Menakar Investasi Pariwisata Kita


Post by Telematika(Telematika) | Posted on 01 Desember 2016 13:21:42 WIB | Artikel | 400 kali dibaca


Menakar Investasi Pariwisata Kita

Oleh : Arzil

Duniaglobalisasi merupakan hal yang sudah tak asing lagi buat kita semua. Dunia globalisasi telah masuk kesemua Negara tak heran globalisasi membawa hal yang baik dan buruknya. Globalisasi juga telah berkembang merambat kedunia perekonomian, biasanya berupa penanaman modal (investasi) pada sektor industri, pertambangan, infrastruktur dan lainnya. 

Secara spesifik lagi, Investasi adalah suatu istilah dengan beberapa pengertian yang berhubungan dengan keuangan dan ekonomi. Istilah tersebut berkaitan dengan akumulasi suatu bentuk aktiva dengan suatu harapan mendapatkan keuntungan dimasa depan. Terkadang, investasi disebut juga sebagai penanaman modal.

Berdasarkan teori ekonomi, investasi berarti pembelian (dan berarti juga produksi) dari kapital/modal barang-barang yang tidak dikonsumsi tetapi digunakan untuk produksi yang akan datang (barang produksi). Contoh termasuk membangun rel kereta api, atau suatu pabrik, pembukaan lahan, atau seseorang sekolah di universitas. Untuk lebih jelasnya, investasi juga adalah suatu komponen dari PDB dengan rumus PDB = C + I + G + (X-M).

Seperti disebutkan Pendit (1990:29) bahwa pariwisata merupakan suatu sektor yang kompleks, yang juga melibatkan industri-industri klasik, seperti kerajinan tangan dan cinderamata, serta usaha-usaha penginapan dan transportasi.

Ditambahkan pula bahwa pariwisata terdiri 10 unsur pokok, yaitu : 1) politik pemerintah, 2) perasaan ingin tahun, 3) sifat ramah tamah, 4) jarak dan waktu, 5) atraksi, 6) akomodasi, 7) pengangkutan, 8) harga-harga, 9) publisitas dan 10) kesempatan berbelanja.

Jadi tidak salah bila kita melihat bahwa sektor pariwisata juga bisa membuka peluang bagi pemilik modal untuk berinvestasi. Pasalnya, cukup banyak komponen atau bidang usaha yang bisa dikembangkan pada sektor pariwisata ini.

Bahkan penjelasan seorang Ekonom Dr. Salah Wahab menyatakan, pariwisata adalah salah satu jenis industri baru yang mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam menyediakan lapangan kerja, peningkatan penghasilan, standar hidup serta menstimulasi sektor-sektor produktivitas lainnya.

 

Nah, begitu besarnya dampak ekonomi yang diberikan melalui investasi itu, menjadikan sejumlah daerah di Indonesia berlomba-lomba membuka diri pada para investor untuk berinvestasi, tidak terkecuali Sumatera Barat.  

Yang menjadi pertanyaan, siapkah Sumatera Barat menerima kehadiran para investor khususnya di sektor pariwisata? Pertanyaan ini muncul dari kondisi lapangan yang terjadi, dimana masih dijumpainnya kendala untuk bidang investasi itu.

Seperti yang pernah disampaikan Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno beberapa waktu lalu, bahwa kendala utama yang dihadapi calon investor untuk melakukan investasi di Sumbar, adalah kepastian waktu dan biaya dalam pengurusan izin yang belum jelas.

Akibatnya, menyulitkan para calon investor dalam perencanaan pembiayaan investasi yang akan dilakukannya. Kendala lain, soal kepastian penggunaan lahan untuk lokasi investasi masih sulit pengurusannya terutama dalam penggunaan tanah ulayat.

 

Hal lainnya, yakni masih beragamnya lembaga yang menangani pengurusan izin penanaman modal sehingga prosesnya masih panjang dan cenderung menimbulkan biaya tinggi.

 

Kemudian, objek dan paket-paket wisata yang ditawarkan masih kalah bersaing dari daerah lainnya. Objek-objek wisata yang ada kurang terpelihara dengan baik, bahkan banyak yang terlantar karena rendahnya kemampuan pengelolaan dan hasil yang diperoleh.

 

Kreativitas dan inovasi masyarakat tidak tumbuh dan berkembang sejalan dengan kebijakan pengembangan pariwisata yang direncanakan pemerintah daerah. Disamping itu paket-paket wisata yang ada belum dikelola secara profesional, sehingga tidak banyak wisatawan yang datang secara berombongan.

 

Padahal, dalam pengembangan pariwisata, itu berguna sekali untuk mendongkrak kunjungan wisatawan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jadi tidak salah bila Gubernur meminta meminta bupati dan wali kota sinergi dalam pengembangan pariwisata.

Permintaan atau bisa disebutkan sebuah ‘desakan’ dari Gubernur itu karena belum semua kepala deerah di Sumbar ini yang komit dalam pengembangan destinasi wisata di daerahnya. Terbukti dari minimnya alokasi anggaran daerah untuk sektor pariwisata.

Sejalan dengan permintaan itu, Pemprov Sumbar pun membentuk tim khsusu untuk meminimalisir kendala-kendala yang menghambat iklim investasi di Sumbar, terlebih di sektor pariwisata yang dipimpin langsung oleh Wakil Gubernur Nasrul Abit.

Tujuan tim ini dibentuk untuk mempermudah proses urusan yang dibutuhkan pihak investor, bahkan tim ini menerapakan pengurusan izin yang dibutuhkan calon investor ditangani secara singkat dan satu pintu yang dinamakan gerakan terpadu pengembangan pariwisata.

Sebenarnya masih banyak peluang bisnis lainnya yang juga menarik dan bisa jadi inspirasi; bisnis souvenir khas, kaos traveling, binsis jual perlengkapan traveling (yang ini belum ada ecommers besar-nya lho), jasa tour guide, penerjemah kalau Anda pandai bahasa asing, dan banyak lagi,

Pertanyaannya, akankah kita hanya duduk manis menunggu gebrakan dari tim pengembang tersebut, atau membiarkan peluang investasi sektor pariwisata ini terlewatkan begitu saja? (***)


Berita Terkait :

 

Video

Foto

Kegiatan

  • Penyerahan Penghargaan Literasi dan Rapat Koordinas Bidang Perpustakaa

    • Jumat, 20 Oktober 2017
    • Jumat, 20 Oktober 2017
  • Penandatanganan Kesepakatan Gerakan Nasional Tertib Arsip

    • Kamis, 14 September 2017
    • Kamis, 14 September 2017
  • arsip kegiatan

Tokoh