Ada Pesan Tersirat Dalam Kemegahan Arsitektur Masjid Raya Sumbar


Post by Diskominfo(Desi Marlinda) | Posted on 15 Maret 2019 10:30:57 WIB | Berita Terkini | 494 kali dibaca


Ada Pesan Tersirat Dalam Kemegahan Arsitektur Masjid Raya Sumbar

Padang, InfoPublik - Foto dan video kemegahan Masjid Raya Sumatra Barat (Sumbar) kerap berseliweran di media sosial, facebook, twitter apalagi pada instagram yang secara fungsi lebih mengutamakan konten foto ataupun video.

Hanya dengan mengetik #masjidrayasumbar akan muncul keindahan masjid megah ini dari segala sisi. Bagi pelaku pariwisata, bisa jadi ini sebuah pencapaian tersendiri. Kunjungan wisatawan ke Sumbar pun tidak pernah sepi. Tidak hanya didatangi kaum millennial, kalangan purnabakti (pensiunan, red) pun seakan tidak ingin ketinggalan. 

Bagi sejumlah wisatawan, barangkali muncul pertanyaan kenapa atap Masjid Raya Sumbar tidak berbentuk kubah layaknya sebuah masjid di Minangkabau. Menjawab rasa penasaran tersebut, Rizal Muslimin menjelaskan sisi arsitektur maupun landasan filosofis yang digunakan dalam merancang masjid ini. 

Secara kasat mata, sekilas dapat dikatakan bahwa arsitektur masjid merupakan perpaduan antara masjid secara umum, dengan Rumah Gadang Minangkabau. Tentu ini hanya opini, namun jika dilihat dari sudut pandang budaya, arsitektur masjid yang sedemikian rupa tentunya memiliki harapan tersendiri bagi urang awak (masyarakat Minangkabau, red).

Ditelaah dari perspektif budaya, surau (masjid) di Minangkabau tidak hanya sebagai rumah ibadah. Semua kegiatan kemasyarakatan, sosial budaya dan lainnya jamak diadakan di surau. Dengan kata lain surau merupakan rumah ibadah, sekaligus menjadi tempat diskusi bagi semua lapisan masyarakat dari segala latar belakang pendidikan, usia maupun status sosial yang disandang.

Landasan utamanya yaitu falsafah hidup Minangkabau “Adaik Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah,” yang jika diartikan secara harfiah maknanya adat berdasarkan agama, agama berdasarkan kitab Allah SWT. Singkat kata budaya Minangkabau berlandaskan kepada agama Islam dan senantiasa berjalan beriringan di Bumi Minangkabau. 

Tak bisa dipungkiri, jika saat ini falsafah tersebut kadang berbenturan dengan tingkah laku generasi muda, apalagi dalam kaitannya dengan Masjid Raya Sumbar. Sebagian kalangan masih menjadikan masjid yang mampu menampung 6.000 orang jemaah ini hanya sebatas area selfie dan aktivitas kepariwisataan lainnya, alangkah mirisnya jika hal ini terjadi pada anak kemenakan kita.

Salah seorang jemaah, Yopi Riska (38th) yang dijumpai di Pelataran Mesjid Raya Sumbar, Selasa (12/3) menuturkan, “Urang kamari cuma untuak bapoto tu nan ambo sayangkan, alah ka musajik tapi untuk itu se nyoh, banyak hal positif nan bisa nyo pabuek disiko, tapi ba a lah,” (banyak yang datang ke masjid ini cuma untuk mengambil foto, sangat disayangkan)," ujarnya.

Hal ini tentu manjadi tantangan bagi masyarakat Sumbar, bagaimana menjadikan mesjid dapat memberi manfaat lebih bagi pengunjung kedepannya.

Rizal muslimin telah memulainya dengan desain arsitektur yang cukup fenomenal, tinggal masyarakat dan aparatur pemerintahan untuk saling bersinergi mencarikan solusi terbaik.

Harapannya siapa pun yang datang ke Masjid Raya Sumbar, akan memperoleh nilai tambah yang lebih dari sekadar berfoto. Jadikan masyarakat Minangkabau seperti layaknya arsitektur masjid yang kokoh dan tidak mudah terbawa arus kekinian, dalam konteks agama dan budaya tentunya.* (ISC/ MMC Diskominfo) 


Berita Terkait :

 

Video

Foto

Kegiatan

  • Penerimaan Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM)

    • Rabu, 19 Desember 2018
    • Minggu, 30 Desember 2018
  • HASIL SELEKSI ADMINISTRASI PADA SELEKSI TERBUKA JABATAN PIMPINAN TINGG

    • Minggu, 01 April 2018
    • Senin, 02 April 2018
  • arsip kegiatan

Tokoh