Pertanian Organik Maju Pesat di Sumbar


Post by Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan(RASMUNALDI, ST) | Posted on 10 April 2013 14:05:00 WIB | Pertanian | 2582 kali dibaca


Pembangunan Pertanian Organik sudah menjadi kebijakan Pemerintah Propinsi Sumatera Barat sejak tahun 2006 lalu.

Ini tergambar dalam Rencana Strategis   Propinsi Sumatera Barat  melalui Surat Keputusan Kepala Dinas Pertanian Tanaman dan Hortikultura Nomor 521/2647/KDS/2006. Dalam satu misinya untuk mewujudkan rumah tangga petani yang sejahtera, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Sumbar mengembangkan pertanian organik.

gub organikKini, sejak dicanangkan enam tahun lalu, pengembangan pertanian organik mencatat prestasi yang cukup mengesankan. Yang paling menonjol adalah pada akhir tahun 2012 lalu, Pemerintah Sumatera Barat mendapat penghargaan dari Departemen Pertanian sebagai daerah yang berprestasi dalam pengembangan pertanian organik di Indonesia.

Penghargaan diterima oleh Gubernur Sumbar Prof. Dr. Irwan Prayitno yang diserahkan langsung Menteri Pertanian Dr Suswono. Bersamaan dengan itu tiga Kelompok Tani Organik di Sumbar juga menerima sertifikasi organik. Ketiga kelompok itu adalah Kelompok Tani Solok Batung Organik, Kelurahan Gantiang, Kota Padang Panjang, Kelompok Tani Puncak Alai, Kecamatan Salimpauang, Tanah Datar dan Kelompok Tani Amanah Agro, Nagari Simarasok, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam.

 

Penghargaan ini jelas sebuah prestasi yang patut diapresiasi. Bagaimana pun tidak mudah mengembangkan pertanian   organik. Tantangan sangat banyak, mulai dari belum familiar petani dengan pertanian organik, sampai dukungan kebijakan dari pemerintah pusat yang terkadang sulit diimplementasikan di lapangan. Namun, dengan keseriusan, kerja keras, dan konsisten dengan kebijakan dibuat,   Sumbar dapat dikatakan yang terdepan dalam pengembangan pertanian organik di Indonesia.

 

Tentu bukan hanya dari penghargaan yang diterima Gubernur tersebut yang menunjukan   prestasi Sumbar dalam mengembangkan pertanian organik. Angka-angka   yang tercatat bisa juga menjadi bukti kalau pembangunan pertanian organik maju pesat di propinsi ini.   Misalnya dari luasan areal pertanian organik.

 

Sampai tahun 2012 ini, luas areal pertanian organik sudah mencapai 1000 ha yang lokasi tersebar di berbagai kabupaten. Padahal, ketika kebijakan pengembangan pertanian organik dimasukan dalam renstra, luas areal pertanian organik masih bisa dihitung dengan jari. Target pemerintah Sumbar sendiri hingga tahun 2015 nanti, luas areal pertanian organik di propinsi ini mencapai 2000 ha.

Dari sisi petani yang mengembangkan pertanian organik juga terjadi peningkatan yang luar biasa. Pada awal-awal pertanian organik menjadi kebijakan pembangunan pertanian Sumbar, hanya ada segelintir kelompok tani yang telah mengembangkan pertanian organik. Tapi kini setelah enam tahun berselang, jumlah kelompok tani yang bertani organik di Sumbar mencapai 141 kelompok tani. Hal ini menunjukan kalau sosialisasi pengembangan pertanian organik di Sumbar sudah cukup masif terhadap petani.

 Konsistensi Kebijakan.

Satu pertanyaan !   Mengapa   pertanian organik bisa begitu cepat berkembang di Sumbar ? Jawabannya adalah adanya konsistensi kebijakan dari   Pemerintah Propinsi Sumbar, terutama melalui Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Sumbar. Konsistensi ini diikuti dngan keseriusan dan kerja keras dari seluruh pihak yang terkait dengan pembangunan pertanian.

ha-po

Sejak dicanangkan   mengembangkan pertanian organik, Diperta Sumbar telah membuat 14 kegiatan pembangunan pertanian organik. Ke 14 kegiatan itu adalah magang petugas/petani organik, fasilitasi pengembangan pusat studi pertanian organik, temu teknis pertanian organik, penyusunan buku pertanian organik.

Kegiatan selanjutnya adalah pembinaan petani pakar dalam rangka pelaksanaan SLPTT, Dokumentasi perkembangan pertanian organik, bantuan transpor petani pakar, pembinaan dan sertifikasi pangan organik, fasilitasi persiapan sertifikasi dan operasional LSO, pemasyarakatan pertanian organik, operasional dan penguatan lembaga sertifikasi organik (LSO), pengembangan sayuran organik dan pembinaan kelompok tani/operator pertanian organik.

Setiap tahun anggaran untuk melaksanakan kegiatan tersebut selalu dianggarkan. Tahun 2012 lalu, contohnya, ada anggaran untuk mendirikan 3 unit pusat studi pertanian organik, Sumbar juga menyediakan insentif senilai Rp 400 juta untuk   petani-petani yang menghasilkan produk organik.    Keberadaan petani pakar yang terampil dalam berorganik dibiayai perjalanan dalam melatih petani lain untuk berorganik.

Selain yang bersifat pengembangan sumber daya manusia, kebutuhan sarana dan prasarana pengembangan pertanian organik juga disediakan. Salah satunya adalah Lembaga Sertifikasi Organik (LSO). Sumbar merupakan satu-satunya pemerintah daerah di Indonesia yang telah memiliki lembaga sertifikasi organik sendiri.

Berkat dukungan dana dan keseriusan dalam menisiasasi   lembaga ini, kini keberadaan sertifikasi organik LSO Sumbar telah mendapat pengakuan dan terakreditasi dari Komite Akreditasi Nasional. Semua itu   bertujuan agar pertanian organik betul-betuk berkembang di Sumatera Barat.

Ke depannya, sebagai bagian dari konsistensi, komitmen agar pertanian organik terus berkembang di Sumbar tetap menjadi komitmen pemerintah Sumbar. Pada akhirnya,   gerakan pembangunan pertanian organik membuat petani   betul-betul menjadipetani mandiri yang sejahtera. Sistim pertanian juga tidak lagi merusak lingkungan.


Berita Terkait :

 

Video

Foto

Kegiatan

  • Penerimaan Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM)

    • Rabu, 19 Desember 2018
    • Minggu, 30 Desember 2018
  • HASIL SELEKSI ADMINISTRASI PADA SELEKSI TERBUKA JABATAN PIMPINAN TINGG

    • Minggu, 01 April 2018
    • Senin, 02 April 2018
  • arsip kegiatan

Tokoh