Pengurangan Premium

Artikel () 22 Oktober 2020 10:35:08 WIB


Harian Kontan edisi 15 September 2020 di dalam headlinenya memuat tulisan dengan judul, “Premium Dikurangi, Pertamina Diskon Harga Pertalite”. Di dalam tulisan tersebut ditampilkan grafik penggunaan pertamax, pertalite dan premium pada 2018, 2019 dan semester pertama 2020. 

Pada 2018, secara persentase penggunaan pertamax sebesar 15,6%, pertalite 52,4%, premium 31,3%. Pada 2019 komposisinya pertamax 11,2%, pertalite 55,2%, premium 33%.  Dan pada 2020 semester 1 komposisinya, pertamax 11,6%, pertalite 56,9%, premium 30,8%. Di grafik juga disajikan penggunaan pertamax turbo yang tidak sampai satu persen. 

Dari grafik di atas, penggunaan pertalite semakin meningkat dari 2018 hingga 2020. Sedangkan pertamax dari 2018 ke 2020 juga berkurang. Premium juga berkurang. Ini artinya, pertalite menjadi idola baru masyarakat. 

Dalam tulisan tersebut juga dijelaskan tiga strategi langit biru yaitu: Tahap I, pengurangan BBM RON 88 disertai edukasi dan kampanye untuk mendorong penggunaan BBM RON 90 ke atas. Tahap II, pengurangan BBM RON 88 dan RON 90 di SPBU disertai edukasi dan kampanye untuk mendorong konsumen menggunakan BBM di atas RON 90. Tahap III, simplikasi produk yang dijual  di SPBU hanya dua varian yakni BBM RON 91/92 dan BBM RON 95. 

Meskipun premium masih dijual di SPBU, namun ada yang aneh yang terlihat di tengah masyarakat. Contohnya, banyak berdiri tempat penjualan premium eceran di pinggir jalan di Kota Padang. Kemudian di waktu tertentu terjadi antrean mobil di SPBU yang hendak mengisi premium. Antrean kendaraan di berbagi SPBU jelas mempengaruhi kelancaran lalu lintas. Seolah-olah terjadi kelangkaan premium. Padahal premium banyak dijual secara eceran di pinggir jalan. 

Fenomena ini menjelaskan bahwa premium di satu sisi masih dibutuhkan masyarakat. Meskipun mereka memiliki mobil, tapi sepertinya hanya bisa membeli premium. Sehingga rela antre di SPBU. Di sisi lain, premium menjadi komoditi yang dijual eceran oleh pedagang kecil. Maka, terjadi semacam “petarungan” di masyarakat level bawah dalam memperlakukan premium. Yang satu hendak menjadikan sebagai barang konsumsi mobil mereka. Dan yang satu lagi hendak menjadikan sebagai barang jualan mereka. 

Tidak dipungkiri, pertambahan jumlah penduduk menyebabkan pertambahan jumlah mobil yang beredar di jalan raya. Baik mobil baru, mobil lama, dan mobil bekas. Sebagian mereka menjadikan premium sebagai bahan bakar kendaraanya, karena merasa hanya itu yang bisa dibeli sesuai dengan penghasilan mereka. 

Pengurangan premium memang akan terjadi, guna mengurangi polusi. Namun kapan waktunya, kemungkinan masih menunggu waktu yang tepat. Apalagi sekarang tengah pandemi. Ekonomi belum seperti sediakala ketika belum pandemi. (efs)