Memanfaatkan Sampah untuk Pembangkit Listrik


Post by Tenaga Artikel(Yal) | Posted on 01 Mei 2019 08:36:10 WIB | Artikel | 107 kali dibaca


ADA hal perlu dikaji dan ditindak lanjuti tentang komentar Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arcandra Tahar di Padang, Sumatera Barat, Jumat, 22 Februari 2019 lalu, tentang sampah yang bisa dimanfaatkan sebagai potensi pembangkit listrik tenaga sampah. 

Berdasarkan berita harian Haluan Padang, Jumat, 22 Desember 2017 lalu, dikatakan sampah masyarakat di Kota Padang setiap harinya mencapai angka 500 ton yang diangkut dari 217 titik kontainer. Jika diotal, setiap bulannya sampah mencapai 15.000 ton yang terdiri dari sampah organik dan non organik.

Sementara Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arcandra Tahar yang dilansir Inilah.com, Jumat, 22 Februari 2019, menjelaskan, jika jumlah sampah perhari di Kota Padang telah mencapai 600 ton  perhari dan memiliki potensi pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) berkapasitas 5 Mega Watt (MW). 

Kemudian, Wamen Enerdi dan Sumber Daya Mineral, Archandra merinci. Katanya, kalau kebutuhan per rumah sekitar 1000 watt maka akan terbagi dalam jumlah banyak dari 5 MW tersebut.  Sedangkan mengenai tarif jual listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) tergantung dari jumlah volume atau besaran sampah yang dimiliki yang akan menentukan harga.

Tapi sayangnya, masalah potensi sampah tersebut masih akan dikaji dulu secara ilmiah. Jika kajian serta survei telah selesai maka akan dibantu oleh pemerintah pusat membangun PLTSa dan Kota Padang tak hanya menjadi daerah pembangkit tenaga listrik dari sampah, tapi juga kian memperkuat kebersihan Kota Padang, sehingga mengundang turis untuk pergi melancong.

Kini terlepaslah dari kemungkinan pemanfaatan sampah bisa menjadi pembangkit teaga listrik, yang jelas Kota Padang haruslah bersih dan bebas dari sampah, termasuk sampah masyarakat yang identik dengan pelacur atau wanita penghibur. 

Khusus sampah oraganik, Pemko Padang melalui Dinas Kersihan dan Lingkungan, mau tak mau harus lebih serius membersihkan lingkungan masyarakat dari sampah. Soalnya, DInas Kebersihan dan Lingkungan Kota Padang tersebut, katanya  punya karyawan atau pegawai  lebih kurang 700-an anggota, termasuk yang berstatus honorer. Jadi sangat aneh dan lucu kalau Kota Padang tak bebas dari sampah.

Sebagai Kota Peraih Piala Adipura, 2018, Kota Padang mau tak mau harus lebih serius membersihkan lingkungan masyarakat dan pasar. Caranya tentu dengan mengajak partisipasi masyarakat melalui RT, RW dan Kepala Kelurahan. Bila perlu, adakan lomba kebersihan tingkat RT, RW dan Kelurahan. Kemudian, Kelurahan yang tak beban dari sampah, alias tak bersih, copot jabatan lurahnya. 

Khusus partispasi masyarakat, memang harus ditumbuhkan kembali partisipasi masyarakat sebagaimana dilakukan mantan Walikota Padang Syahrul Ujud yang mengajak dan melibatkan tokoh masyarakat untuk membersihakan lingkungannya. 

Diakui, Walikota Padang, Mahyeldi Ansyarullah, setiap melihat sampah, tak segan-segan memungutnya. Bahkan foto sang walikota memungut sampah tersebut viral di media sosial face book dan whatsApp. Tapi sayangnya, keseriusan Walikota Padang itu tak diikuti oleh Kepala DInas Kebersihan dan Lingkungan dan pegawai lainya. 

Kedepan, tentu kita berharap kepada Walikota Padang untuk lebih serius untuk membersihakan Kota Padang dari sampah organik. Begitu juga dengan aliran sungai Bandabakali, yang jika hari hujan dan air banjir, maka Bandabakali akan dipenuhi sampah, sehingga merusak pandangan mata. 

Begitu juga dengan sampah masyarakat yang identik dengan wanita malam atau wanita penghibur. Maksudnya, Kota Padang juga harus bebas dari sampah masyarakat dengan segala bentuk maksiat perzinaan.  Selain mengatakan Kota Padang No Drug, juga No Zina. Semoga. (penulis wartawan tabloidbijak.com)


Berita Terkait :

 

Video

Foto

Kegiatan

  • Penerimaan Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM)

    • Rabu, 19 Desember 2018
    • Minggu, 30 Desember 2018
  • HASIL SELEKSI ADMINISTRASI PADA SELEKSI TERBUKA JABATAN PIMPINAN TINGG

    • Minggu, 01 April 2018
    • Senin, 02 April 2018
  • arsip kegiatan

Tokoh