Pacu Jawi Dimata Wisatawan Asing


Post by Dinas kebudayaan dan pariwisata(Dinas kebudayaan dan pariwisata) | Posted on 30 September 2014 01:51:19 WIB | wisata budaya | 1619 kali dibaca


Pacu jawi atau dapat disebut balapan sapi merupakan salah satu dari sekian banyak atraksi permainan tradisional yang berasal dari kabupaten Tanah Datar, provinsi Sumatera Barat. Setiap tahun, iven Pacu Jawi ini diselenggarakan secara bergiliran selama empat minggu di empat kecamatan yang ada di kabupaten Tanah Datar, yaitu kecamatan Pariangan, kecamatan Rambatan, kecamatan Lima Kaum, dan kecamatan Sungai Tarab.

Pacu jawi sendiri telah ada sejak ratusan tahun lalu, yang pada awalnya merupakan kegiatan yang dilakukan oleh para petani sehabis musim panen (padi di sawah-red) untuk mengisi waktu luang sekaligus menjadi sarana silahturahmi dan hiburan bagi masyarakat setempat.

Hingga saat ini Iven Pacu Jawi, tak lagi hanya sekedar ajang silaturahmi dan hiburan bagi masyarakat setempat, lewat Pacu Jawi, Tanah Datar diserbu ratusan bahkan ribuan wisatawan asing disetiap tahun nya. Rata-rata wisatawan Asing yang datang hanya sekedar untuk melihat bagaimana alek nagari itu dilaksanakan, selain juga mereka datang untuk mengabadikan moment pacu jawi lewat mata lensa. Mereka menganggap Pacu Jawi merupakan salah satu permainan tradisional unggulan Indonesia, mulai dari kekuatan seorang Joki, sapi yang sehat, cipratan lumpur, hingga keramah tamahan warga setempat, menjadikan Pacu Jawi ikon pariwisata unggulan Sumatera Barat.

Wisatawan Asing yang datang menilai Pacu Jawi jauh sangat berbeda jika dibandingkan dengan karapan sapi yang ada di provinsi lainnya di Indonesia pacu jawi di kabupaten Tanah Datar diadakan di area persawahan milik masyarakat setempat yang masih dalam kondisi berlumpur. Uniknya, sepasang sapi hanya berlari sendiri tanpa lawan, bukan dengan pasangan lawan sebagaimana layaknya perlombaan. Dimana, penilaiannya adalah lurus atau tidak lurusnya sepasang sapi dalam berlari, disamping penilaian waktu tempuh lintasan. Selain itu, kegiatan Pacu Jawi juga dipadukan dengan tradisi masyarakat setempat, seperti penampilan tarian dan permainan alat musik tradisional.

Seorang joki mengendarai sepasang sapi (atau jawi dalam bahasa Minang) yang diapit oleh peralatan pembajak sawah sambil memegang tali dan menggigit ekor kedua sapi. Dimana seorang joki akan dibekali alat bajak pacu yang terbuat dari bambu sebagai alat berpijak sewaktu perlombaan dimulai. Alat tersebut merupakan salah satu peralatan yang digunakan oleh petani untuk membajak sawah. Kedua ekor sapi terkadang digigit agar lari sapi lebih cepat, semakin kuat ekor kedua sapi itu digigit, semakin cepat pula sapi itu berlari.

Peran Fotografer

Pacu Jawi dapat dikenal diseluruh penjuru dunia, tak lepas dari peran aktif para penggiat Fotografi. Dunia mengenal pacu jawi dengan semua pesona nya berkat bidikan mata lensa para fotografi. Berbagai angel, foto pacu jawi menyebar di hampir seluruh akun pengguna media sosial, perbincangan tantangan dan pengalaman motret pacu jawi pun menjadi bahasan dikalangan potografer, hingga akhir nya pacu jawi mendunia dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing maupun lokal. (*)


Berita Terkait :

 

Video

Foto

Kegiatan

  • Penyerahan Hasil Pengawasan Kearsipan Eksternal (LAKE) oleh ANRI ke Le

    • Kamis, 14 Desember 2017
    • Kamis, 14 Desember 2017
  • Gerakan Nasional Sadar Tertib Arsip (GNSTA) di Provinsi Sumatera Barat

    • Kamis, 14 Desember 2017
    • Kamis, 14 Desember 2017
  • arsip kegiatan

Tokoh