Ketika Inggris Makin Peduli dengan Warganya


Post by Erwinfs(Erwinfs) | Posted on 11 Maret 2018 21:41:02 WIB | Artikel | 575 kali dibaca


Ketika Inggris Makin Peduli dengan Warganya

Perdana Menteri Inggris Theresa May telah menunjuk Tracy Crouch yang menjabat Menteri Olahraga dan Komunitas Sipil menjadi Menteri Kesepian. Berdasarkan sebuah laporan, 9 juta orang yang hidup di Inggris selalu merasa kesepian. Hal ini akan berakibat kepada masalah kesehatan, di antaranya jatuh sakit. Kemungkinan mati 26 persen lebih cepat. Jika menderita flu, akan cepat bertambah parah. Kemampuan tubuh melawan infeksi virus pun berkurang. Demikian beberapa hasil studi.

Sekitar 2 juta warga Inggris telah berusia sedikitnya 75 tahun, dan mereka tinggal sendirian. Untuk itu, langkah PM Inggris adalah sebuah kebijakan yang benar. Dan ini menunjukkan negara hadir di saat warganya butuh bantuan.

Bagimana dengan Indonesia? Memang tidak bisa dibandingkan. Karena Inggris negara maju dengan jumlah penduduk tidak sebesar Indonesia. Wilayahnya pun tidak seluas Indonesia. Inggris adalah negara maju. Di mana modernisasi mengakibatkan individu merasa kesepian akibat tingginya individualisme. Sedangkan Indonesia adalah negara berkembang di mana masyarakatnya masih memiliki rantai keluarga besar. Sehingga belum dilanda kesepian yang parah seperti halnya di Inggris.

Bagi PM Inggris, kesepian adalah kenyataan yang menyedihkan dalam kehidupan modern. Maka di sini bisa diambil kesimpulan bahwa untuk disebut maju sebagai sebuah bangsa dan negara, janganlah sampai menjadikan warga negara kesepian atau individualisme semakin meningkat. Kemajuan yang utama justru bagaimana masyarakat hidupnya nyaman dan damai, serta aman. Hubungan antara warga dalam lingkungan RT haruslah tetap dijalin. Jangan mau hidup sendiri-sendiri saja.

Hubungan keluarga besar yang ada di Indonesia merupakan sebuah anugerah. Karena ini akan menghindarkan seseorang dari hidup kesepian. Hubungan keluarga besar juga yang menyelamatkan Indonesia dari krisis ekonomi tahun 1997-1998. Karena ketika seorang mengalami nasib buruk pada waktu itu, ia masih ada saudaranya yang lain untuk diminta bantuan. Berbeda dengan negara-negara yang sudah keluarga kecil atau keluarga inti, ketika krisis terjadi kehidupan mereka semakin buruk.  

Maka, jika melihat apa yang terjadi di Inggris, sudah sepantasnya kita yang hidup di Indonesia banyak bersyukur. Karena tidak mengalami hal demikian. Dan ketika orangtua kita semakin lanjut umurnya masih ada anak-anaknya yang menemani hidupnya atau dari keluarganya yang lain.

Dan di sini juga kita melihat bahwa rezeki itu tidak hanya berupa materi, tetapi adanya orang-orang yang menemani orangtua kita atau mungkin juga kita kelak ketika usia makin lanjut.

 

Referensi: Kompas Online (kompas.com), 23 Januari 2018.

ilustrasi: freefoto.com


Berita Terkait :

 

Video

Foto

Kegiatan

  • Penerimaan Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM)

    • Rabu, 19 Desember 2018
    • Minggu, 30 Desember 2018
  • HASIL SELEKSI ADMINISTRASI PADA SELEKSI TERBUKA JABATAN PIMPINAN TINGG

    • Minggu, 01 April 2018
    • Senin, 02 April 2018
  • arsip kegiatan

Tokoh