Kenakalan Remaja di Kota Padang Kian Merisaukan 


Post by Tenaga Artikel(Yal) | Posted on 05 Juni 2019 15:28:34 WIB | Artikel | 118 kali dibaca


SEBAGAI Wakil Gubernur Sumatera Barat, ada hal yang menarik untuk dibahas dan diperbincangnya mengenai kekhawatirannya tentang kenakalan remaja. Katanya, kenakalan remaja yang terjadi saat bulan ramadhan 2019 ini, tidak hanya tawuran saja, namun balapan liar dijalan raya. 

Yang ironisnya, balapan liar itu terjadi dikediaman dinasnya di Jalan Raden Saleh. Waktu aksi remaja tersebut berkisar sekitar pukul 02-03 dinihari menjelang saur. Fakta itu sangat mengganggu dan perlu diatas secara arif dan bijaksana. 

Balapan liar tersebut sangat tidak baik bagi generasi muda, sebab resiko yang ditimbulkan sangat tinggi, karena dapat merenggut nyawanya dan membahayakan orang lain di jalan raya. Untuk itu, masalah kenakalan remaja dijalan raya ini perlu diatasi secara arif dan bijaksana. 

Selain itu, persoalan  balapan liar ini juga dapat menimbulkan perkelahian antar pebalap, sebab balapan ini akan menimbulkan perselisihan antar kelompok. Tentu akan menimbulkan keributan lain lagi, ujung-ujungnya akan bentrok antar kelompok.

Untuk itu, orang tua dan lingkungan sekitar mesti melakukan pengawasan dalam hal ini, jangan biarkan anak-anak kita lepas kontrol, apalagi berkegiatan yang membahayakan dirinya apalagi masa depannya masih panjang.

Kemudian, pihak aparat  berwajib harus meningkatkan patroli selama ramadhan ini, melihat kondisi titik yang dijadikan ajang balapan liar ini. Jika ada ditemukan balap liar segera lakukan penindakan, sebab ini sangat membahayakan dan meresahkan masyarakat sekitar. 

Bertitik tolak dengan fakta tersebut, peran orang tua dalam mendidik seorang anak apalagi remaja sangat diperlukan terutama dalam penanaman nilai, dan norma yang harus diberikan sejak dini sehingga dapat mempengaruhi sikap, perbuatan mental seorang anak untuk dapat memilah mana hal yang perlu ditiru, dan mana hal yang tidak patut ditiru, yang pada intinya seorang anak dapat melihat mana yang baik dan mana yang tidak baik. 

Soalnya, apabila peran orang tua tidak maksimal sejak anak masih kecil, pada saat tumbuh menjadi seorang remaja pun tidak menutup kemungkinan seorang remaja berbuat hal yang melanggar aturan. Seperti banyak contoh yang terjadi, seorang remaja kedapatan sedang merokok, meminum-minuman keras, sampai sex bebas dilakukan tanpa rasa bersalah. Hal itu karena tidak adanya pengawasan orang tua, atau kurangnya perhatian dari orang tua.

Secara tioritis, sangat banyak faktor-faktor yang membuat remaja memasuki dunia pergaulan yang rusak. Biasanya hal ini berawal dari mereka berteman dengan teman yang membawa dampak buruk, karena masa remaja itu masa dimana keadaan psikis remaja bisa mudah terpengaruh. 

Kemudian, ada juga faktor yang berasal dari keluarga, karena kurangnya perhatian dari keluarga sehingga membuat anak menjadi royal dalam pergaulan. Selanjutnya faktor terpenting yang membuat remaja mudah terjerumus dipergaulan bebas karena kurangnya agama yang membentengi pikiran dan jiwa anak. Oleh karena itu, pendidikan dasar agama pada anak sangat diperlukan dalam kehidupan si anak. Berhasil atau tidak berhasilnya anak, kembali lagi pada peran keluarga dalam memberikan pendidikan agama dan pada diri anak sendiri.

Sebenarnya, perilaku ‘nakal’ remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal). Faktor internal, karena krisis identitas akibat perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan remaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedia.

Selain itu, bisa juga akibat kontrol diri yang lemah. Maksudnya, remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.

Sedangkan faktor eksternal masalah keluarga. Maksudnya terjadi perceraian orang tua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.

Kemudian bisa juga akibat pengaruh kawan sepermainan yang kurang baik, serta komunitas dari lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.

Ada beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan kenakalan remaja, seperti reaksi frustasi diri, gangguan berpikir dan intelegensia pada diri remaja, kurangnya kasih sayang orang tua dan keluarga, kurangnya pengawasan dari orang tua, dampak negatif dari perkembangan teknologi modern, dasar-dasar agama yang kurang, tidak adanya media penyalur bakat dan hobi, serta masalah masalah yang dipendam.

Sebenarnya menjaga sikap dan tindak tanduk positif itu tidak hanya tanggung jawab para guru dan keluarganya, tetapi semua orang. Untuk itu kini, mari kita bersatu membina remaja agara tidak terjerumus kelembah kehancuran. Kedepan kita berharap, tak ada lagi tawuran antar remaja, serta kebut-kebutan dijalan raya, sebagaimana yang dikeluhkan Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit. Semoga!!!. (Penulis wartawan tabloidbijak.com)


Berita Terkait :

 

Video

Foto

Kegiatan

  • Penerimaan Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM)

    • Rabu, 19 Desember 2018
    • Minggu, 30 Desember 2018
  • HASIL SELEKSI ADMINISTRASI PADA SELEKSI TERBUKA JABATAN PIMPINAN TINGG

    • Minggu, 01 April 2018
    • Senin, 02 April 2018
  • arsip kegiatan

Tokoh