Wagub Muslim Kasim : Perusahaan Inti dan Peternak Mesti Bersatu Agar Memiliki Bergaining Position Penentuan Harga Pasar


Post by Sub Bag. Sarana dan Prasarana(Sub Bag. Sarana dan Prasarana) | Posted on 31 Januari 2014 11:04:55 WIB | Berita Terkini | 1165 kali dibaca


Padang, Wakil Gubernur Sumatera Barat Muslim Kasim mengikuti acara Temu Kemitraan Investasi Perunggasan Sumatera Barat di Padang, Selasa (28/1). Hadir dalam kesempatan itu Kadis Peternakan Ir. Erinaldi, MM, beberapa pengusaha kelompok inti, kelompok plasma ternak, utusan kabupaten/ kota se Sumatera Barat.

Wakil Gubernur Muslim Kasim  dalam kesempatan itu menyampaikan, perlu adanya perhatian keseimbangan keuntungan baik dari posisi pengusaha inti dan juga memperhatikan kesejahteraan plasma pengelola ternak (peternak). Jika perlu penetapan kebijakan bersama tidak boleh masuk produksi dari luar dan menjaga produksi di dalam tidak keluar, sehingga peningkatan kesejahteraan pertenak di daerah ini dapat terjamin. 

Ada beberapa persoalan yang menyangkut kemitraan investasi perunggasan Sumatera Barat antara lain, jumlah produksi ayam potong telah melebihi kebutuhan ayam di Sumatera Barat yan diperkirakan lebih kurang 20 persen. Namun selama ini kelebihan supaly ayam ditampung oleh provinsi Riau dan Jambi akan tetapi saat ini perternakan kedua provinsi tentangga telah berkembang cukup maju, sehingg sulit bagi perusahan inti untuk memasarkan ayam hasil panen plasma mereka. 

Sementara perusahaan besar yang menyerap ayam potong meliputi KFC.Mc Donal dan Texas masih mendatangkan ayam dari luar daerah Sumatera Barat. Selain itu Kita juga belum memiliki Rumah Ayam Potong, yang mampu menampung dan memasarkan ayam para peternak, akibatnya banyak perusahaan inti dan peternak gulung tikar.

Kemudian persoalan harga ayam dipasaran yang dijual pedagang pengencer cukup tinggi, sementara harga pedagang kepada perudahaan inti rendah dan selisihnya cukup signifikan, akibatnya panen ayam kandang peternak waktunya cukup lama yang menyebakan peternak menambah waktun pemeliharaan yang seharus sudah masuk masa panen. 

Dan  banyak persoalan lainnya, namun dnegan keluarnya pergub No.19 Tahun 2013 tentang Pedoman Pelaksanaan Pola Kemitraan Ayam Pedaging, diharapkan persoalan dan permasalahan kemitraan antara perusahaan inti dengan peternak plasma dapat diselesaikan dengan baik, harapnya. 

Muslim Kasim juga menghimbau, kita mesti galang persatuan dan kesatuan perusahaan inti dengan peternak untuk satu komitmen, dan kita memiliki bergaining position dengan pasar, sehingga harga dapat menjamin produktifitas para peternak dan perusahaan inti.

Selain itu kita juga perlu membangun sinegritas antara perusahaan inti dan peternal plasma dilakukan secara transparan dan menguntungkan kedua belah pihak. Dan tanggungjawab dinas terkait intensitas pembinaan pada peternak ayam dilapangan untuk menghasilan produksi yang baik dan bermutu, harapnya.

Kadis Pertenakan Ir. Erinaldi,MM dalam kesempatan itu juga menyampaikan, populasi ayam ras pedaging di Sumbar telah mencapai 18 juta ekor pada tahun 2013, sedangkan untuk populasi ayam ras petelur dan ayam buras masing-masing mencapai lebih kurang 9 juta ekor dan 5 juta ekor pada tahun 2012.

Saat ini kawasan pengembangan perunggasan ayam potong terutama kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, Kota Pariaman, Kota Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Kota, Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Agam dengan jumlah DOC ayam pedaging perperiode lebih kurang 3.026.600 ekor yang dikembangkan melalui pola kemitraan inti –plasma.

Sementara investasi dalam agribinis ayam pedaging di Sumatera Barat oleh PT. Chiomas Adi Putra dengan 83 plasma, PT Minang Ternak Sejahtera 120 plasma, PT Primatama Karya Persada 64 plasma, PT. Satwa Mitra Utama 27 plasma, PT Sumatera Minang Raya 28 plasma, PT Ertiga 18 plasma, Bina Ayam Mandiri 37 plasma, Persorangan 58 plasma, Torang PS 45 plasma, Garuda PS 15 plasma dan Rajawali PS 10 plasma. Total plasma ayam ras ternak pedaging 505 plama dan juga ada puluhan ayam ternak buras lainnya.

Untuk mendorong tumbuh dan berkembang agribinis perunggasan di Sumatera Barat telah didukung oleh sarana dan prasarana, Pabrik Pakan ternak 1 unit kapasitas produksi 60 ton/perhari, Hatchery 2 unit kapasitas produksi 1,8 juta ekor/perminggu.

RPU 1 unit kapasitas produksi 2000 ekor, Poultry Shop 110 init seluruh sumbar, Depo obat hewan, Distributor obat hewan 5 cabang, ujarnya. (Humas Sumbar)


Berita Terkait :

Belum Ada Berita Terkait

 

Video

Foto

Kegiatan

  • Penerimaan Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM)

    • Rabu, 19 Desember 2018
    • Minggu, 30 Desember 2018
  • HASIL SELEKSI ADMINISTRASI PADA SELEKSI TERBUKA JABATAN PIMPINAN TINGG

    • Minggu, 01 April 2018
    • Senin, 02 April 2018
  • arsip kegiatan

Tokoh