HIKMAH ADANYA OJEK ONLINE DI PADANG


Post by Tenaga Artikel(Zakiah) | Posted on 05 Januari 2018 15:07:39 WIB | Artikel | 53 kali dibaca


Anda pernah bingung mau pergi ke suatu tempat, ternyata kendaraan dirumah tidak ada?Lalu mencoba pesan melalui aplikasi ojek online di Smartphone. Nah, rupanya hal ini tidak hanya ditemui di Jakarta, atau Kota besar lainnya di Indonesia. Kota Padang sebagai Ibukota Provinsi Sumatera Barat juga sudah menjamur keberadaan Gojek atau ojek online ini.Bagaimanakah asal usulnya?

Ojek online adalah transportasi umum informal di Indonesia yang berupa sepeda motor. Disebut informal karena keberadaannya tidak diakui pemerintah dan tidak ada izin untuk pengoperasiannya. Penumpang biasanya berjumlah satu orang. Dengan harga yang ditentukan melalui aplikasi online, dan tanpa tawar menawar dengan supir ojek terlebih dahulu, maka supir ojek tersebut akan mengantar ke tujuan yang diinginkan penumpangnya.

Seperti informasi di Wikipedia.org: GO-JEK dirintis oleh Nadiem Makarim. Ia kuliah di Brown University, sebuah kampus di Rhode Island, Amerika Serikat. Tak berhenti sampai di situ, ia melanjutkan kuliah pasca sarjana di Harvard Business School dan meraih gelar Master of Business Administration.Kembali ke Indonesia, Nadiem sempat bekerja sebagai konsultan sebelum mendirikan GO-JEK. Ia pernah mengaku memang gemar menggunakan layanan ojek untuk menembus kemacetan Jakarta.Terbersit di pikirannya untuk memudahkan penumpang dan pengojek terhubung dengan aplikasi smartphone. Dan lahirlah aplikasi GO-JEK. Menurutnya, GO-JEK punya tujuan mendorong perubahan agar sektor transformasi sektor informal seperti ojek, agar yang tadinya bekerja serabutan dengan pendapatan yang tidak menentu bisa beroperasi secara profesional dengan pendapatan lebih baik.Ia mengetahui bahwa waktu luang tukang ojek banyak digunakan hanya untuk duduk menunggu penumpang datang. Sungguh sangat disayangkan jika banyak waktu yang terbuang percuma hanya untuk menunggu seorang penumpang. Maka dari itu Nadiem mulai berfikir dan memutuskan untuk membuat sebuah aplikasi seperti media sosial, yang bisa digunakan oleh tukang ojek untuk memudahkan pelanggannya melakukan pemesanan secara online. Pada tahun 2011 Nadiem berhasil membuat sebuah perusahaan dan aplikasi online bernama Go-Jek. Biaya yang dikeluarkan untuk mendapat layanan ini juga tergolong murah. Untuk jarak 1 – 10 km, dikenakan biaya sekitar Rp. 12.000, jarak 11 – 15 km Rp. 15.000, dan jarak di atas 15 km dikenakan biaya Rp. 2.000/km.

Sekarang ini,GO-JEK merupakan sebuah perusahaan teknologi asal Indonesia yang melayani angkutan melalui jasa ojek. Dan Layanan GO-JEK tersedia di beberapa kota besar di Indonesia diantaranya : Jabodetabek, Bali, Bandung, Surabaya, Makassar, Medan, Palembang, Semarang, Solo, Malang, Yogyakarta, Balikpapan, Manado, Bandar Lampung, Padang, Pekanbaru dan Batam. Hingga bulan Juni 2016,kabarnya aplikasi GO-JEK sudah diunduh sebanyak hampir 10 juta kali di Google Play pada sistem operasi Android, juga ada untuk iOS, di App Store.

Banyaknya pesanan ojek berbasis online tentunya menimbulkan dampak positif dan negatif. Warga Kota Padang yang membutuhkan angkutan cepat menembus kemacetan tentu saja sangat terbantu dengan keberadaan ojek online.

Berikut dampak positif dan negatifnya keberadaan ojek online di Padang selama ini:
1. Mempermudah transportasi masyarakat yang membutuhkan.
Sebagian besar pengguna jasa ojek online mengaku dimudahkan dengan layanan jemput di lokasi. Mereka tidak perlu repot-repot mencari pangkalan ojek lagi. Cukup memesan layanan melalui layar smartphone (handphonenya), pengemudi ojek online siap menjemput dan mengantar ke tempat yang dituju.


2. Menghemat ongkos
Adanya promosi yang dibuat oleh para perusahaan ojek online membawa keuntungan pada konsumen.Seperti Go-Jek. Dengan memberi promo tarif flat, keduanya memanjakan konsumennya dengan tarif flat sekitar Rp 5.000 hingga Rp 15.000 dalam jarak km tertentu.
"Saya biasanya kalau ke kantor naik ojek yang dekat rumah, tapi sekarang lebih nyaman naik ojek online. Lebih murah soalnya, bisa hemat berapa ribu, lumayan," kata seorang konsumen, seorang karyawan yang berkantor di Padang.


3. Membuka lapangan kerja
Pendapatan ojek online yang lumayan dibandingkan ojek pangkalan, cukup menggiurkan. Ojek pangkalan yang melihat peluang ini memilih bergabung dengan ojek online.
Bahkan, ketika gembar-gembor pendapatan dari ojek online hingga puluhan juta sebulannya, beberapa pegawai swasta tertarik bergabung sebagai pekerjaan sampingan.
Bahkan, ada yang rela meninggalkan pekerjaannya sebagai karyawan sebuah perusahaan, karena tergiur dengan pendapatan yang lumayan besar.
Seperti pengojek Go-Jek, Amin (26) . Sejak bergabung dengan Go-Jek, awal tahun 2017 lalu, pendapatan terbesar Amin dalam sebulan bisa mencapai Rp 5 juta.

Menambah Kemacetan
Meski mengklaim diri berbeda dengan ojek pangkalan, kenyataan di lapangan, pengojek online tetap membuat beberapa pangkalan atau memang mangkal di sebuah tempat sambil menunggu order dari konsumen. Tidak jarang, trotoar hingga badan jalan jadi tempat mangkal pengojek online.Salah satu tempat favorit untuk mangkal para pengojek online adalah di depan Mall dan Plaza atau di apartemen dan perumahan.


5. Konflik dengan ojek pangkalan
Dinamika antara pengojek online dengan pengojek pangkalan yang lebih "senior" beberapa kali terjadi. Dengan layanan ojek online yang tampak lebih laku, pengojek pangkalan merasa terintimidasi. Kadang di pintu masuk perumahan saja, ada papan pengumuman yang mengatasnamakan komunitas ojek pangkalan di sana menolak Go-Jek. Konflik pengojek online dan pengojek pangkalan tidak berlangsung lama. Kini, kebanyakan pengojek pangkalan sudah mau bergabung dengan perusahaan ojek online.Mereka yang masih bertahan sebagai pengojek pangkalan, sudah bisa menerima keberadaan pengojek online yang dianggap memiliki konsumen berbeda.

Kesimpulannya, kita melihat bahwa dampak positif hadirnya Ojek Online ini adalah masyarakat mendapat layanan ojek lebih mudah, murah, dan cepat. Perusahaan Ojek Online juga membuka lapangan kerja untuk masyarakat, sehingga masyarakat bisa mendapat penghasilan lebih. Sementara dampak negatif dari hadirnya Ojek Online adalah bagi para Ojek Konvensional, layanan ini membuat penghasilan mereka lebih sedikit.

            Solusi untuk menangani dampak negatif tersebut adalah, bagi masyarakat, sebaiknya tidak selalu menggunakan Ojek Online agar bisa membagi rezeki untuk Ojek Konvensional. Bagi para pengemudi Ojek Konvensional, sebaiknya memiliki kemauan untuk mengikuti teknologi pada zaman ini. Sehingga bisa ikut bekerja dengan perusahaan Ojek Online dan menggunakan gadget selama bekerja.


Berita Terkait :

 

Video

Foto

Kegiatan

  • HASIL SELEKSI ADMINISTRASI PADA SELEKSI TERBUKA JABATAN PIMPINAN TINGG

    • Minggu, 01 April 2018
    • Senin, 02 April 2018
  • Penyerahan Hasil Pengawasan Kearsipan Eksternal (LAKE) oleh ANRI ke Le

    • Kamis, 14 Desember 2017
    • Kamis, 14 Desember 2017
  • arsip kegiatan

Tokoh