Kota Padang Harus Bebas dari Sek Menyimpang dan Narkoba 


Post by Tenaga Artikel(Yal) | Posted on 02 Mei 2019 08:36:53 WIB | Artikel | 156 kali dibaca


SEBAGAI masyarakat Minang, yang katanya Adat Basandi Syarak dan Syarak Basandi Kitabullah,  so pasti siapa saja walikotanya di Kota Padang ini tentu selalu berkeinginan menjadikan kota bersih, baik dari sampah maupun sampah masyarakat alias pelacur. Bahkan, sebagai seorang walikota, tentu akan berupaya melakukan segala cara, agar nama kotanya punya nama baik dan tetap aman dan nyaman dan bebas sex menyimpang.  

Kemudian sang walikotanya  tentu akan mengajak masyarakat berperilaku baik, dengan cara membangun pusat-pusat keagamaan, dan melarang klub-klub malam sebagai ajang maksiat atau sex bebas. 

Tapi faktanya, di Kota Padang, kita masih menemukan klub-klub malam dengan istilah cafe di pusat ibukota provinsi ini. Bahkan, cafe-cafe di Kota Padang melegalkan semua yang biasa dilarang oleh agama, seperti pezinaan, minuman beralkhohol dan judi bilyars. 

Diakui, setiap manusia memang tidak pernah luput dari dosa dan  perbuatan jahat. Kenapa manusia berbuat jahat? Karena menusia ingin mendapatkan sesuatu menurut keinginannya, tanpa menghargai nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Dari kedua pertanyaan ini terlihat jelas siapa manusia yang sebenarnya.

Dirinya berdosa akibat keinginannya tanpa menghargai nilai kebaikkan dan kebenaran, atau dengan kata lain, semua yang jadi keinginannya yang jahat karena telah termotivasi oleh dorongan hawa nafsu dari setan. 

Jika disimak dari berita Kaskus TV dan Berita Unik.net, disebutkan kalau Pattaya di Thailand sebagai  surga seks ternyaman di dunia. Kenapa? Karena pertunjukan seks dan kabaret transeksual merupakan pemancing turis yang legal di kota yang terletak di pesisir Teluk Thailand, sebelah tenggara Bangkok ini. Bahkan, para turis tak harus menunggu malam jika ingin menghabiskan waktu dengan pelacur dan wanita penghibur. Yang hebatnya, semua wanita penghibur tersebut stanby 24 jam dan mudah dihubungi untuk diajak berkencan. Selain itu, ada juga para waria cantik jelita berada  di sepanjang jalur wisata.

Setelah Pattaya Thailand, Kota Mariyuana, Amsterdam, Belanda, yang memiliki puluhan kafe mariyuana, salah satu jenis obat-obatan terlarang. Mariyuana, rokok, dan sejenisnya memang legal di negeri kincir angin ini. Tidak ada aturan yang menyebutkan benda-benda itu harus digunakan dengan prosedur tertentu.

Kemudian, jika ingin berkencan dengan pelacur, cukup datangi distrik di salah satu bagian kota. Yang serunya di tempak esek-esek tersebut, selain bisa melihat dan memilih wanita yang diinginkan, bisa dilihat  dari jendela kaca. Kenapa? Karena para pelacur disana akan bergaya dengan atau tanpa busana bak boneka pajangan. 

Kebebasan sex, juga dinikmati para pecinta sesama jenis, alias guy. Yang hebatnya lagi, para pria   guy ini bisa dengan bebas mengikrarkan hubungan pernikahan sejenis tersebut, karena tak ada larangan untuk cinta semacam ini. Yang jelas, bagi mereka yang tak menyakini Tuhan, tidak ada yang mempersoalkan hal itu di Amsterdam, negeri Kincir Angin tersebut.

Selanjutnya Kota sex bebas lainnya, Kota Manama yang dikenal dengan Kota Pesta. Ada ungkapan Selamat Datang di Pesta Oasis Timur Tengah. Ungkapan itu yang bakal detemui begitu masuk atau tiba  di Manama, Bahrain, sebuah kawasan yang berdekatan dengan Arab Saudi. Kalau selama ini aturan Pemerintah Arab Saudi sangat ketat mengekang warga negara dan pengunjungnya, di Manama semua bisa dinegosiasikan.

Ingin clubbing seharian, atau berpesta seks? Di Manama sah-sah saja. Memang kota ini dikenal sebagai salah satu yang berpenduduk Muslim terbesar di kawasan padang pasir itu. Namun pada 2001 kota ini bersikap lebih liberal. Penduduknya juga mulai membuka mata terhadap pergaulan dunia Barat.

Kini terlepas dari kota-kota yang membebaskan sex dan minuman beralkhohol tersebut, Kota Padang haruslah kita jaga dan bela dari berbagai ajang kemaksiatan tersebut, Kenapa? Karena Kota Padang sebagai ibukota provinsi Sumatera Barat, mayoritas penduduknya beragama Islam dan beretniskan Minangkabau dari berbagai suku dan dari beberapa daerah tingkat dua.

Cara membebaskan Kota Padang dari ajang maksiat, selain perang ulama, tentu peran dari ninik mamak haruslah tegas dan tanpa ada kompromi dengan pemilik cafe dan penjualan minuman beralkhohol. Istilah Kota Padang akan menjadi kota mati bila tak ada cafe-cafe dan kebebasan menjual minuman beralkhoohol, adalah bahasa syetan yang tak perlu digubris dan diharaukan oleh penguasa di Kota Padang. Kenapa? Karena tak ada hasil survei atau kajian pakar dan ulama tentang masalah kota mati tersebut.

Yang jelas, setiap kota yang membiarkan perzinaan dan perjudian, di kota tersebut angka kriminalitas akan tinggi. Termasuk membiarkan pengedar  narkoba leluasa. 

Khusus sex, ada sepuluh kota di dunia yang telah dirangking. 1. Pattaya (Thailand), 2. Tijuana (Mexico), 3. Amsterdam (Belanda), 4. Las Vegas (Nevada), 5. Rio De Jenairo (Brasil), 6. Moscow (Rusia), 7. New Orleans (Lousiana), 8. Manama (Bahrain), 9. Macau (Cina) dan 10. Berlin (Jerman). 

Kita berharap, jangan sampai Kota Padang menempati rangking ke-11. Jika fakta ini terjadi, apa kata dunia. Kini mari kita bersepakat membebaskan Kota Padang dari sek menyimpang dan narkoba. Semoga. (Penulis wartawan tabloidbijak.com)


Berita Terkait :

 

Video

Foto

Kegiatan

  • Penerimaan Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM)

    • Rabu, 19 Desember 2018
    • Minggu, 30 Desember 2018
  • HASIL SELEKSI ADMINISTRASI PADA SELEKSI TERBUKA JABATAN PIMPINAN TINGG

    • Minggu, 01 April 2018
    • Senin, 02 April 2018
  • arsip kegiatan

Tokoh