Sejarah singkat Taman Budaya Sumatera Barat


Post by Dinas kebudayaan dan pariwisata(Dinas kebudayaan dan pariwisata) | Posted on 25 Oktober 2012 09:10:42 WIB | wisata budaya | 5385 kali dibaca


Selaku unit teknis di bidang kebudayaan, Taman Budaya juga berfungsi antara lain melaksanakan pengolahan seni sebagai unsur budaya di provinsi dan melaksanakan kegiatan pengolahan dan eksperimen karya seni, serta tugas - tugas lainnya.

Taman Budaya Provinsi Sumatera Barada di pusat kota Padang, tepat di jalan Diponegoro nomor 31 Padang Sumatera Barat, sebelah barat berbatasan dengan jalan Samudera di pinggir Pantai Padang, salah satu tempat wisata terkenal di Sumatera Barat, sebelah timur dibatasi oleh jalan Diponegoro yang berhadapan dengan Pengadilan Tata Usaha Negara dan Museum ' Nagari ' Sumatera Barat, bagian utara berbatasan dengan komplek asrama TNI dan komplek pertokoan, sedangkan di sebelah selatan dibatasi oleh jalan Pancasila, bersebberangan dengan kampus Hukum Universitas Andalas. Dulunya area seluas lebih kurang 2 Ha tersebut dimanfaatkan sebagai sarana olahraga, khususnya bola kaki yang dikenal dengan Lapangan Diponegoro.

Pada tahun 2972 Pemerintah Daerah Tingkat II Kotamadya Padang memanfaatkan area tersebut sebagai lokasi Padang Fair yang dirancang sebagai ajang promosi dagang dan industri tahunan dimanfaatkan pula untuk menampilkan berbagai macam atraksi kesenian, baik modern maupun tradisi. Tumbuhnya tempat itu menjadi fasilitas kesenian di Padang sangat menggembirakan. Beberapa seniman dan budayawan Sumatera Barat agar menjadi Pusat Kesenian Padang. Upaya tersebut di dukung pula oleh para seniman seperti BHR Tanjung ( dramawan ) dan Arby Samah ( perupa).  Juga para seniman muda yang mulai mempergunakan are tersebut untuk proses berkesenian. Tahun 1975 Pemerintah Daerah Tingkat II Kotamadya Padang sepakat untuk untuk mendirikan Pusat Kesenian Padang ( PKP ) di areal dan bangunan yang sebelumnya digunakan untuk Padang Fair. Lembaga ini diketua oleh Mursal Esten adalah guru besar Universitas Negeri Padang ( dulu IKIP Padang ) di bidang sastra Indonesia.

Hadirnya Taman Budaya berawal dari strategi pembangunan kebudayaan nasional yang diarahkan kepada pembinaan dan pengembangan kesenian sebagai ungkapan budaya bangsa, yang diusahakan agar mampu menampung, menumbuhkan daya cipta para seniman, memperkuat jati diri bangsa, meningkatnya apresiasi dan kreatifitas seni masyarakat, meperluas kesempatan masyarakat untuk menikmati seni budaya bangsa serta memberi inspirasi dan gairah dalam membangun.Kesenian perlu digali, dibina, dikembangkan dan dilestarikan untuk memperkaya keanekaragaman budaya bangsa.

Untuk mencapai sasaran ini diperlukan suatu lembaga yang mengurus kesenian, seniman dan penikmat seni. Lahirlah Taman Budaya di provinsi-provinsi di Indonesia dengan dasar pendirian antara lain: Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor : 0276/0/1978 tanggal 1 April 1978 tentang Tugas dan Fungsi Taman Budaya , dan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 0221/0 /1991 tanggal 23 April tentang penyempurnaan struktur organisasi kantor/satuan kerja.

Pada waktu pembentukannya Taman Buaya Sumatera Barat ( lebih dikenal dengan nama Taman Budaya Padang ), sebagaimana halnya Taman Budaya lainnya di Indonesia, menajdi Unit Pelaksana Teknis Kebudayaan, dibawah Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia, Taman Budaya Sumatera Barat mengemban tugas utama untuk melaksanakan pengembangan kebudayaan daerah di provinsi.

Sejalan dengan bergulirnya otonomi daerah, pengelolaan Taman Budaya diserahkan kepada Pemerintah Daerah ( Provinsi ) masing-masing. Dari posisinya unit pelaksana teknis pusat berubah menajdi unit Pelaksana Teknis Daerah. Taman Budaya Sumatera Barat merupakan salah satu unit pelaksana teknis daerah ( UPTD ) dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Barat. Saat ini Taman Budaya Sumatera Barat tetap eksis dan telah mendorong terciptanya iklim berkesenian yang kondusif. Berlangsungnya hal ini tercipta tidak terlepas dai dukungan dari berbagai pihak ( masyarakat seni dan Pemerintah ), serta ditunjang oleh prasarana yang memadai seperti gedung pertunjukan dan galeri seni rupa yang representatif.

Semoga dimasa yang akan datang, iklim ini akan tetap terjaga dan keberadaan Taman Budaya Sumatera Barat akan lebih bermakna dalam kreatifitas dan inovasi seni budaya di Sumatera Barat serta dapat berkembang sesuai dengan kemajuan zaman.


Berita Terkait :

 

Video

Foto

Kegiatan

  • Penerimaan Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM)

    • Rabu, 19 Desember 2018
    • Minggu, 30 Desember 2018
  • HASIL SELEKSI ADMINISTRASI PADA SELEKSI TERBUKA JABATAN PIMPINAN TINGG

    • Minggu, 01 April 2018
    • Senin, 02 April 2018
  • arsip kegiatan

Tokoh