Ketika Kenaikan Bunga Tidak Cukup


Post by Erwinfs(Erwinfs) | Posted on 31 Mei 2018 19:53:18 WIB | Artikel | 115 kali dibaca


Ketika Kenaikan Bunga Tidak Cukup

Harian Kontan edisi 31 Mei 2018 dalam hedalinenya menulis berita dengan judul, “Kenaikan Bunga Saja Tidak Cukup”. Kontan menulis bahwa ternyata kebijakan yang diambil BI dalam menaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,75% baru cukup untuk mempengaruhi kurs rupiah terhadap dolar AS. 

Pada saat yang tidak lama, indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami pelemahan. Dugaan akibat rendahnya suku bunga dihubungkan dengan melemahnya IHSG juga dikaitkan dengan kebijakan menaikkan suku bunga acuan. Padahal turunnya IHSG adalah dinamika yang biasa terjadi di pasar modal. 

Kebijakan menaikan suku bunga yang dianggap efektif meredam pelemahan rupiah ini dalam jangka Panjang kemungkinan akan melemahkan pertumbuhan ekonomi, karena artinya kredit sulit diserap oleh masyarakat. Sehingga pergerakan ekonomi kemungkinan melambat. 

Di sisi lain, pemerintah nampaknya mampu mengendalikan inflasi sehingga angkanya berada di bawah 5%. Jika inflasi bisa rendah, maka seharusnya ekonomi bisa bergerak lebih baik. Jika ekonomi sulit bergerak, maka perusahaan-perusahaan yang sudah go public pun yang usaha mereka juga butuh pergerakan ekonomi akhirnya malah menyebabkan harga sahamnya turun. Meskipun turunnya harga saham di bursa bisa disebabkan oleh berbagai sebab. 

Namun di sisi lain, kenaikan suku bunga acuan akan meningkatkan minat investor menanamkan dananya di dalam negeri. Karena sebelumnya pihak asing telah membawa dananya keluar akibat suku bunga yang rendah dan juga menjual saham yang dimilikinya di bursa untuk digunakan di luar negeri di tempat yang bisa memberikan keuntungan lebih baik. 

Predikis BI akan inflasi yang mencapai angka 3,6% di satu sisi memberikan kabar baik. Namun jika melihat kenaikan harga BBM dan listrik tampaknya perlu dilakukan kebijakan yang mendukung daya beli masyarakat. Saat ini harga BBM dan listrik sudah mirip dengan laju kurs rupiah, di mana laju harga BBM dan listrik cenderung naik dan bisa terjadi dalam beberapa kali setahun. Sedangkan kurs rupiah bisa menguat dan melemah. 

Jika melihat terjadinya krisis di Italia, kenaikan suku bunga acuan ini patut diapresiasi karena negara-negara Eropa sendiri sudah melakukan antisipasi menghadapi krisis Italia. Dengan sistem makroekonomi terbuka yang diterapkan Indonesia, antisipasi krisis Italia seharusnya memang dilakukan pula dengan hati-hati. Krisis politik dan ekonomi di Italia sedikit memberikan kabar kurang baik terhadap ekonomi negara sekitarnya, dan juga menjadi perhatian negara-negara lain di dunia, termasuk Indonesia. 

Dengan kondisi ekonomi yang bisa dibilang cukup baik, kebijakan menaikan suku bunga, pengendalian inflasi, menguatkan daya beli, antisipasi krisis, perlu tetap memperhatikan manusia sebagai faktor produksi utama dalam kerangka teori ekonomi mikro. Karena kebijakan memperhatikan manusia ini juga merupakan penekanan yang dilakukan oleh pemerintah pusat setelah sebelumnya penekanan dilakukan kepada pembangunan infrastruktur. 

(efs)

Referensi: Harian Kontan, 31 Mei 2018

ilustrasi: freefoto.com


Berita Terkait :

 

Video

Foto

Kegiatan

  • HASIL SELEKSI ADMINISTRASI PADA SELEKSI TERBUKA JABATAN PIMPINAN TINGG

    • Minggu, 01 April 2018
    • Senin, 02 April 2018
  • Penyerahan Hasil Pengawasan Kearsipan Eksternal (LAKE) oleh ANRI ke Le

    • Kamis, 14 Desember 2017
    • Kamis, 14 Desember 2017
  • arsip kegiatan

Tokoh