Tragis! Ternyata  Populasi LGBT di Kota Padang Memecah Rekor Nasional 


Post by Tenaga Artikel(Yal) | Posted on 02 Desember 2019 10:51:57 WIB | Artikel | 36 kali dibaca



Oleh Yal Aziz

SEBAGAI orang Minang, tentu kita kaget, sedih dan haru begitu mengetahui populasi Lesbian, Guy, Biseksual danTransgender LGBT)   terbanyak di Suatera Barat, sebagaimana diungkapkan Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit, ketika menghadiri acara pertemuan dengan perantau dari Pesisir Selatan, di Kota Jambi, 23 Februari, 2019 lalu.


 Apa yang diungkap Nasrul Abit tersebut, mengutip data hasil tim konselor penelitian perkembangan penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS), yang menyebut angka LGBT tercatat sebanyak 18.000 orang. Angka ini jelas membuat kita orang Minang yang anti sex bebas berduka.

Padahal kita sebagai Minang punya filopsof, Adat Basandi Syarak dan Sayaka Basandi Kitabullah. Tapi faktanya, prilaku sex menyimpang justru melanda generasi muda Kota Padang. Tragis memang.

Sebagaimana kita ketahui secara medis,  perilaku LGBT menjadi salah satu penyebab penularan penyakit HIV/AIDS, yang sampai sekarang penyakit menular tersebut belum ditemukan obatnya. 

Dari fakta tersebut, tentu kita ambil hikmahnya dan langsung kita melakukan evaluasi terhadap prilaku generasi muda Minang yang terjebak dengan sek terlarang, yang dharampakan agama Islam, maupun adat Minang.

Tapi setidaknya, fakta dan angka  tentang jumlah populasi LGBT tersebut, kian menyadarkan orang tua, ninik mamak, cerdik pandai, agar mencarikan solusinya bagaimana menghindari generasi muda dengan prilaku sek menyimpang tersebut. Salah satu caranya, bisa saja melalui pendidikan moral agama dan adat. 

Kemudian, kebiasaan orang Minang tempo dulu menjadikan surau sebagai sumber paradapan dengan belajar silat dan mengaji, harus dilakukan kembali dengan program kembali ke Surau. 

Untuk itu, kita berharap kepada penguasa di Kota Padang untuk lebih serius menindak menjamurnya keberadaan cafe sebagai salah pemicu terjadinya sek bebas atau berzina secara terbuka dalam kehidupan masyarakat. 

Caranya, sudah barang tentu, Walikota Padang bersama jajarannya untuk menutup semua cafe yang berbau maksiat dan menangkap semua germo dan mendidik paramugarinya, untuk melaksanakan perintah agama, yakni shalat lima waktu. 

Apapun alasan yang disampaikan pemilik cafe dan hiburan malam, harus dijawab dengan sikap dan tindakn tegas. Kemudian, operasi yang dilakukan Satpol PP dan kesatuan lainnya, harus bersikap tegas dan tidak memberi peluang sedikitpun bagi pengusaha bermental germo tersebut. 

Sudah saatnya Walikota Padang bersikap dan betindak tegas, sembari menegaskan, Kota Padang harus bebas dari sek dan narkoba. Kota Padang Tercinta sebagai mana dijuluki di era Walikota Padang Syahul Ujud, harus tetap dengan filosofi Adat Basandi Syarak dan Syarak Basandi Kitabullah. Semoga. (penulis wartawan tabloidbijak.com dan ketua ssi sumbar)


Berita Terkait :

 

Video

Foto

Kegiatan

  • BATIGO FEST

    • Senin, 28 Oktober 2019
    • Sabtu, 02 November 2019
  • Penerimaan Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM)

    • Rabu, 19 Desember 2018
    • Minggu, 30 Desember 2018
  • arsip kegiatan

Tokoh