas edisi 20 Oktober 2020 dalam salah satu halamannya menurunkan tulisan dengan judul, “Waspadai Curah Hujan Lebat Sepekan Mendatang”. Di awal paragraf tertulis agar masyarakat waspada terhadap bencana hidrometeorologi. Hujan lebat disertai angin kencang diramalkan akan terjadi dalam seminggu ke depan. 

Bencana hidrometereologi contohnya adalah banjir dan tanah longsor. Berdasarkan data BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), 99 persen bencana yang ada saat ini merupakan bencana hidrometeorologi yang diperkirakan akan menjadi ancaman hingga akhir 2020. 

Jika melihat rekap jumlah bencana yang terjadi di Indonesia bencana yang sering terjadi adalah banjir (829 kejadian), putting beliung (640 kejadian) dan tanah longsor (416 kejadian). Meskipun Sumbar sering disebut sebagai supermarket bencana ternyata bukan merupakan provinsi yang paling sering mengalami bencana. 

Adapun provinsi yang paling sering mengalami kejadian bencana adalah Jawa Barat (426), Jawa Tengah (390), Jawa Timur (328), Aceh (224), Sulawesi Selatan (105). Sumbar sendiri sebanyak 91 kejadian bencana. 

Kembali ke masalah kewaspadaan terhadap hujan lebat yang akan turun, maka salah satu cara untuk mengantisipasi adalah melihat langit di pagi hari. Jika awan sudah banyak di sebelah timur, maka hujan lebat di hulu sungai akan terjadi dan siap-siap jika ternyata arus sungai cukup deras. Karena akan menggenani daerah sekitar yang dilalui arus tersebut. 

Atau, jika mendung cukup lama dan suhu terasa panas, kemungkinan akan turun hujan cukup lama. Waspadai hujan yang turun sore hingga malam atau yang turun malam hingga pagi. Karena kondisi malam hingga pagi jika terjadi banjir biasanya sulit diantisipasi. 

Selain bencana berupa curah hujan lebat, tak kalah mengerikannya adalah kekeringan. Wilayah yang diramalkan akan mengalami kekeringan hidrometereologis adalah sebagian Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan dan Maluku. 

Beberapa wilayah di NTT dan NTB tercatat 60 hari tanpa hujan. Antisipasi untuk daerah seperti ini adalah penyiapan tangka air bersih, pompa air, memanen air hujan, memanfaatkan air limbah rumah tangga yang masih bersih. 

Jika melihat risiko terjadinya kekeringan hidroneteorologis, nampaknya curah hujan lebat harus “disyukuri”. Karena hidup tanpa air pasti jauh lebih menyusahkan dibanding kelebihan air. Setidaknya ini menurut pendapat saya pribadi. 

Semoga kita bisa mengantisipasi datangnya curah hujan lebat yang berpotensi menimbulkan banjir hingga longsor. Karena hal ini sebenarnya bisa diamati secara alami sehingga bisa dilakukan antisipasi lebih cepat dan komprehensif. (efs)