Indonesia Bersih


Post by Yongki Salmeno(Yongki Salmeno) | Posted on 13 Juni 2013 02:21:03 WIB | Artikel | 1258 kali dibaca


Sebelum tahun 1970 kondisi Singapura tak jauh berbeda dengan keadaan Indonesia saat ini

. Sampah bertebaran dimana-mana, sungai-sungai kotor, bau karena dicemari beraneka jenis sampah. Keruwetan terlihat jelas di kota pulau bekas jajahan Inggris yang didiami penduduk beragam etnis tersebut.

Jepang dulu juga demikian, sungai-sungai, pantai dan pelabuhan terlihat jorok dan bau, penuh sampah. Bahkan berbagai limbah industri, termasuk bahan buangan berbahaya (B3) seenaknya digelontorkan ke perairan umum menambah parah pencemaran lingkungan.

Suasana tak nyaman tentu saja jelas terasa. Tidak hanya itu, pencemaran lingkungan ternyata juga berdampak terhadap kesehatan manusia. Akibat pencemaran, di Jepang muncul penyakit aneh yang dinamakan itai-itai. Penyakit ini menyebabkan kelumpuhan sistem syaraf manusia yang menyebabkan ia merasa sakit sepanjang hari. Karena itu penderita sepanjang hari mengeluh “itai... itai...” (bahasa Jepang = sakit). Lalu penyakit itu dinamakan ita-itai.

Selanjutnya diketahui bahwa penyakit itai-itai disebabkan oleh pencemaran logam mercuri pada air dan lingkungan. Logam ini masuk melalui air dan makanan ke dalam tubuh manusia, lalu menumpuk (terdeposit) dalam jaringan syaraf manusia. Kejadian inilah yang menyebabkan munculnya penyakit itai-itai yang menimbulkan gangguan sistem syaraf, kelumpuhan, cacat pada bayi, bahkan kematian.

Terpicu oleh kejadian tersebut, pemerintah dan masyarakat Jepang melakukan perubahan. Pemerintah mengeluarkan peraturan ketat untuk mencegah pencemaran lingkungan. Sanksi tegas diberikan bagi pelaku pencemar lingkungan. Perusahaan-perusahaan dan industri harus membuat instalasi pengolahan limbah , agar air buangannya tidak mencemari lingkungan. Sedangkan masyarakat sebagai individu menegakkan disiplin agar tidak menjadi kontributor pencemar lingkungan.

Singapura juga melakukan hal serupa, sejumlah program dibuat untuk menanggulangi pencemaran lingkungan, termasuk sampah-sampah yang bertebaran yang merusak pemandangan dan mencemari lingkungan. Aturan dan sanksi diperketat, disiplin ditegakkan secara tegas, masyarakat mematuhinya dan ikut berkontribusi sebagai penjaga kebersihan, bukan lagi sebagai pencemar.

Hasilnya sekarang bisa kita lihat. Singapura menjelma menjadi negara kecil yang maju, bersih, tertib dan nyaman. Siapapun ingin berkunjung, berwisata atau melakukan investasi di Singapura. Jepang apalagi, meski terkenal sebagai negara industri, namun kota-kota di Jepang selalu bersih, rapi dan nyaman. Kualitas kesehatan masyarakat menjadi tinggi tinggi. Karena sehat, rata-rata penduduknya berumur panjang.

Dari contoh dan pengalaman di atas bisa kita simpulkan bahwa kota yang semrawut, kotor dan kacau balau, bisa diubah menjadi kota yang indah, nyaman dan sehat. Kuncinya adalah tekad dan kemauan serius masyarakatnya untuk berubah dan memperbaikinya menjadi baik. Aturan dan sanksi lalu dibuat pemerintah sebagai kontrol. Namun yang lebih penting tentu saja kemauan masyarakatnya untuk berubah.

Di kota Padang yang jumlah penduduknya lebih dari 600.000 jiwa bagaimana mungkin masalah sampah dan kebersihan bisa diselesaikan hanya oleh sekitar 50 orang petugas kebersihan? Tentu saja justru peran serta masyarakat sangat dibutuhkan dan lebih dominan.

Menjaga kebersihan dan menciptakan lingkungan yang nyaman bisa dimulai dari hal-hal kecil. Masing-masing keluarga menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan di rumah masing-masing. Sekolah-sekolah juga menciptakan kenyamanan dan kebersihan di lingkungannya masing-masing. Sedangkan setiap kantor juga menjaga kebersihan, menciptakan kenyaman dan keindahan di lingkungan masing-masing. Mushalla dan mesjid bersama jamaahnya juga menjaga kebersihan dan kenyamanan di lingkungan masing-masing.

Insya Allah jika hal itu dilakukan, tanpa terasa kita telah memperbaiki kualitas lingkungan kita serta kulitas hidup kita. Jika hal itu dilakukan di semua kota di Indonesia dan seluruh Indonesia, kita yakin negara yang kita yang indah ini menjadi negara yang bersih dan nyaman. Kesejahteraan akan datang menyusul.(Oleh Irwan Prayitno)


Berita Terkait :

 

Video

Foto

Kegiatan

  • BATIGO FEST

    • Senin, 28 Oktober 2019
    • Sabtu, 02 November 2019
  • Penerimaan Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM)

    • Rabu, 19 Desember 2018
    • Minggu, 30 Desember 2018
  • arsip kegiatan

Tokoh