Bimbingan Sosial bagi ODHA 2018


Post by Dinas Sosial(ARNES BASRI, S.Kom) | Posted on 06 Juli 2018 07:47:04 WIB | Aplikasi Program Sosial | 89 kali dibaca


Bimbingan Sosial bagi ODHA 2018

Bimbingan Sosial bagi Orang dengan HIV AIDS Tahun 2018

Padang. Dinas Sosial melalui Bidang Rehabilitasi Sosial menyelenggarakan Bimbingan Sosial bagi Orang Dengan HIV AIDS Tahun 2018 pada tanggal 8 s.d 10 Mei 2018 yang bertempat di Imelda Hotel Padang. Kegiatan ini berasal dari 4 Kab/Kota di Sumatera Barat berjumlah 30 orang beserta pendamping dari masing-masing Kab/Kota.

Masalah Bagi ODHA adalah permasalahan yang cukup kompleks dan merupakan permasalahan yang sangat krusial, mengingat dampak yang ditimbulkan tidak hanya oleh korban individu itu sendiri baik secara medis, sosial, psikologis maupun ekonomis akibat trauma yang dialaminya tetapi juga membawa dampak terhadap keluarga dan lingkungan sosialnya bahkan menjadi masalah nasional dan internasional, karena terkait dengan isu global tentang Hak Azazi Manusia (HAM).  ODHA merupakan penyandang masalah sosial yang rumit sehingga memerlukan bantuan sosial dengan pendekatan penanganan yang komprehensif dan memerlukan perhatian dari semua pihak baik instansi pemerintah maupun swasta termasuk dunia usaha

Jumlah penderita HIV/AIDS di Sumatera Barat sudah sangat mengkawatirkan angkanya, bahkan sangat fantastis mencapai 1.192 orang yang tersebar seluruh kabupaten/kota pada tahun 2016.

Jumlah tersebut masih angka kumulatif yang dihimpun Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sumbar serta usia yang sangat rawan dan rentan terkena penyakit Human Immunodeficiency virus berkisar 15 sampai 19 tahun.

 “Jumlah tersebut merupakan angka yang sangat mengkhawatirkan dan kasusnya ditemukan di kabupaten dan kota di Sumbar,"

Menurutnya, penderita HIV/AIDS atau penyumbang terbanyak itu berasal dari masyarakat yang terlibat hubungan homoseksual atau penyuka sesama jenis, yakni antara laki-laki dengan laki-laki

Disamping hal tersebut diatas pengaruh budaya setempat sangat berperan, dimana Bagi ODHA tidak mau membuka diri terhadap lingkungan maupun pemerintah dengan alasan rasa malu yang masih sangat melekat, sehingga mempersulit untuk mengadvokasi kasus-kasus penganiayaan yang dilakukan oleh orang-orang (suami) korban. Hal ini membuat petugas dilapangan agak kesulitan untuk mendapatkan informasi yang sebenarnya, sehingga data yang ada realitanya dilapangan jauh lebih tinggi.


Berita Terkait :

 

Video

Foto

Kegiatan

  • HASIL SELEKSI ADMINISTRASI PADA SELEKSI TERBUKA JABATAN PIMPINAN TINGG

    • Minggu, 01 April 2018
    • Senin, 02 April 2018
  • Penyerahan Hasil Pengawasan Kearsipan Eksternal (LAKE) oleh ANRI ke Le

    • Kamis, 14 Desember 2017
    • Kamis, 14 Desember 2017
  • arsip kegiatan

Tokoh